Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
sembilan. tidak ada harapan


__ADS_3

Ananta selalu terlihat lesu sejak hari itu. Tentu saja, bisa dibilang cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan sampai-sampai membuatnya kecewa dan tidak peduli apapun di sekitarnya. Aku yang awalnya ingin membencinya saja menjadi sedikit berempati dan sedikit demi sedikit tetap mengajaknya bicara.


Sesekali aku melempar pandangan ke arahnya, meski dia tidak memperhatikanku sama sekali. Suasana suram menyelimutinya kemana pun dia pergi.


"Ananta. mau makan apa nanti malam biar aku minta ibu buatkan." ucapku. Dia belum bilang apa nanti malam bisa datang atau tidak. Tapi kalau dia menjawab itu artinya dia pasti datang.


"tidak ada." jawabnya singkat. Kenapa sih susah sekali menghiburnya. Aku menoleh ke arah jendela mencari penghiburan untuk diriku sendiri. Aku lelah menghadapi Ananta yang badmood sepanjang hari.


Tapi mata ku membola saat melihat orang yang mencurigakan berdiri di sana. Kepalanya melongok ke dalam kelas kami seolah sedang mencari sesuatu. Itu, dia? Tiba-tiba aku cemas. Aku takut Ananta akan marah padaku lagi. Huft, kenapa aku hobi sekali melakukan hal-hal yang membuatku di posisi sulit. Kemarin aku mencari informasi tentang bu Lita , membuat Ananta kesal karena informasi dariku, sekarang aku akan melibatkannya pada sesuatu yang sangat dia benci. Orang baru.


“Hei, aku mencari seseorang bernama Ananta.” Panggil seseorang yang berdiri di depan kelas kami dengan canggung, ‘orang itu. dia benar-benar mencariku’ batinku. Seorang teman menghampiri Ananta, memberitahu pesan dari orang itu.


Ananta bangkit dan menghampirinya. Masih dengan raut yang menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan ekspresinya akan seperti apa kalau dia lebih marah dari ini.


“Aku Ananta” jawab Ananta. Kenta mengulurkan tangannya, mencoba berkenalan. Mereka saling berbicara. Tapi pembicaraan mereka tidak terdengar sama sekali dari tempatku duduk. Menyebalkan. Padahal aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Terlebih, dia itu sebenarnya tamuku. orang itu mencari ku.


Dia adalah orang kutemui di dalam game yang baru saja aku mainkan. Beberapa hari yang lalu aku frustasi karena tingkah laku Ananta yang aneh dan berubah menjadi sangat menyebalkan. Aku melampiaskannya dengan bermain game online, tapi tanpa kuduga seseorang justru tertarik denganku.


Katanya dia menyukai cara bermainku, sampai-sampai ingin mengenalku lebih dekat sebagai teman di dunia nyata. Aku pikir dia hanya orang aneh yang suka bermain game.


Karena enggan dan tidak menemukan alasan untuk menolak, aku memakai nama Ananta untuk berkenalan. Aku tidak tahu orang itu benar-benar mencarinya. Aku terlalu menganggap enteng saat dia bilang ingin bertemu langsung dan sekarang dia disini, bicara dengan Ananta yang sesekali melirik dengan sadis ke arahku. Yah, aku tidak bisa merubah hal yang sedang terjadi, jadi aku hanya bisa pasrah menerima kalau Ananta marah padaku nanti.

__ADS_1


Setelah perbincangan yang cukup panjang itu, Ananta pergi menghampiriku. Aku tahu, dia pasti marah.


BUKK!!


Aku mengaduh. Dia memukulkan buku tebal ke kepalaku. “sakit” rengek ku.


“Awas saja kalau kau memakai namaku untuk hal seperti ini lagi” ucapnya marah. Aku juga tidak tahu kalau ini akan terjadi tahu.


“aku kan sudah minta maaf kemarin” ucapku meminta pengampunan. Ananta menjawab dengan ekspresi kesalnya.


"tetap saja ini salahmu" marah Ananta. Aku tahu itu salahku, tapi harusnya kamu bersikap lebih lembut kepada perempuan. Huft.


"tentang identitasku sebagai milli. tolong rahasiakan ya... kamu tidak akan rugi kok berkenalan dengan dia." lanjut ku. Aku tidak mau berhadapan dengan orang aneh itu. Lebih baik dia tahu kalau temannya di game adalah laki-laki kan.


"janji" kata ku.


"oke. tapi biarkan aku memukulmu sekali lagi." jawabnya tersenyum jahat. Asalkan dia mau janji aku akan melakukannya. Aku sudah menutup mata bersiap menanggung sakit kepala sekali lagi.


"hah" dia menghela nafas kasar membuatku melihatnya tertawa kecil. eh? moodnya sudah lebih baik?. Aku melihatnya meredam tawanya sendiri sebelum menatap tajam padaku lagi beberapa detik.


Namun dengan segera dia mengatur ekspresinya untuk terlihat tenang seperti biasanya. Aku heran melihatnya bertingkah sok manis tiba-tiba. Dia bahkan seperti lupa kalau barusan dia marah-marah padaku.

__ADS_1


Ah iya, aku baru ingat. sekarang jam pelajarannya Bu Lita, tentu saja dia senang. Meski sudah tidak punya harapan apapun, dia jelas masih menyukainya. Ananta tersenyum dengan manis, duduk di bangkunya seperti anak kecil yang mau diberi makan. Konyol sekali.


senyum manisnya pudar begitu saja saat guru laki-laki pengganti itu datang. Aku tahu dia sangat kecewa dari cara senyum itu hilang seketika.


“Selamat pagi anak-anak” sapanya dengan segera menyadari kekecewaan kami. Dia pasti tahu dia bukan orang yang kami harapkan berdiri di sana.


"Jangan jahat begitu dong. senyumnya terpaksa banget" ucapnya sedikit bercanda meski hanya dihadiahi senyum tidak ikhlas yang menghilang lagi dalam sekejap.


“Bu Lita sedang mengambil cuti beberapa hari jadi saya akan menggantikannya untuk sementara” ucapnya segera. Penjelasannya hanya memberi alasan, bukan mengobati kekecewaan kami.


Gosip tentang Bu Lita yang akan pindah semakin menjadi dengan cutinya Bu Lita hari ini, dan aku tiba-tiba merasa perlu menghibur seseorang. Aku tahu ini seperti mengakhiri kesempatan Ananta untuk menahan orang yang disukainya itu agar tidak meninggalkannya.


“Ta…” Saat jam pelajaran itu usai aku berencana menghiburnya, tapi Ananta buru-buru pergi sebelum aku sempat menahannya. Ah, sudahlah sepertinya dia tidak butuh aku, dia lebih butuh kesendirian seperti dia biasanya.


Aku membiarkannya pergi, membiarkannya asik bergulat dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang dia lakukan. Meratapi nasib sendirian?. Karena setahuku tidak ada yang bisa dirubahnya tentang ini. Ini menyangkut perasaan orang lain.


Kami saling diam setelahnya, bahkan sampai waktu makan malam tiba tidak ada suara sedikitpun dari kami hingga ibu mengira kami sedang bertengkar lagi.


Sebenarnya aku hanya, tidak tahu harus apa, haruskah aku menghibur seseorang??


Ananta hanya duduk diam memakan hidangan di hadapannya. Aku melihat jelas dia memaksakan senyum saat pamit pulang. Memang, sulit tersenyum kalau kau tidak benar-benar bahagia bukan.

__ADS_1


Bu Lita, dia sungguh telah sukses membolak-balikkan hati seorang Ananta dan membuatnya terpesona. Walau aku heran, bagaimana Ananta bisa sebegitu mencintai orang dewasa itu.


Memang kuakui guru itu cantik, tapi dengan semua resiko seperti itu… harusnya dia sadar diri dan mundur. Karena tidak mungkin seorang guru akan membalas cinta muridnya. konyol sekali. Tetapi Ananta tidak, dia terus mencintai meski sudah pasti perasaannya tidak akan terbalas. sebenarnya aku kagum dia bisa setegar itu. Aku saja muak setelah di tolaknya beberapa kali. Tapi dia bisa bertahan meski sudah jelas tidak ada harapan sama sekali.


__ADS_2