
Hari itu aku pulang dengan perasaan tidak nyaman. Dulu aku selalu senang berada dekat dengan ananta, tapi sekarang pulang bersama ananta terasa sangat aneh. Kami hanya diam di sepanjang perjalanan pulang.
"mau mampir dulu? sekalian makan malam." Ucapku saat kami sudah sampai di gerbang rumahku. Hanya basa-basi sebenarnya, Ananta pasti menolaknya. Tapi tidak seperti dugaanku dia justru mengatakan hal lain.
"baiklah" jawabnya membuatku kaget sekali lagi. Dia bahkan sudah masuk ke dalam, mendahuluiku yang masih bengong di halaman rumah. Dia bersikap aneh.
"halo tante" ucapnya memanggil ibuku dengan ceria, seolah wajahnya yang kelabu barusan hanya topeng yang bisa dia lepas pasang sesukanya. Atau, ekspresi bahagianya itu topeng sebenarnya? Entahlah aku tidak tahu isi hatinya sama sekali. Dia ini masih orang yang sama dengan yang kulihat malam itu, aku memperingatkan diriku lagi. Tidak ada maaf baginya, belum. Karena dia pun tidak meminta maaf sama sekali.
"Hai ananta. Sini masuk, tante sudah buatkan banyak makanan. untung kamu datang" ucap Ibu terlihat sangat bahagia. Apanya. ibu tidak perlu ananta, aku bisa menghabiskan semuanya. Pikirku, tapi tidak berani ku utarakan karena ibu masih tersenyum dan terlihat sangat bahagia. Aku hanya masuk ke kamar dengan malas.
Apa aku tidak usah makan malam saja? atau ambil makanannya lalu dimakan di kamar? beralasan mau mengerikan tugas projek atau apalah? Ah otakku ini tidak bisa berpikir praktis dalam kondisi begini. Aku hanya tau aku malas berlama-lama bersama ananta.
"Alana, ayo makan" Kakiku menghentak keras saat akhirnya aku hanya pasrah, keluar dari ruangan setelah berganti baju. Yah, sudahlah aku malas berpikir lagi. Aku hanya perlu diam dan tidak menanggapi semua perkataan ananta. Aku bisa menganggapnya tidak ada. Iya, aku bisa.
Tapi begitu keluar dari kamar aku kehabisan kata-kata saat Ananta dan ibu makan lebih dulu. Aku sangat ingin marah, tapi aku tidak bisa. Aku kan berencana tidak bicara dengan ananta.
Aku hanya duduk dan makan dengan tenang, mengabaikan Ananta yang terlihat membahas sesuatu yang seru dengan ibuku. Aku sudah seperti tamu tidak di undang. Menyebalkan sekali.
Setelah makan, aku kembali ke kamar lagi. Tidak ada yang menegurku juga. Apa-apaan ini aneh sekali. Aku masih mendengar Ananta mencuci piring di dapur. Semua berjalan dengan sangat tenang seolah siang tadi tidak ada masalah apapun di antara kami. Tidak ada Ananta yang barusan menjemput ku pulang dengan suasana menyeramkan.
Ananta itu, menyeramkan.
...****************...
Keesokan harinya aku melihat Ananta membisikkan sesuatu pada Shinta. Tepat setelah aku pikir hubungan kami sudah baik-baik saja. Mereka pasti sudah menertawakan aku dengan terang-terangan sekarang. Menyebalkan. Aku hanya melengos, membuang muka, menoleh ke arah lain. Apapun asalkan aku tidak melihat Ananta lagi.
Dan di saat yang tepat, Diki menghampiriku di jam istirahat. Dia mengajakku makan bersama. Sangat aneh, karena biasanya dia tidak akan berani. Mungkin dia merasa kami sudah lebih dekat sampai dia berani begitu. Aku mengiyakannya begitu saja. Yang penting aku cepat-cepat pergi supaya tidak melihat Ananta atau shinta lagi.
__ADS_1
"kamu kenapa?" tanya diki. Dia mungkin melihat raut mukaku yang tidak mood sama sekali sejak tadi, atau dia mungkin tahu aku suka ananta dan sekarang sedang patah hati berat. Entahlah, aku tidak tahu dia tahu tentangku sebanyak apa. Dia hanya teman yang sedikit asing, jadi aku tidak peduli hal itu.
"enggak kenapa kenapa" balas ku. Tidak mungkin juga aku bilang tidak baik baik saja.
"kelihatannya tidak begitu" balasnya. Memang kami sudah cukup dekat, tapi kurasa belum sampai titik aku bisa bercerita dengan jujur padanya. Aku memendam perasaan ku sekali lagi.
"Mau makan apa?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatian. Dan dengan segera dia sibuk mengamati food court di kantin memilih makanan untuk hari ini, mudah sekali mengalihkan perhatiannya.
"kamu mau apa?" Dia balik bertanya.
"bakso, es jeruk" ucapku dengan cepat, aku tidak perlu banyak berpikir seperti dia. Makanan itu sudah jadi favoritku sejak lama.
"oh oke" ucapnya yang langsung berdiri meninggalkanku. Aku hanya bisa mengamatinya dari jauh saat Diki sudah menuju satu-satunya penjual bakso di kantin sekolah.
"huft, terimakasih" ucapku meski tahu dia tidak akan mendengarnya. Anak ini baik sekali.
...****************...
"Hei... Alana. Jadi bagaimana? sudah memutuskan mau ikut club atau tidak?" tanya Diki yang masih sibuk mengunyah. Aku teringat dengan tawaran itu lagi. Menarik sih, sepertinya aktivitas itu bisa membuatku berhenti sibuk memikirkan Ananta.
"mungkin aku akan ikut" jawabku. Dia menelan baksonya dengan tergesa karena buru-buru mau bicara.
"benarkah? bagus" dia hanya mau berkata begitu setelah susah payah menelan.
"huft, dasar" ucapku melihatnya tidak berhenti bertingkah konyol.
Saat aku mengalihkan perhatian ku sebentar, lagi-lagi aku melihat Ananta dengan shinta yang berdiri di sebelahnya. Mereka terlihat sedang mencari sesuatu, tapi kemudian aku ingin bersembunyi saat mereka berjalan menghampiri ku.
__ADS_1
Shinta langsung menatapku dengan tatapan bertanya. Entah apa yang dia maksud. Aku tidak paham.
"Hai, boleh pinjam Alana nya sebentar" ucap shinta, dia berkata begitu pada Diki. yang hanya mengangguk patuh, padahal aku sudah mengkodenya untuk menggeleng.
"aku sudah kenyang, aku ke kelas duluan" ucapku, pasti terdengar sinis karena aku memang mau menyinggungnya.
Aku meninggalkan Diki, Shinta dan Ananta. Ananta tidak bicara sama sekali, hanya melihatku yang berjalan menjauh. Shinta seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia bungkam juga.
Aku berbelok sedikit dari ruteku menuju kelas, mencari sudut sekolah yang sepi lalu menyandarkan punggungku di sana. Ah, kenapa tetap terasa sulit melihat mereka bersama-sama. Harusnya aku tetap bersikap biasa saja. Kalau begini pasti mereka akan lebih senang lagi menggodaku. Kurasakan ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sakit, tapi aku tahu jelas itu hanya karena perasaanku yang bercampur.
Ah, tidak lucu kalau aku menangis disini.
Tubuhku terasa lemas hingga aku akhirnya berjongkok memeluk lutut dengan kepala menunduk. Aku malu, marah, dan kecewa di saat yang sama. Aku masih tidak bisa tidak bersikap kekanakan begini setiap melihat mereka bersama-sama. Konyol sekali. Aku merasakan pipiku memanas, tapi air mataku masih ku tahan agar tidak jatuh.
Sampai tangan seseorang mengelus rambutku dengan perlahan. Aku akhirnya menangis juga dengan isakan yang teredam.
Setelah beberapa lama elusan lembut di kepalaku tidak terasa lagi, aku mendongak mencoba melihat siapa yang menghiburku barusan.
Tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
Lucu sekali. Bahkan saat menangis begini, aku malah dihibur oleh hantu?
...****************...
Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,
see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌
__ADS_1