Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
sepuluh. berubah


__ADS_3

Orang bilang, cinta bisa merubah seseorang. Aku percaya, Ananta dan aku adalah contohnya. Ananta berubah menjadi kuat dan dewasa, jauh melebihi usianya sekarang. meski menurutku itu justru menyebalkan.


Sedangkan aku… aku ingin berubah menjadi siapapun yang Ananta suka.


Seperti pemikiran kanak-kanak lainnya, kini aku sibuk dengan foto cantik Bu Lita dan cermin. Mata besarnya membuatku iri, kulit halusnya membuatku benci, rambut lurus panjangnya… ah, dalam pandangan wanita semua itu mendekati sempurna. Hmm, rambut, setidaknya aku bisa membuat rambutku secantik itu juga.


“Ibu, catok rambut di mana ya?” tanyaku sore itu.


“Laci kamar sayang, ambil sendiri ya. Ibu masih sibuk.” Jawab ibu dari dapur. Aku masuk ke kamar Ibu tanpa mengetuk pintu, toh ibu sudah mengizinkanku masuk. Tapi aku berakhir kebingungan saat tiga laci yang kubuka tidak menyimpan benda yang aku cari.


Aku membuka laci ke empat dan justru menemukan sebuah buku lusuh. Sepertinya ini sudah di simpan lama sekali karena sampulnya hampir rusak di makan usia. Karena rasa penasaran yang tidak bisa di pendam lagi aku membuka sampul hitam yang tulisan pemiliknya sudah hampir pudar.


Di halaman pertamanya aku menemukan sebuah foto ibu Ananta dan ibuku yang masih muda berfoto dengan bahagia. Aku tersenyum, ibuku terlihat cantik dengan model rambut kuno dan baju yang pasti terlihat norak kalau di pakai sekarang.


Dibaliknya aku menemukan tulisan dengan tinta yang mulai pudar.


‘persahabatan adalah ikatan yang melebihi keluarga, kami tahu. Namun saat kami berdua mencintai orang yang sama. Segalanya tidak pernah sama lagi’.


Kalimat itu mengantarku pada sebuah fakta yang mengejutkan. Kalimat yang seolah menjawab tanda tanyaku selama ini. Ini pasti rahasia yang ibu pendam sejak lama.


Kalian ingat, aku benci Om Ari karena dia selalu merepotkan kami. Tapi tingkah laku ibu juga sama menyebalkannya karena dia selalu menuruti apapun yang di katakan om Ari. Aku sampai menduga hal yang tidak-tidak saat Om Ari menitipkan Ananta pada keluarga kami. Walaupun aku senang juga, karena aku menyukai Ananta sejak lama.

__ADS_1


Membaca halaman buku lusuh ini satu persatu membuatku menemukan fakta selanjutnya. Orang yang mereka perebutkan itu sudah pasti ayah Ananta. Pada akhirnya, ibu Ananta yang mendapatkan Om Ari. Lalu ibuku yang patah hati akhirnya bisa dekat kembali dengan ayah Ananta saat temannya itu sudah tiada. Tapi Alana kira ibunya kembali putus asa saat ayah Ananta itu menikah lagi dengan wanita lain.


Seperti ibunya, Ananta juga pasti orang yang gigih dan mengejar cinta sampai dapat. Tidak seperti ibuku yang mengalah, juga seperti aku yang kalah dari perempuan cantik yang entah berapa tahun lebih tua itu. Aku mengembalikan buku itu ke tempatnya semula. Menatanya rapih seperti sebelumnya. Yah, ini mungkin rahasia ibu yang harus tetap menjadi rahasia bukan.


Aku membuka laci selanjutnya dan akhirnya menemukan apa yang kucari. Dengan benda itu aku meluruskan rambutku dan mencoba berbagai model dan berharap itu bisa membuatku terlihat lebih cantik. Meski aku tahu, wajah kami tetap tidak sama, dan sangat kecil kemungkinan Ananta akan berpaling padaku karena ini. Tapi aku masih ingin berusaha. Boleh kan.



Sekarang jam istirahat, kantin sudah penuh dengan orang-orang yang kelaparan. Tapi aku mengukir senyum saat melihat bangku kosong di depan Ananta. Aku menghampirinya masih dengan antusias yang sama. Sedikit berharap kalau dia akan menyadari penampilanku yang sedikit berubah menjadiii lebih cantik? aku tidak yakin sebenarnya.


Aku melemparkan senyum padanya, tetap bertahan meski dia hanya melihatku dari sudut matanya dengan acuh.


“Ananta, ibu masak makan siang buat kamu” ucapku menyodorkan bekal yang tertata rapi dalam wadah biru. Ibuku sangat perhatian tahu kepada kamu yang bahkan bukan anak kandungnya.


“Ananta” panggil seseorang yang membuatku kaget. Dia, orang yang kutemui dalam game, sedang mendekat ke arah kami. Aku ingin menyembunyikan wajahku segera saat melihat dia tersenyum dengan polos.


“Hai,” sapanya singkat, si cowok segera duduk di kursi kosong di sebelahku. Sedikit membuatku kaget, karena kami bahkan belum berkenalan di dunia nyata. Dia bahkan tidak tahu kalau aku Mili, dan sikapnya ini seperti sok akrab, meski aku tahu dia mencari Ananta bukan aku.


“Diki, katamu ingin bertemu dengan Mili” ucap Ananta, mataku membola, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Jangan lakukan itu, atau aku akan semakin membencimu.


“Dia Alana, Mili yang asli,” ucapnya santai menunjukku dengan dagunya. Aku terus menatapnya benci. Aku kebingungan saat Diki menatap ke arahku dengan senyuman polosnya lagi.

__ADS_1


“Ehm, hai Mili” sapa Kenta (namanya dalam game) dengan ramah, tangannya terulur untuk bersalaman denganku. Tapi aku justru menjadi salah tingkah dan berakhir menepis tangannya dengan kasar. Aku melihatnya menatap kaget saat aku beranjak dari tempat duduk.


“mulai sekarang aku membencimu! Pengkhianat!” ucapku pada Ananta. Padahal kemarin dia sudah berjanji untuk tidak memberitahu identitasku sebagai mili pada siapapun. Tapi dia malah melanggar janjinya sekarang, dasar tidak bisa diandalkan.


Aku mengemas bekalku, lalu pindah ke meja lain. Aku memakan bekalku dengan marah. Mataku masih memelototi Ananta yang sesekali menolehku dengan cuek.


“Jangan melotot. Wajahmu itu tidak pantas marah” ucap Shinta menghampiriku dengan senyum geli.


“Huh, aku tidak paham cara berpikir laki-laki. Mereka menyebalkan. Tidak pernah peduli perasaan perempuan. ” Curhatku tanpa sadar. Yah, Ananta tidak pernah peduli bagaimana aku ingin dia menjaga rahasiaku, atau tentang bagaimana aku ingin dia menghargai keberadaanku yang sudah memperlakukannya dengan baik.


“Tapi kamunya selalu mau dekat dengan mereka kan” ucap Shinta telak membuatku terdiam. Sial, dia benar dan aku benci itu.


“Kamu selalu menempeli Ananta, karena kamu terlalu menyukainya. Jadinya dia malah menganggapmu remeh.” Ucapnya menyindir dengan kalimat yang terdengar seperti nasehat. Yah, bagiku perkataannya banyak benarnya meski selalu menusuk.


“cewek berkelas yang di sukai laki-laki itu, punya standar tinggi, tipe yang misterius dan sulit dijangkau. Seperti Ananta yang naksir Bu Lita bukan kamu” Ucapnya lagi. Menyebalkan memang, mendengar ejekan yang tepat mengenai hati.


Namun hal itu membuatku berfikir sekali lagi. Aku setuju dengan pernyataannya. Aku selalu gagal membuat Ananta tertarik padaku. Cara lama untuk selalu ada disampingnya tidak pernah berhasil, kami malah semakin jauh. Jadi, haruskah aku mencoba kebalikannya. Apa aku seharusnya menjauh. Menarik jarak seperti Bu Lita yang justru membuatnya tertarik?. Aku tidak yakin dengan ini tapi aku ingin mencobanya. Entahlah, lagipula aku memang kesal padanya. Makanya semakin aku menjauh akan semakin baik.


...****************...


Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,

__ADS_1


see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2