
Setelah bersama dalam waktu yang lama, aku selalu tahu kapan saat-saat ketika dia berubah. Menjadi lebih tak peduli, atau bahkan menjadi orang lain. Dulu aku masih bisa mengerti, tapi kali ini, aku benar-benar tidak mengerti Ananta sama sekali ketika itu terjadi. Bahkan aku tidak tahu sejak kapan hal itu dimulai.
Setahuku kami masih berangkat ke sekolah bersama, pulang bersama, kadang juga makan malam bersama seperti kemarin. Sampai aku tidak menyadari ada hal-hal yang berubah dalam hati Ananta. Seperti sekarang, aku menatap wajahnya, tapi rasanya seperti kami berada ditempat yang berbeda. Dia tidak disini.
“Ananta, pinjam PR Matematika!” panggilku, hari ini ada jam matematika siang ini, dan sudah bisa ditebak aku terlalu pusing mengerjakannya sampai di titik menyerah dan tidak mau mengerjakannya lagi. Aku mau menyalin jawaban Ananta saja. Punya teman yang pintar salah satu fungsinya untuk hal ini kan...
“hmmm, ambil sendiri” ucapnya bahkan tanpa menoleh. Arah pandangnya masih fokus pada pintu kelas kami. Entah apa yang ditunggunya muncul di sana. Aku mencari sendiri ke dalam tasnya hingga butuh beberapa waktu untukku menemukannya karena isi tas Ananta itu terlalu padat jadi susah mengeluarkan salah satu bukunya saja.
“Ananta!!” kali ini aku hanya ingin membuatnya menoleh kepadaku. Dan, aku berani bersumpah aku melihatnya tersenyum dengan manis hari itu. Namun, masih dengan mata yang menatap lurus keluar pintu, bukan ke arahku.
Bodohnya, aku justru terlalu fokus melihat senyumnya hingga tidak sempat melihat apa yang membuatnya tersenyum begitu. Saat aku akhirnya menoleh mengikuti arah pandangnya aku tidak melihat apapun di sana. Apa dia barusan melihat hantu? tapi kenapa malah tersenyum? dasar ananta aneh.
“Ananta!!” Aku memanggilnya lagi. Ananta yang sadar dari lamunannya akhirnya menghadap ke arahku. Aku menatapnya dengan horor, dia sudah pasti bisa lihat hantu.
“itu udah ketemu. Buruan nyalinnya nanti langsung balikin ke tempatnya lagi” ucapnya menunjuk buku bersampul hitam di tanganku. Akhirnya aku meninggalkannya untuk buru-buru menulis jawaban yang sama di bukuku sendiri. Ananta serem juga.
...****************...
Jam istirahat di mulai. Aku menghampiri Shinta. Aneh memang, aku suka berteman dengan anak nakal ini gara-gara dia sering membahas tentang Ananta. Dia bercerita seolah-olah dia tahu lebih banyak hal tentang Ananta dari pada aku.
Kadang itu membuatku kesal, tapi lebih seringnya aku justru memintanya bercerita lebih banyak karena secara mengejutkan dia punya sudut pandang lain tentang Ananta yang tidak aku tahu. Dia itu memang pengamat yang baik.
__ADS_1
“Shinta” panggilku, aku makan berdua dengannya di kantin. Ananta selalu menghilang lebih dulu jadi aku tidak pernah melihatnya selama jam istirahat. Sepertinya dia juga tidak makan karena aku tidak pernah melihatnya di kantin ataupun membawa bekal. Keluarganya itu rumit jadi tidak mungkin dia bisa membawa masakan rumah untuk di bawa ke sekolah.
“kenapa?” Shinta masih asyik memakan remahan snacknya, anak ini aneh. Dia tidak makan nasi saat waktunya istirahat, sangat tidak sehat. Mungkin itu salah satu alasannya bertubuh kecil dan terlihat ringkih.
“Sepertinya Ananta bisa lihat hantu deh” ucapku dibalas tawa keras Shinta. Sudah aku duga, dia pasti tidak percaya padaku. Aku yang tidak paham maksud dari tawanya hanya bisa melempar tatapan bertanya.
“dasar! kamu ini bodoh atau tidak peka sih.” shinta masih tertawa keras, tanpa menjawab ucapanku sebelumnya. Padahal aku serius. Pasti seram kalau Ananta benar-benar indigo.
“memang dia kenapa sampai kamu mikir begitu?” dia balik bertanya setelah tawanya mereda.
“Dia senyum sendiri sambil liatin pintu kelas! aneh banget” ucapku masih dengan ekspresi serius. Dia tidak melihat sendiri makanya tidak percaya.
“aku tidak melihat siapapun” ucapku sekali lagi dengan yakin.
“atau... tidak sempat melihat orangnya. karena aku sudah tahu siapa orangnya sejak lama.” ucap Shinta, dan seketika aku menyesal membicarakan hal ini dengan Shinta. Dia selalu mengejekku, dan dari caranya menggodaku aku tebak dia juga tahu kalau aku menyukai Ananta.
Setelah pembicaraanku dengan Shinta, aku mengamati Ananta lagi selama berada di dalam kelas. Tidak ada hal yang istimewa, seperti biasanya, dia tidak banyak tersenyum. Hanya sesekali bicara omong kosong dengan teman laki-lakinya. Dia menatap dingin ke seluruh kelas sampai orang-orang malas berinteraksi dengannya. Aku menggeleng pelan melihat perilakunya yang sangat tidak ramah lingkungan.
Namun, aku hampir tidak percaya saat melihatnya tersenyum tipis selama kelas bahasa berlangsung. Aku tidak ingat kalau dia suka kelas bahasa. Dia sesuka itu sampai membuatnya tersenyum begitu manis?
Aku tidak melihat apapun berubah kecuali kedatangan guru cantik yang mengajar di kelas kami. Suasana kelas bahkan hening saat dia tersenyum bahagia, tidak Ada hal lucu atau apapun. Apa yang aku lihat itu membuat kecurigaan aneh muncul di benakku. Pikiran buruk yang segera aku tepis jauh-jauh. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi kan. Ananta bukan orang seperti itu, aku yakin.
__ADS_1
...****************...
Jam istirahat berikutnya aku sedikit menyesal karena memutuskan untuk mengikuti Ananta. Dia masuk ke dalam ruang guru. Jadi aku hanya berdiri dengan kikuk di depan pintu saat berpapasan dengan guru-guru yang menatap aneh.
Aku tidak punya alasan untuk masuk ke ruang guru sekarang. Tapi aku tetap ingin mengikutinya ke dalam. Karena bingung, akhirnya aku memilih berkonsultasi dengan guru matematika demi bisa menguping pembicaraan mereka. Aku mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Nanta, jadi sekarang kami saling memunggungi.
“kenapa tugas essay mu masih kosong. Saya minta kamu membuat tulisan, bukan menggambar.” Marah Bu Lita sambil menunjukkan lembar tugas Nanta yang berisi sketsa. Aku mengerutkan dahi untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas. Dan menurutku, sketsa itu sangat mirip dengan Bu Lita. Ada tulisan kecil di bawahnya, tapi aku tidak bisa membacanya karena terlalu kecil
“karena menurut saya. Gambar ini sudah cukup merangkum semua kata yang ingin saya tuliskan” Ucapnya. Aku tidak menyangka Nanta akan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti orang dewasa seperti ini. Dia seperti, orang lain.
“Jadi Lana... gimana, kamu mau ambil kelas tambahan untuk memperbaiki nilai kamu?” ucap Pak Andi meminta perhatianku setelah aku mengabaikan guru matematika itu beberapa lama untuk menguping. Jujur, aku tidak mendengar perkataannya sama sekali. Tapi saat aku mengintip lagi, aku melihat Ananta yang sepertinya sudah selesai bicara dengan Bu Lita.
“ah, tidak pak. saya belajar sendiri saja bersama Nanta.” ucapku buru-buru pamit sebelum Nanta menyadari kehadiranku. Aku berjalan ke arah kantin sekali lagi mencari Shinta. Kenapa semua yang aku lihat mengarah pada kecurigaan terburuk ku sih.
“jadi, bagaimana?” ucap Shinta saat kami bertemu. Dia pasti membaca raut wajahku yang seperti baru melihat hantu. Lain dengan ekspresi ku dia hanya tersenyum seolah sudah menebak semuanya
“kamu bohong kan. Dia pasti bukan orang yang aku pikirkan” ucapku panik. Shinta hanya mengangkat bahu tanpa menjawab ku. Dari ekspresinya dia seperti mengiyakan pikiran buruk ku.
Nanta... apa ini rahasiamu? wajahku pasti memucat sekarang. Hal ini benar-benar di luar dugaanku. Tapi aku masih memilih untuk tidak meyakini apa yang kulihat barusan. Masih ada kemungkinan lain, pasti.
...****************...
__ADS_1