Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
enam. Ketahuan


__ADS_3

Kami masih pulang bersama lagi hari ini, membawa dua sepeda dan menuntunnya sampai keluar dari gerbang sekolah seperti biasanya. Tapi tatapan Nanta tidak melihat lurus ke depan. Dia menoleh ke arah samping seolah sedang memaku pandangannya pada sesuatu.


“Aku pulang duluan hari ini, sampai ketemu nanti malam” ucapnya tergesa-gesa menaruh satu dari dua payung yang dia bawa ke keranjang ku. Akhir-akhir ini hujan datang tiba-tiba jadi Ananta biasanya membawa dua, satu untukku karena kami selalu pulang bersama-sama.


“Eh?” Matanya masih focus menatap sesuatu dan melenggang pergi tanpa aba-aba.


Karena penasaran dengan apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu, akhirnya aku mengikutinya diam-diam.


Dia mengayuh sepedanya dengan cepat hingga membuatku hampir kewalahan. Dia ini seperti mengejar sesuatu tapi aku tidak melihat siapapun di depan. Hanya orang-orang asing yang lalu lalang. Ananta terus menyusuri jalan hingga berbelok ke suatu tempat yang pernah kami singgahi bersama. Danau yang sering kami datangi dalam masa kecil kami. Walau kami sudah jarang kesana lagi setelah dewasa.


Ananta berhenti di tepian danau dan memarkir sepedanya saat aku memperlambat kecepatan sepedaku untuk menjaga jarak kami. Aku berdiri di tempat yang agak jauh, aku mengikutinya diam-diam jadi Aku tidak mau ketahuan. Terlebih aku ingin memastikan sesuatu sekali lagi tanpa diketahui Ananta.


Entah dari mana asalnya, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. tidak ada tempat meneduh di dekat sini. Beruntung, aku masih sempat mengambil payung dari Ananta untuk kupakai sambil bersembunyi.


Tanah yang ku injak mulai becek, aku membeku, jari-jariku sudah berkerut sejak tadi. Jelas aku kedinginan karena meski tidak basah, angin dingin tetap berhembus sangat kencang.


Aku berhenti di jembatan kecil di pinggir danau. Sepeda Nanta sudah dia parkir dengan asal di dekat jembatan. Dia juga sempat mengambil payungnya sebelum hujan turun. Dia melangkah jauh menuju tepian danau, menghampiri seseorang.


Dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang berdiri di sana dengan anggun. Bukan perempuan, tetapi wanita. Meski dari jauh aku kenal dengan wajah itu. Wajah yang menjadi lebih familiar lagi akhir-akhir ini. Aku baru menyadari keberadaan nya selalu dekat dengan kami.


Ananta tersenyum kepadanya, dia terlihat... sangat bahagia. Dia membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu balas tersenyum tipis. Mereka saling bicara entah tentang apa. Aku masih mengawasi dalam diam, seperti orang bodoh yang mengganggu adegan romantis dalam sebuah drama. Aku hanya menonton di pojokan, tempat yang tidak diperhatikan oleh penonton sama sekali.


Mataku memanas saat melihat Nanta mengikis jarak antara dia dengan wanita itu. Wajahnya yang tersenyum bergerak mendekat. Kepalaku memikirkan hal-hal yang mungkin akan segera terjadi. Sudah. Aku tidak tahan melihatnya.

__ADS_1


Aku segera berbalik sebelum bibirnya menyentuh wanita itu. Aku tidak mau melihat ini. Detik berikutnya aku memilih pulang, daripada menjadi penonton hal-hal yang tidak diinginkan. Aku berjalan menjauh, membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Aku tidak peduli lagi. Penonton yang mengganggu ini undur diri.


Aku menendang dengan keras sepeda Ananta hingga terjatuh bercampur dengan lumpur. Payung dari Ananta sudah ku hempaskan juga ke tanah. Biar saja. Aku kecewa, dan aku memutuskan, aku akan membencinya saja mulai sekarang.


...****************...


Sore itu aku pulang dengan basah kuyup, memarkir sepeda asal di samping rumah lalu masuk tanpa kata. Aku pasti terlihat sangat berantakan sekarang.


Dasar menyedihkan. Sudah tahu akan kecewa kenapa masih berharap pada orang yang sama.


Pikiranku mengembara, masih menolak percaya kalau perasaanku benar-benar bertepuk sebelah tangan. Dengan alasan konyol yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi hal itu jelas sudah tidak bisa dielak lagi, aku melihatnya dengan mataku sendiri.


“Alana, Ananta jadi kesini??” tanya ibu begitu aku muncul dari balik pintu. Melihatku dalam keadaan basah kuyup begini, dan pertanyaan pertamanya adalah di mana Ananta?? Sungguh kali ini rasa kesal ku tidak bisa ditahan seperti biasanya. Kenapa selalu nama Ananta yang dia sebut, bukannya aku ini anaknya. Ananta, nama yang paling tidak ingin ku dengar sekarang. Orang yang mulai beberapa detik yang lalu menjelma menjadi manusia yang paling ku benci.


“Ananta sudah mati” ucapku sarkastis. Ibu akhirnya menatapku dalam.


Sudah lihat, anakmu sedang dalam kondisi menyedihkan?. Aku mungkin sudah berteriak andai kalimat itu tidak kukatakan dalam hati.


“Jangan terlalu keras pada Ananta, hidupnya sudah sulit” ucapnya dengan iba. Kalimat yang seperti sehunus pisau yang tidak berhenti melukaiku sejak tadi. Bukan itu yang ingin kudengar sekarang. Aku sedang benci mendengar namanya.


Kenapa selalu aku yang disisihkan? pikiran buruk menyerang ku begitu saja. Entah, tiba-tiba aku merasa sangat rapuh gara-gara hal remeh seperti ini. Harusnya aku sudah mengira kalau ini terjadi. Tapi itu tetap terasa menyakitkan.


Ananta tidak peduli lagi padaku, apa kamu juga sama? memangnya aku setidak berharga itu di hidup kalian?

__ADS_1


“Iya, terus saja ibu perhatian dengannya sampai-sampai ibu lupa kalau anakmu itu aku, bukan Ananta!!!” teriakku, semua emosi kini meluap, diakhiri suara bantingan pintu yang keras. Perasaan-perasaan yang bermunculan di hatiku ku tekan dalam-dalam. Cukup seperti, aku tidak bisa menumpahkan semuanya. Aku tidak bisa menyalahkan mereka kalau yang tidak berharga itu aku, bukan mereka.


Malam itu segalanya hening. Tidak kudengar ketukan pintu satu kali pun hingga pagi. Aku tahu, Ananta juga pasti tidak datang. Dia... sedang sibuk berpacaran.


Bahkan di pagi hari kami makan dengan saling diam menutup mulut rapat-rapat. Kecewaku masih belum reda, dan ibu terlihat ragu ingin menyampaikan sesuatu. Bertemu Ananta tiba-tiba menjadi tidak menyenangkan seperti dulu. Aku hanya terus diam setiap kali berada disampingnya. Melirik dengan sinis sesekali. Dia tidak akan merasa aneh, ‘dia itu tidak pernah mempedulikan ku’ pikirku. Aku mungkin hanya orang aneh yang mengganggu dalam hidupnya, meski untukku dia hampir menjadi segalanya.


...****************...


“Bu Lita” gumamku keesokan harinya tak sengaja di dengar Shinta yang entah sejak kapan ada di belakangku.


“Oh, jadi sekarang sudah tahu??” ucapnya mengejek. Arti kata-katanya di hari aku membantunya itu terbukti sekarang. Bodohnya aku tidak pernah percaya perkataannya, padahal dia sudah memperingatkan ku sebelumnya. Aku telat percaya, hingga melihatnya sendiri dan kecewa.


“Jadi Bu itu yang kamu maksud disukai dia” ucapku pada Shinta sekali lagi.


“Hmm, bagaimana?? Sudah kecewa” ucapnya, menyinggungku tepat di hati.


“Ehm, tidak. Hanya saja…” ucapku bingung.


“Tidak pantas kan… hubungan seperti itu” ucapku akhirnya.


“Alana… duh, kamu tetap saja tidak tahu apa-apa ternyata.” Ucapnya dengan kasihan yang hanya metafora. Dia mengkode ku untuk menunduk, memberitahu sebuah rahasia lagi.


“Itu, bukan sebuah hubungan. Tetapi masih bertepuk sebelah tangan” bisiknya kepadaku yang hanya ku jawab tatapan tidak percaya.

__ADS_1


“Eits, petunjukku hanya sampai sini” ucapnya tersenyum senang lalu berjalan dengan riang menjauhiku.


Petunjuk itu memberiku tanda Tanya baru. Terlebih lagi siapa juga yang bertepuk sebelah tangan, Ananta ataukah Bu Lita. Tapi kan yang aku tahu jelas menyukai pihak lainnya Ananta, artinya...


__ADS_2