Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Hidden story. chapter lima


__ADS_3

Hari itu Ananta di panggil oleh Bu Lita untuk pergi ke ruangannya di jam istirahat. Dia tahu apa yang akan dia hadapi di sana. Pasti perihal tugas yang tidak di kerjakannya hari itu.


"kenapa tugas essay mu masih kosong. Saya minta kamu membuat tulisan, bukan menggambar.” Marah Bu Lita sambil menunjukkan lembar tugas Nanta yang berisi sketsa. Ada tulisan kecil bertuliskan ibuku di bawahnya.


Bu Lita bilang essay ini akan dibukukan, seluruh anak di kelas akan berpartisipasi karena ini tugas projek pertama di mata pelajarannya. Tapi temanya terasa berat untuk Ananta tulis dalam bentuk kata-kata.


“karena menurut saya. Gambar ini sudah cukup merangkum semua kata yang ingin saya tuliskan” Ucapnya.


"apa maksudmu?" tanya Bu Lita dengan dahi mengkerut. Kalimat murid di depannya ini tidak menjelaskan apa-apa.

__ADS_1


"temanya..." ucap ananta ragu-ragu. Hatinya terasa sesak seperti baru dipukul sesuatu.


"saya mau menulisnya, tapi boleh tidak kalau karya saya tidak diikutkan dalam bukunya?" tanya Ananta. Dia tidak mau ceritanya di baca banyak orang, tapi dia masih harus mengumpulkannya untuk dinilai.


"apa itu karena alasan pribadi?" Memang kenapa harus begitu? Bu Lita masih bertanya-tanya tentang masalah sebenarnya. Menjadi guru bukan berarti dia tau segalanya. Seperti sekarang dia tidak tau apa-apa yang membuat muridnya membuat wajah sedih seperti ini.


"ini tentang ibu saya... dan saya tidak mau banyak orang membacanya" lanjut Ananta. Sakit baginya mengingat bagaimana wanita yang disayanginya itu pergi lebih dulu. Terlalu cepat bahkan. Dia tidak mau orang lain ikut membacanya lalu memberi simpati yang akan terasa memuakkan sekarang. Biarlah orang lain hanya tahu dirinya yang bersikap cuek dan dingin tanpa tahu tragedi apa yang membuatnya begitu. Sedikit jahat juga kalau menyebut kesedihannya sekarang karena wanita itu pergi untuk selamanya.


"Ibu, terlihat mirip seperti ibuku" ucapnya tersenyum tipis. Karena itu dia suka melihatnya. Itu seperti membangkitkan kenangan lama, seolah dia bisa melihat ibunya semasa hidup.

__ADS_1


Yah... Bu Lita terlihat mirip seperti ibunya. Itulah kenapa kadang dia bisa tiba-tiba tersenyum hanya dengan tahu keberadaan Bu Lita di dekatnya. Dia suka mengamati wajah tersenyum dari perempuan itu. terlihat sangat menenangkan seolah dia benar-benar ibunya sendiri.


Yang seperti itu termasuk menipu diri sebenarnya. Ibunya tidak akan kembali dengan adanya sosok Bu Lita. Tapi biarlah begini, mencintai sosok orang lain untuk sekedar mengobati sedikit rindunya pada orang yang tidak akan pernah bisa kembali.


Dia tidak pernah bercerita pada siapapun. Bahkan pada Alana. Biarlah Ananta tetap menjadi si pendiam yang suram di mata orang lain. Biarlah dia menjadi tegar dan kuat meski jauh di dalam hati dia tahu semua pura-pura. Bahkan Alana pun pasti mengetahuinya meski tidak pernah berkomentar banyak tentang hal sensitif yang satu itu. Karena membicarakannya, kebanyakan akan menyisakan luka, bukannya bisa mengobati sisa pedihnya.


Bahkan tertawa rasanya adalah dosa.


...****************...

__ADS_1


Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,


see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2