Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Hidden story. chapter enam POV


__ADS_3

Alana berjalan di sampingku sambil bercerita beberapa hal. Namun pikiranku melayang. Aku tidak bisa melupakan ekspresi orang itu sekarang. Aku melihatnya saat mengambil sepeda di parkiran. Beliau sedang berjalan keluar dengan raut yang, entahlah... mengkhawatirkan? Setelah alana mengajakku bicara aku tidak bisa fokus pada orang itu lagi, hingga setelah berjalan beberapa lama baru aku melihatnya lagi. Beliau bergerak menuju tempat yang aku kenali.


“Aku pulang duluan hari ini, sampai ketemu nanti malam”


Beliau, baik-baik saja kan...


Danau ini sering aku datangi dalam masa kecilku dengan alana. Menghabiskan waktu berdua sebagai dua anak kecil yang suka bermain-main. Dulu aku akan berlarian mengejarnya, atau membaca buku di sampingnya sampai akhirnya dia bosan dan mengerjai ku lagi.

__ADS_1


Lalu kenapa beliau di sana menatap hening dengan ekspresi itu. Dan seperti mendapat momen yang tepat, hujan turun begitu saja. Membuatku buru-buru membuka payung untuk melindungi diri sambil menghampiri orang itu. Aku berjalan perlahan, tidak mau mengganggu, tapi cukup terdengar juga supaya beliau tidak terkejut. Bahaya kan kalau aku justru membuatnya jatuh ke danau, tidak lucu sama sekali.


"permisi. Anda baik-baik saja?" tanyaku hati-hati. Aku selalu terbiasa melihat beliau tersenyum, tapi entah. Ada perasaan yang berbeda kali ini, perubahan ekspresi ini tidak seperti biasanya, atau aku hanya berfikir terlalu jauh? terlalu bersimpati karena beliau mirip dengan orang yang ku kenal? entahlah. Yang lebih penting aku mau melindunginya dari hujan juga dengan payungku. Orang ini tidak boleh sakit, atau aku akan merasa bersalah, meski itu bukan salahku juga.


"oh, Ananta. ibu baik-baik saja hanya mau menenangkan diri." ucapnya dengan senyum yang terlihat damai. Oh, rasanya aku terlalu lancang untuk datang dan menghampiri beliau seperti ini. Harusnya tadi aku hanya mengamati dari jauh. Aku justru membuat suasananya menjadi canggung sekarang, dasar. Apa aku pergi saja. Tapi... sebelum itu aku mau menyampaikan sesuatu. Hal yang sudah ada dalam hatiku sejak lama, sejak pertama melihat beliau.


Aku bergerak mendekat, haruskah aku berbisik? atau bicara lebih keras saja? Ah, bicara lebih keras itu tidak sopan. Kalau sedekat ini pasti terdengar kan. Sudahlah, yang penting aku mengatakannya. Kesempatan tidak datang dua kali, dan sekarang agaknya momennya tepat.

__ADS_1


"wajah ibu mengingatkan saya dengan seseorang, jadi saya harap ibu bisa banyak tersenyum dengan wajah itu" ucapku. Ya, aku tulus ingin melihat beliau bahagia. Beliau balas tersenyum, dan seketika hatiku ikut menghangat seolah yang sedang menatapku sekarang adalah orang lain. Orang yang sudah tidak mungkin bisa ku temui di dunia ini. Terimakasih membuatnya seolah hidup kembali dalam hidupku. Meski sangat klise, itu terasa mendamaikan meski hanya sebentar.


Tidak bisa berlama-lama aku menyerahkan payungnya sebelum pamit. Biar kalau beliau ingin disini lebih lama beliau bisa memakai payungnya lagi. Aku akhirnya meninggalkannya di pinggir danau sendirian. Kembali ke arah sepedaku yang sudah basah sekarang. Dan, seingatku aku memarkir dengan benar, tapi benda itu berkubang dalam lumpur sekarang. Ah, mungkin hanya jatuh.


...****************...


Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,

__ADS_1


see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2