Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Tujuh. tekad


__ADS_3

Satu fakta baru yang aku tahu tentang Ananta. Dia, menyukai Bu lita. Wanita anggun yang sangat cantik sampai-sampai sering dipuji oleh muridnya sendiri.


Meski sudah mengenalnya cukup lama, rasanya seperti aku tidak tahu apa-apa lagi tentang orang itu. Rasa penasaran membawaku browsing semalaman, stalking ke akun sosial media Bu Lita yang tidak hanya satu. Karena kegigihan ku aku menemukan akun kedua Bu Lita yang sepertinya sangat rahasia. Di sana, guru muda yang cantik itu lebih bebas mengutarakan perasaannya.


Aku membaca satu demi satu postingannya, sampai mataku terpaku pada sebuah kalimat yang dia posting bersama sebuah foto.


‘Mencintai kamu adalah sebuah keraguan, karena memaksaku melepas apa yang selama ini ku perjuangkan. Haruskah aku benar-benar mengucapkan selamat tinggal?’ tulis Bu Lita, lengkap dengan foto dalam frame menampakkan foto bahagianya dengan seorang pacar.


Lelaki dewasa yang cukup tampan, aku sangat jujur tentang ini. Orang itu benar-benar tampan. Post galau itu entah bagaimana membuatku senang. Apakah ini artinya aku masih punya kesempatan? karena aku tahu guru itu sudah milik orang lain, dan Ananta sudah pasti akan mundur jika tahu tentang hal ini. ku tersenyum jahat sekali lagi. Aku terpikirkan sesuatu untuk membuat Ananta kesal. Yah, semoga saja dengan ini dia akan sadar dan menerima kenyataan kalau cintanya itu sangat mustahil.


“ibu, aku mau mengajak Nanta makan malam bersama nanti” ucapku tiba-tiba di tengah keheningan. Ibu tidak pernah mengajakku bicara sejak aku membanting pintu kemarin. Wajah bersalah ibu berubah menjadi senyum tipis. Lega mungkin, kesayangan dan anaknya kembali akur setelah marahku hari itu. Kalian pasti tahu, mana yang kusebut kesayangan dan siapa yang ku sebut anak. Aku tak menunggu jawabannya dan langsung pergi ke sekolah.


Pagi-pagi aku mencari Shinta dengan semangat yang menggebu. Aku malu memamerkan kalau aku baru saja menemukan sesuatu. Aku tahu lebih cepat dari yang dia kira.


"Shinta." panggil ku saat menemukan dia sedang berbicara dengan Ananta. Senyumku memudar sedikit melihatnya. Aku tidak mau tersenyum di depan Ananta. Shinta segera menghampiri saat melihatku.


"hmm kenapa." ucapnya dengan wajah songong seperti biasa.


"aku tahu." cukup dengan kalimat itu aku menemukan Shinta tersenyum bangga seolah sudah berhasil membesarkan seorang anak. Dia menepuk punggungku beberapa kali.


"lalu. bagaimana?" pertanyaannya membuatku bingung, bagaimana apanya.


"aku harus menghiburmu atau memberimu semangat? apa sudah waktunya kita nongkrong di atap lagi?" lanjutnya. Ah, benar. Kondisiku sekarang ada di antara dua kata itu. Sedang butuh dihibur artinya aku menyerah dan berhenti berusaha untuk segala hal tentang Ananta, memberi semangat artinya aku gila karena tetap ngejar dia meski tahu dia menyukai orang lain. Sepertinya... aku termasuk orang gila karena menjawab pertanyaan Shinta dengan mata berbinar, dan penuh harapan.


"beri aku semangat saja." yah, aku tidak bisa berhenti menyukai Ananta. Perasaan bodoh itu sudah ada sejak aku kecil. Salahkan ibu yang membesarkan kami berdua bersama-sama, sampai-sampai aku tidak bisa benar-benar membencinya begini.


Shinta menepuk pundakku beberapa kali. Mungkin dia juga sadar kalau aku sudah sedikit gila masalah cinta yang tidak terbalas ini. Lihat saja, dia menatapku dengan sedikit prihatin. Apa aku memang menyedihkan?.


"Nanta. Nanti, makan malam di rumahku. Ibu sudah masak banyak." ucapku dengan dingin. Aku juga bisa meniru ekspresi mu yang menyebalkan itu tahu!

__ADS_1


"hmm" dia hanya mengangguk sebentar lalu pergi begitu saja. Hanya begitu, dan perang dingin yang mungkin hanya kurasakan sendiri itu, berakhir. Kecewa, cemburu, terluka, putus asa. Semua perasaan itu hanya dirasakan oleh pihak yang mencintai bukan. Entahlah. Aku semakin merasa diriku menyedihkan saat melihat Ananta berjalan meninggalkanku begitu saja.


Aku baru sadar sekali lagi. Sampai hal-hal kecil pun selalu aku yang mengejarnya. Saat pulang sekolah dia selalu berjalan lebih dulu, di kelas, dia tidak pernah menatapku. Aku baru sadar selama ini aku lebih sering melihat punggungnya dari pada matanya yang menatapku. Perasaan kalah ini. Aku sangat membencinya.


...****************...


Bu Lita mengajar kelas kami hari ini. Ananta menjadi lebih rajin mencatat di banding biasanya. Tapi yang ditulisnya adalah hal lain yang kini terlihat sebagai ironi. Perasaannya itu memang salah, tapi dia begitu gigih.


“Ananta” panggilku, mencoba memaksanya menoleh.


“Hmm?” jawabnya sesingkat dan setidak peduli biasanya. Aku memilih menulis di sticky notes ‘Makan malam nanti di rumahku!’. Kertas itu ku tempel di bukunya dengan buru-buru. ‘Aku makan di restoran’ tulisnya telak lalu ia kembalikan padaku. ‘Aku punya informasi penting tentang Bu Lita’ tulis ku dengan font besar mencoba membujuknya. Dia tidak menjawab, aku menambahkan ‘sangat penting dan pribadi’ dibawahnya tapi dia tetap diam. Aku tahu bagaimana Ananta, berkat bertahun-tahun hidup bersama ini aku tahu persis dia pasti akan datang.


“Malam tante” Sapanya di depan pintu, hatiku bersorak atas kedatangannya. Dia memilih makan di rumahku lagi daripada restoran yang dia katakan sebelumnya.


“Ah iya Ananta, ayo masuk, tante udah siapkan makanan yang enak hari ini” ucap ibu lebih senang lagi. Ibu pasti sudah mengira hubungan di antara kami baik-baik saja.


“Alana-nya ada tante?” tanyanya membuatku ber-smirk ria. Aku berhasil membuatnya datang dengan alasan guru cantik itu.


“oh, Ananta ketemu Alana dulu tante” dia masuk ke kamarku setelah mengetuk pintu dua kali. Aku menyambutnya dengan senyum tipis. Dia menatapku dengan sorot mata tajam, dia mungkin sangat penasaran.


"Kita makan di dapur dulu." ucapku beranjak dari duduk lalu pergi lebih dulu ke ruang makan. Ibu masih sibuk dengan lauk kami, Ananta hanya diam menatapku, sedangkan aku masih dengan usil memainkan sendok. Ia akhirnya mencari kesibukan dan membantu ibu menyiapkan piring.


“Rabu malam” ucapku memulai permainan. Aku akan mulai mengintimidasinya tentang hal itu.


“kenapa tidak datang? Kamu janji akan makan bersama kami kan” ucapku pura-pura tidak tahu.


“pergi ke perpustakaan, tanpa sadar aku pulang kemalaman” ucapnya membuat kebohongan untuk menutupi rahasianya.


“ahh, jadi jenius kita tiba-tiba tertarik dengan perpustakaan.” Ucapku menggodanya, biasanya dia sudah memahami semua materi tanpa harus secara khusus pergi ke perpustakaan. Sangat tidak mungkin seorang Ananta pergi ke sana sampai tidak makan malam di tempatku.

__ADS_1


“Sudah siap, kita makan sama-sama ya” ucap ibu yang datang tiba-tiba di tengah kami.


“tante, apa ayah menelpon kemari saat aku tidak mampir??”ucapnya tiba-tiba.


“ah, sepertinya tidak, aku belum dapat kabar darinya.” Ucap ibu, ya keluarga kami memang terlalu dekat hingga keadaan seperti ini mungkin terjadi. Keadaan di mana ibuku lebih tahu keberadaannya ayahnya daripada dia sendiri.


“oh, ayah tidak pulang lagi beberapa hari ini. Jika ada kabar apapun tolong beritahu aku tante” ucapnya serius, sudah ku bilang kan. Ayah Ananta itu, sedikit merepotkan.


“tentu saja” jawab ibu singkat, ibu selalu melakukannya tanpa diminta lagi.


“Oh iya bu…” ucapku menginterupsi, tentang suatu berita yang menarik.


“Shinta kemarin heboh menggosipkan sesuatu” ucapku sembari menggigiti paha ayam dengan lahap menghiraukan rasa penasarannya yang mengamati ku lekat-lekat.


“hm?? Gosip apa??” Tanya ibu penasaran, dan Ananta mencoba untuk tidak penasaran.


“Itu… tentang guru bahasa di kelasku” ucapku khusus untuk menggoda Ananta.


“Ternyata sudah punya pacar, ganteng lagi” ucapku. Ekspresi apa itu?, dia tetap dengan wajah lempengnya seakan dia memang sudah tahu. Ananta justru melempar senyum miris kearah ku. Dia mengejekku?


“ehm… dan. Katanya mau pindah ke Amerika bersama pacarnya” Ibu hanya ber ‘Oh’ria, sedangkan Ananta kini sedang menatapku dengan matanya yang melebar dua kali lipat. Oh dia tidak tahu tentang ini? Tiba-tiba ekspresi itu berubah sedih sampai aku merasa kasihan untuknya.


Bagaimana dia tahan menyukai orang yang sudah milik orang lain, lagi… bagaimana dia masih tegar dan mengejarnya se gigih itu??. Ah, Ananta tiba-tiba terlihat sangat menyedihkan di mataku.


“Kamu tahu dari mana?” Tanya ibu seperti mewakili Ananta yang kini bungkam. Dia masih berpura-pura kalau ini tidak ada kaitannya dengan dia.


“Aku, lihat di akun sosmed nya Bu Lita. Anak muda sekarang kan memang sering menggunakan itu untuk mengungkapkan perasaan.” Jawabku jujur.


Tiba-tiba perasaanku menjadi aneh. Aku seperti melemahkan kemauannya bertahan mengejar Guru yang dia cintai. Aku seperti sedang memutuskan harapan.

__ADS_1


Semua akan baik saja ‘mungkin’ jika dia tetap tidak tahu sampai hari guru itu pergi (yang sebenarnya belum diputuskan juga).


“Terimakasih untuk makanannya tante.” Ucapnya sopan setelah mencuci piring dengan lesu. Aku hanya bisa memandanginya dari jauh, menyesal, seakan itu semua salahku. Dia pamit, lalu menghilang di jalan yang gelap.


__ADS_2