
Aku benar-benar menangis di sekolah, menyedihkan sekali. Aku tidak tahu aku selemah ini kalau sudah tentang cinta. Aku beruntung, aku punya wajah yang tidak mudah membekas kalau menangis. Jadi, aku tidak perlu bingung menyembunyikan bekas air mata atau apapun. Hanya diusap saja lalu aku terlihat baik-baik saja. Setelah mengamati sekitar, aku bangkit. Kembali ke rute ku menuju kelas. Aku tidak peduli lagi kalau yang menghiburku tadi itu hantu atau manusia. Kalau bertemu paling aku hanya bisa bilang terimakasih.
Sampai di kelas, semua sibuk seperti biasa. Cenderung ramai sebenarnya. Karena jam istirahat kami belum benar-benar usai. Entah, waktu istirahat kali ini terasa jauh lebih lambat dari biasanya.
Mungkin, aku harus belajar lagi. Belajar menerima kalau tidak semua hal bisa berjalan seperti mau ku. Aku ingin Ananta mencintaiku, lalu dia mencintai guru muda kami. Aku dengan tidak tahu malu masih ingin dia mencintai ku sekali lagi, lalu dia bersama sahabatku sendiri. Sialan.
Sepertinya, sesuai keinginannya aku akan bisa memaki dengan benar setelah patah hati berkali-kali pada orang yang sama. Sekarang aku bertanya-tanya lagi. Apa waktu bisa benar-benar menyembuhkan luka seperti ini? atau seperti kata mereka aku butuh orang baru dulu?. Huft, kenapa masa remaja harus penuh dengan hal-hal memusingkan ini sih.
Aku menggelengkan kepalaku sendiri tanpa sadar sampai menarik perhatian teman sekelasku.
"kenapa kamu na?" panggilnya. Oh, harusnya aku tidak mengekspresikan perasaanku di sekolah.
"oh, tidak kenapa-kenapa. hehe" aku salah tingkah di buatnya. Alana... kamu harus diam, duduk manis seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah kamu tidak pernah patah hati atau apapun. Kamu anak baik yang selalu ceria, di sekolah atau pun di rumah. Sugesti seperti ini harusnya bisa membuatku bertahan sampai pulang ke rumah lagi kan, pikirku.
...****************...
__ADS_1
Pulang sekolah, aku pulang duluan. Secepat mungkin. Aku tidak peduli lagi apa ananta menungguku atau tidak. Tapi dari caranya menghampiri ku bersama shinta siang tadi, aku tahu dia tidak akan muncul.
Sampai di rumah aku memarkir sepeda di tempatnya, sedikit lebih rapi dari biasanya. Selanjutnya, buru-buru masuk kamar untuk membuka laptopku lagi setelah ku abaikan sejak kemarin. Aku membuka berkas pengaduan yang sudah aku persiapkan itu sekali lagi. Kali ini, kurasa aku sudah bisa melakukannya. Aku hanya, marah? cemburu? aku tidak yakin. Aku hanya membenci mereka berdua. Benar-benar membencinya. Mereka seperti bermain tarik ulur dengan perasaanku, sampai aku bingung mau merespon bagaimana. Tapi sekarang, aku tahu jelas. Aku membenci keduanya.
Aku memperbesar foto itu lagi. Ekspresi itu, lekuk wajah itu. Semua jelas, dan sekali lihat siapapun tahu itu Ananta dan Shinta. Melihatnya, terbayang lagi ekspresi Shinta dan Ananta siang tadi. Senyum yang terlihat menyebalkan. Sambil memejamkan mata, aku mengirimkan berkas pengaduan itu sekarang. Aku masih sedikit ragu, tapi aku juga ingin melihat, bagaimana ekspresi mereka berubah setelah seluruh sekolah tahu apa yang mereka lakukan.
Aku mengambil nafas panjang setelahnya. Berkas itu sudah terkirim dengan sukses. Tapi aku tidak yakin, apa perasaan ku benar-benar bahagia setelahnya. Aku pikir ini lebih dekat kepada penyesalan daripada kepuasan. Entahlah, yang pasti aku sudah melakukannya.
...****************...
Keesokan harinya sekolah menjadi sangat ramai. Jantungku berdetak tak karuan. Aku tidak yakin apa aku penyebab keramaian itu. Tapi setelah aku mendengar apa yang mereka bicarakan, aku tahu itu semua karena ulahku.
Teman-teman sekelasku terus berdebat. Beberapa mendukung dengan alasan Kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja terjadi, sungguh positif sekali pemikiran mereka. Feli ada di pihak mereka yang berpikiran positif itu. Lalu beberapa yang lain sudah mengatakan hal-hal buruk pada Ananta dan Shinta. Aku tidak memihak siapapun, aku hanya melaporkan apa yang ku lihat. Meski aku tidak bisa memungkiri ada faktor kebencian yang akhirnya membuatku melakukan hal bodoh ini.
Aku terdiam. Di tengah kehebohan ini aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Shinta. Apa dia baik-baik saja setelah ini?. Walau bagaimanapun aku tetap khawatir padanya. Dia masih satu-satunya sahabat dekatku.
__ADS_1
Tapi setelah aku mengamati lebih banyak, Ananta juga tidak ada di sana. Mereka pasti ada di tempat yang sama sekarang.
Karena penasaran aku mencarinya ke seluruh tempat, hingga pencarian berhenti di halaman belakang sekolah. Aku menyembunyikan diriku di lokasi yang tidak terlihat, tapi cukup dekat untuk mendengar perkataan mereka. Ananta menarik lengan Shinta dengan pelan, persis seperti adegan dalam sinetron ketika tokoh utama sedang ingin meminta maaf pada pasangannya. Tunggu, dia meminta maaf?
"Shinta." panggil Ananta penuh penyesalan. Dia ini kenapa sebenarnya. Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui lagi?
"tidak apa-apa. Lagipula aku memang berencana pindah dalam waktu dekat karena masalah dengan orang tuaku. Tapi sekarang sepertinya aku harus pindah lebih cepat." ucap Shinta tersenyum pahit. Dia yang biasanya songong dan sangat ceria itu hilang. Digantikan remaja seusiaku yang terlihat bersedih karena harus berpisah dari orang yang berharga baginya.
"Maaf, tapi itu semua terjadi gara-gara kamu mau membantuku. Harusnya aku yang disalahkan." ucap Ananta penuh penyesalan. Tunggu. Membantu? memang apa yang sebenarnya terjadi disini, dan kenapa Shinta harus pindah. Setahuku tidak ada peraturan yang mengharuskan mu pindah karena hal-hal seperti ini.
"sudah tidak apa-apa. Semoga keluargamu segera membaik. Dan, satu lagi. Aku titip pesan untuk Alana. Dia harus membaca pesan yang kutinggalkan di atap. Jangan sampai dia menyesalinya lebih banyak" ucap Shinta. Entah, aku tidak memahami satupun.
Keluarga Ananta kenapa lagi? dan bagaimana Shinta membantunya? Kenapa aku harusnya menyesal? pertanyaan-pertanyaan itu tertinggal di kepalaku tanpa satupun terjawab. Aku mungkin tidak akan mendengarnya dari Shinta lagi karena aku rasa aku tidak akan bisa menemuinya setelah ini.
Aku menepis pikiran yang muncul, aku mau mengamati mereka sekali lagi. Siapa yang tahu, ini mungkin kali terakhirku bisa melihat Shinta, sahabat dekatku.
__ADS_1
"sekali lagi terimakasih sudah mau menganggap ku teman" ucap Ananta lirih. Mataku melebar mendengarnya. Kalau mereka hanya teman lalu yang kulihat malam itu apa Ananta! aku rasa aku sudah berteriak andai kalimatku tidak ku pendam dalam hati. Mereka meninggalkanku dengan banyak pertanyaan yang tidak terjawab seperti ini, lalu aku harus bagaimana.
Oh, atap. Aku harus pergi ke atap untuk menemukan kebenaran dibalik semuanya.