Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Hidden story. chapter tiga belas POV


__ADS_3

Hari itu nyatanya menjadi awal untuk semuanya menjadi lebih buruk lagi. Saat aku pulang, wanita itu tidak di sana. Entah dia mengamuk kemana lagi. Aku mengobati luka ayah sebisanya. Melihat keadaannya yang semakin menjadi-jadi, aku tahu ayah tidak lagi bisa diandalkan seperti dulu. Bahkan juga dalam hal keuangan. Rasanya aku memang harus berusaha menghidupi diriku sendiri.


...****************...


Hari berikutnya aku berjalan tanpa arah. Memikirkan ulang berkali-kali, dan semua kesimpulannya memang sama. Sepertinya aku harus bekerja. Aku cukup tahu diri untuk tidak menyusahkan keluarga Alana sekali lagi.


Berhenti di depan sebuah bar. Anak seusiaku harusnya tidak boleh ke sana, tapi... rasanya bayarannya terdengar cukup adil dengan resikonya.


"kalau bekerja disini, mungkin akan cukup" pikirku. shiftnya juga pasti malam hari, jadi tidak mengganggu kegiatan sekolah. Tapi... aku bahkan tidak boleh masuk ke sana, apalagi bekerja. Bar itu cukup terbuka untuk umum sebenarnya tapi untuk anak dibawah umur biasanya harus di dampingi orang dewasa.


Sudahlah, aku tidak bisa mendaftar untuk bekerja juga.


"hei... mau masuk?" ucap seseorang membuatku kaget. Aku baru mau berbalik saat suara yang terdengar familiar itu memanggilku.


"shinta?" tanyaku. Kenapa dia disini bukannya anak di bawah umur tidak bisa masuk ke sana? kenapa dia malah terlihat keluar dari sana?.


Pada akhirnya aku ikut ke dalam juga. Bar itu adalah milik salah satu saudara Shinta, seorang paman dari pihak ibunya. Dia bercerita agak panjang sebelum menanyakan keberadaanku di depan barnya tadi.


"jadi... kenapa nyasar kesini? tahu kan tempat ini bukan untuk anak kecil" ucapnya enteng. Padahal dia seumuran ku tapi bicara seolah dia jauh lebih tua.

__ADS_1


"kita seumuran kalau kamu lupa."


"jawab dulu. atau aku akan berpikir buruk bahwa kamu kesini buat minum-minum" ucapnya. Hal yang wajar karena bagaimana pun tempat ini terkesan sebagai tempat berkumpul anak nakal. Tapi bagaimana aku mengatakannya.


"Tidak. Tenang saja" setelahnya aku diam agak lama.


"kalau aku bilang aku mau cari kerja, percaya nggak?" ucapku agak ragu.


"orang yang gengsinya besar gitu gimana mau kerja" ucapnya seperti sengaja mengejekku. Aku terdiam. Aku bukannya gengsi, aku hanya agak belum menerima keadaan saja. Bukankah harusnya anak seusia kami hanya fokus belajar.


"bukan cuma kamu. Disini banyak anak kecil yang kerja juga. Om ku itu agak terlalu baik, jadi bar ini sudah seperti tempat bakti sosial. Kalau mau, daftar aja" ucapnya enteng.


Dengan kalimat itu akhirnya aku benar-benar mendapatkan pekerjaan. Dan langsung saja hari-hariku sibuk dari pagi sampai malam. Rasanya waktu dan tenagaku terkuras habis untuk menghidupi diri sendiri.


...****************...


Beberapa bulan berlalu dan keadaannya masih sama. Agaknya sesuatu terasa kosong dalam hari-hariku yang di penuhi rutinitas yang sama, pendidikan dan mencari uang. Dengan bekerja di bar aku mendapat uang yang cukup untuk membayar uang sekolah, hanya saja gaya hidup dan makananku harus sedikit lebih irit.


Andai keadaan masih seperti dulu mungkin aku akan menumpang makan di rumah alana setiap hari untuk menghemat uang.

__ADS_1


Yah, agaknya aku sedikit merindukannya. Mi instan dengan rasa udang saja berhasil membuatku teringat pada alana. Apa dia masih membenciku sekarang?


Setelah waktu berlalu, gengsi untuk tidak mengganggu alana semakin kalah dengan rinduku pada senyum jahil itu. Tanpa dia hidupku yang kosong jadi semakin tidak berarti.


Memang benar, kita akan lebih menghargai kehadiran seseorang saat mereka tidak hadir lagi. Dan sekarang, kelakuannya yang agak konyol menjadi kenangan yang paling ingin aku ulangi. Dan lagi kesan terakhir itu, sepertinya aku belum meminta maaf dengan benar sebelum menghilang selama ini.


Akhirnya aku membuka ruang obrolan itu juga. Pertama kali setelah berbulan-bulan tidak pernah saling bicara. Aku tidak tahu mau memulai dengan apa. Hal yang membuat kami bertemu biasanya adalah makanan.


Makanan.


Aku menatap mi instan ku sekali lagi.


“Nanti malam aku mampir ke rumahmu ya, aku lapar.” begini saja. Mungkin akan terdengar jahat karena aku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi bagaimana lagi. Bilang rindu itu agak sedikit memalukan. Dan tiba-tiba meminta maaf itu terlalu aneh untuk dikatakan.


Aku menatap cemas ruang obrolan. Tanda notifikasi menunjukkan dia sudah membacanya, tapi dia hanya meninggalkannya terbaca dan tidak membalas agak lama.


Baru setelah satu jam dia membalas dengan jawaban singkatnya.


"iya" seketika aku tersenyum seperti orang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2