Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
empat belas. orang yang berbeda


__ADS_3

Suara sepanjang 10 detik itu ku ulang-ulang, terus hingga terngiang meski sudah tidak mendengarnya lagi. Hey, Ananta. Aku tidak pernah tidak bertemu kamu se-lama ini, aku tidak pernah menjauh dari kamu se-lama ini. Dan sekarang, rindu itu meledak-ledak.


Pikiran tentang orang baru sirna untuk sekarang. Kamu kembali di saat yang tepat. Hatiku ternyata masih berisi tentang kamu Ananta.


Aku sebenarnya juga tidak pernah tahu akhir cerita ini akan berjalan seperti apa. Tapi saat ini. Aku tahu jelas, aku masih mencintai kamu.


Diki yang masih duduk di depanku terasa tidak penting lagi. Lagi pula sejak awal dia memang hanya seorang teman.


"Diki, kita pulang" ucapku tanpa sadar tersenyum sangat lebar. Diki yang melihatnya ikut tersenyum. Entah, dia ini sangat polos sepertinya.


Aku menarik lengan bajunya sambil terus berjalan menuju kendaraan umun terdekat untuk buru-buru pulang. Aku sudah lupa dengan kue yang baru aku makan separuh. Ananta lebih penting sekarang.


...****************...


Hanya hari ini, hari iniii saja aku ingin bersikap biasa seperti sebelum kita saling benci gara-gara ulahku hari itu. Hari ini saja, aku ingin bertemu kamu seperti biasanya. Bisa saling meledek dan saling mencemooh. Hanya hal sepele itu yang aku rindu selama kita jauh.


“Hai” ucap Ananta di depan pintu, sangat berhati-hati seakan tidak ingin membuatku marah lagi. Aku hanya mengangguk. Tidak bisa. Setelah marahku hari itu, pastinya kami tidak bisa bersikap seperti biasa. Menatapnya saja membuatku canggung. Aku tidak berada di posisi untuk berani minta maaf setelah aku menjauhinya begitu.


“Ananta, sudah datang?” sapa ibu memecahkan suasana. Aku memberitahunya tadi, jadilah ibu memasak lebih banyak dari biasanya. Ananta mengangguk sopan dengan senyum manisnya.


“Ananta, sudah lama sekali kamu tidak mampir” Tanya ibu, satu satunya yang bisa memulai pembicaraan. Aku hanya menunduk, makan lebih khusyuk dari biasanya.

__ADS_1


“Iya tante, ada hal-hal yang harus Ananta kerjakan.” Jawabnya dengan tenang. Aku sudah lama tidak mengikuti kegiatannya. Jadi aku hanya mendengarkan apapun yang dia katakan.


“Bagaimana kabar ayahmu? Dia juga sudah jarang mengabari tante.” ucap Ibu kembali mengungkit tentang pria menyebalkan itu, membuatku kembali badmood saja.


“Ayah baik-baik saja tante. Sejak kejadian hari itu, dia jadi lebih bertanggung jawab.” Hari itu? Ada hal yang tidak aku ketahui?? Apa aku sudah tertinggal banyak hal.


“Dia menemukan pekerjaan yang cukup bagus dan berusaha memenuhi hutang-hutang kami” ucapnya. Ah, aku memang selalu tidak tahu apa-apa. Pasti dia menghadapi banyak masalah sendirian lagi seperti sebelumnya. Tapi melihat dia tersenyum, aku tahu dia masih baik-baik saja.


“makanlah sepuasmu, selagi disini.” Ucap ibu menyodorkan piring berisi udang terakhir. Namun dia menaruhnya di piringku. Aku hanya diam melihat. Terlalu tenang, terlalu diam dibandingkan hari-hari biasanya.


Keadaannya memang sedang berbeda. Dan apa yang dia lakukan? sekarang kamu lebih peduli padaku begitu? meski banyak berteriak dalam hati, aku hanya memakannya dengan patuh. Aku tidak boleh membuatnya menjadi tidak nyaman lagi atau dia akan menjauhiku lagi.


“tidak tante, biar saya bantu” tawar Ananta cepat. Segera dia mengambil piring-piring dan membawanya ke dapur. Aku mengikuti, membantunya sedikit. Apa apaan. Dia benar-benar bertingkah manis sekarang.


“kenapa jadi sok baik begini? Dasar licik” ucapku sinis, rasa marah itu masih ada meski aku mengelaknya. Aku senang dia datang, tapi aku tidak bisa langsung bersikap biasa saja kan.


“Sudah lama kita tidak bertemu, Aku senang kamu masih tetap naif” ucapnya masih dengan tenang. ekspresi nya tidak berubah banyak, tapi kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. Sebenarnya apa yang terjadi selama kami jauh? kelakuannya ini sangat bukan Ananta sekali.


“Iya, aku yang naif. Dan kamu si maha benar yang selalu membuatku terlihat paling berdosa.” Ucapku lagi. Aku kaget sendiri karena sudah mengatakan kalimat yang sedikit kasar itu. Jauh dalam hati aku tidak mau membuatnya marah.


“sepertinya kamu masih harus belajar lebih banyak, tentang cara memaki dengan benar. Aku ingin melihatmu lebih marah lagi. Agar aku bisa meminta maaf dengan benar” aku diam mendengarnya. Selama ini aku yang terus mengalah untuknya. Dan kali ini dia mengucap kata maaf duluan. Tidak benar-benar maaf bahkan. Tapi dia juga neminta aku mengeluarkan semua kemarahanku? serius? aku bisa menjadi monster tahu kalau marah.

__ADS_1


“ngomong-ngomong, kenapa kamu ambil banyak kelas tambahan akhir-akhir ini. Pasti sangat sulit” tangannya sibuk dengan sabun dan piring, tapi mulutnya lebih sibuk berbicara.


“Biar tidak bertemu denganmu.” Jawabku singkat, senyumnya mengembang. Aku tidak paham, semakin aku membencinya semakin Ananta menerima dengan sabar dan aku semakin marah melihatnya.


“Kamu sudah menemukan pacar?” kini dia membahas tentang hal itu. Memangnya dia tahu apa, dia tidak pernah memperhatikan aku.


“tidak.” jawabku yakin. Tapi itu bukan karena kamu Ananta. Aku belum menemukan orang yang tepat saja. Pikirku yang seperti membohongi diri.


“kenapa? Sepertinya Diki menyukaimu.” Ah, jadi dia tahu? Kalau aku sering bertemu Diki akhir-akhir ini?? Bagaimana bisa.


“tidak” dia mengatakan itu, seolah dia tahu segalanya. lagipula kenapa memangnya kalau Diki menyukaiku. Itu tidak akan memberi pengaruh apa apa baginya.


“Aku tahu dia sangat menyukaimu” ucapnya lagi. Cukup, kali ini aku memang marah.


“KUBILANG TIDAK!!” aku mendorongnya keras, hingga tak sengaja tanganku menyenggol kran hingga benda yang hampir rusak itu benar-benar rusak. Airnya mengalir deras hingga beberapa mengenai ku. Tapi Ananta dengan cepat menutupi tubuhku dan menutup krannya. Membuat bajunya basah.


“Dasar bodoh. Kamu hampir saja basah kuyup.” Ucapnya pelan, sangat pelan. Dia mengelap pipiku yang basah dengan lengan bajunya, sangat hati-hati seperti Ananta biasanya. Aku menatapnya lurus, untuk sesaat waktu rasanya berjalan lambat. Dia dalam kondisi yang lebih basah. Kenapa melindungi ku.


“Kamu… harus ganti baju” ucapku gugup. Segera pergi dari hadapannya. Aku menatap cermin di kamarku. Sisa busa dari tangan Ananta menempel di lengan bajuku. Kenapa dia jadi semanis ini pikirku. Kamu selalu membuatku tidak bisa tidak memikirkan orang lain selain kamu Ananta… ucapku putus asa dengan diriku sendiri.


“ganti bajumu” ucapku menyodorkan kaus ayah. Dia menerimanya. Dan aku segera berbalik saat dengan tidak tahu malu dia berganti baju di depanku. Dia masih Ananta yang sama seperti dulu, bedanya Ananta yang sekarang, dia selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat sepanjang waktu.

__ADS_1


__ADS_2