Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
delapan belas. Cemburu


__ADS_3

Aku mengambil banyak foto lagi setelah istirahat selesai, diakhiri menatap layar kamera sambil tersenyum, banyak gambar yang membuat ku puas. Setelahnya aku menghampiri orang yang dimaksud Diki tadi.


Menyapanya dengan sedikit gugup. Sekali lihat aku sudah tahu kalau beliau ini guru pembimbing dari kegiatan teater. Aku menunjukkan hasil fotoku di kamera. Sama seperti ku, orang itu tersenyum puas.


"Mau ikut club fotografi? Hasilnya sangat bagus, meski butuh sedikit polesan" ucapnya terlihat menilai fotoku sekali lagi.


"eh, serius?" tanya ku tanpa sadar. Harusnya aku berkata dengan lebih sopan karena yang ku ajak bicara sudah bukan siswa seperti ku, tapi guru pembimbing yang dari wajahnya memang terlihat hampir seusia dengan teman-temanku.


"oh, maaf Pak. Saya kurang sopan." ucapku sebelum mendapat kartu merah dari kelakuanku barusan. Dasar, aku disini hanya mau membantu, bukan mencari masalah.


"Tidak apa-apa, Anak-anak biasanya juga mengobrol dengan saya seperti dengan teman sendiri" ucapnya lagi. Guru muda itu tersenyum.


Aku tahu sekarang, kenapa ananta bisa suka dengan bu lita. Guru muda di sekolahku memang cantik dan tampan. Aku memukul kepala ku sendiri untuk menepis pikiran nakal barusan. Sudah, aku tidak mau mengulangi kesalahan ananta waktu itu.


"dan saya serius. Kamu harus mencoba bergabung dengan club fotografi" balasnya lagi. Aku merasa sedikit aneh sebenarnya karena Diki meminta bantuan ku. Padahal seharusnya ada banyak anak bertalenta di club fotografi yang bisa dia mintai bantuan. Tapi dari semuanya di memilih mencari ku. mungkin, hal ini jadi satu alasannya, supaya aku bisa berbicara langsung dengan orang ini.


"bukannya sudah terlambat kalau bergabung sekarang?" tanyaku. Sekarang ini aku sudah di tahun kedua, kebanyakan pasti sudah memilih club paling lambat di tahun pertama semester kedua. Aku bisa dibilang sudah sangat terlambat untuk mendaftar.


"club fotografi peminatnya masih sedikit, jadi kamu bisa bergabung kapan saja" ucapnya dengan santai. Jadi, dia ini sedang benar-benar memujiku atau hanya sedang mencarikan anggota club fotografi sih. Aku mulai curiga.


"humm... baiklah, akan saya pertimbangkan. Kalau memang saya bisa membagi waktu saya akan mendaftar." balasku masih berusaha bersikap sopan. Aku sendiri tertarik sebenarnya, meski bisa jadi hanya untuk menambah jumlah anggota. Aku hanya ragu apa aku rela mengorbankan waktu berhargaku untuk hobi yang sering aku tinggalkan karena bosan itu. Tapi, kalau di fikir-fikir lagi, memang belum ada sesuatu yang bisa membuatku lebih antusias dari bermain kamera, selain ananta mungkin?.


Entahlah. Aku tidak tahu.

__ADS_1


Setelah perbincangan ku dengan guru pembina itu waktu terasa berjalan lebih cepat. Tiba-tiba saja latihan hari ini di tutup oleh pelatih. Diki cepat-cepat menghampiri ku setelah mengemas kostumnya.


"jadi, bagaimana?" tanya Diki penuh antusias.


"bagaimana apanya?" tanyaku heran.


"Apa kata pak adi?" oh. Jadi benar dia meminta bantuanku untuk ini...


"Kenapa, kamu mau memaksaku ikut kegiatan club fotografi?" tanyaku menebak isi pikirannya saat ini. Dan tebakan ku pasti benar karena sekarang dia terlihat salah tingkah.


"Tapi selain itu, kami memang benar-benar butuh juru kamera kok" ucapnya kemudian.


"okay aku paham." balas ku singkat. Tidak perlu berdebat panjang lagi tentang hal tidak penting ini.


"aku bisa bantu beres-beres" ucapku. Diki mengarahkan untuk membantu mengemasi properti. Tapi saat aku baru membantu sedikit, teman Diki yang lain menyuruh kami beristirahat. Katanya, aku sudah terlalu banyak bekerja. Dia melirik ke arah Diki dengan senyum yang mencurigakan. Ah, kenapa lagi dengan orang-orang ini. Aku justru merasa aneh kalau tidak melakukan apa-apa disini. Tapi karena sudah diperlakukan begitu akhirnya aku hanya duduk di bangku penonton sekali lagi.


Aku mengamati mereka yang berbaur menjadi satu. Tidak terlihat lagi siapa pemeran utama dan figuran, semua bekerja. Kecuali aku dan Diki.


“Diki… menurutmu. Apa ada pemain figuran dalam kehidupan nyata?” tanyaku, kalimat itu terlontar begitu saja.


“hmm. Tidak ada. Karena selama ada cinta di dalam hati seseorang, maka semua orang adalah pemeran utama.” Ucapnya, tersirat senyum bangga diwajahnya. Seolah dia juga pemeran utama itu. Tapi, pemeran utama dalam cerita pun ada yang berakhir tidak bahagia. Pikirku.


“ya. Kita semua adalah pemeran utama” ucapku tersenyum pahit. Aku mungkin salah satu pemeran utama yang kehidupannya tidak begitu bahagia.

__ADS_1


"Diki. memangnya tidak apa-apa kita hanya menonton?" tanya ku. Sedikit salah tingkah karena guru pembina yang tadi ku ajak bicara sekarang ikut membantu beres-beres.


"kalau mau pulang sekarang pun tidak apa-apa. Aku sudah berterimakasih kamu mau bantu." jawabnya lagi.


"sungguhan?" kalau sudah di usir begini aku hanya bisa segera pulang kan. Diki mengangguk sekali lagi. Kalau sudah begitu, ya sudah... aku pulang.


"kalau begitu aku pulang dulu." Aku beranjak pergi, berjalan pelan sampai mencapai pintu. Pintu itu benar-benar berat, engselnya sudah pasti hampir rusak. Aku keluar dari ruangan, seperti baru keluar dari goa karena cahaya di luar ruangan terlihat lebih terik.


Setelahnya aku menutup pintu itu lagi. Aku tidak mau membiarkan nya tertutup sendiri, itu menakutkan.


Setelahnya aku merasa merinding seperti sedang ditatap seseorang. Memangnya tempat ini benar-benar berhantu?


"Sudah selesai?" panggil seseorang membuatku menoleh dengan kaget. Aku mengerjapkan mata tidak yakin dengan apa yang ku lihat. Ananta berdiri di samping pintu, punggungnya bersandar pada tembok besar dengan wajahnya menoleh lurus ke arahku. Kenapa dia disini? pikirku. Tidak ada shinta disini. Pikirku tidak bisa tidak mencari shinta di setiap keberadaan ananta.


"kenapa kesini?" tanyaku takut-takut. Dia ini memang selalu berwajah dingin, tapi kali ini wajahnya sedikit lebih menyeramkan dari biasanya.


"ayo pulang" Aku melongo mendengarnya. Seorang ananta? menungguku di depan gedung teater? hanya untuk mengajakku pulang? lebih normal dia mencari ku karena marah atau apa pun. Mendengarnya aku hanya mengangguk sedikit sebelum mengikutinya yang berjalan lebih dulu.


Memang sebanyak apa perubahan ananta, sampai-sampai dia menghampiri ku lebih dulu dan menunggu untuk pulang bersama. Biasanya selalu aku yang mencarinya, meski beberapa bulan ini aku sudah tidak melakukannya.


Aku tidak berani bertanya. Tidak berani tersanjung juga meski perlakuan ini terasa seolah dia membalas perasaanku yang sudah coba ku hilangkan sejak lama.


Sampai di parkiran sepeda aku gugup, dia memintaku berjalan lebih dulu. Dia mengikuti dibelakang ku, hal yang membuatku merasa tidak nyaman karena terasa seperti gerak gerik ku di awasi.

__ADS_1


__ADS_2