Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
dua puluh tiga. Orang yang tak diinginkan


__ADS_3

Aku menatap Diki yang entah bagaimana bisa berada di tempat persembunyian yang sebelumnya hanya aku dan Shinta yang tahu. Dia menatap ku dengan gugup, dan apa katanya? mengatakan sesuatu? aku harap itu bukan sesuatu yang aku pikirkan.


"mau bicara apa?" tanyaku tidak sabar. Sebenarnya sekarang aku hanya ingin pulang, hatiku sudah cukup lelah dengan penyesalan yang belum mereda. Tapi dari caranya menatapku, rasanya dia akan menahan ku agak lama disini.


"awalnya, aku mengira kamu membenciku karena di awal pertemuan kita kamu seperti menghindari ku" ucapnya pelan. itu memang benar. Karena kamu hanyalah kenalan yang aku kenal dari game. Tempat dimana kebanyakan hanya orang-orang yang ingin bermain, bukannya mencari teman.


"tapi setelahnya aku sedikit kaget karena tiba-tiba kamu menghampiriku duluan" lanjut Diki dengan suara yang sedikit lebih keras.


ah, maaf. Waktu itu aku hanya butuh teman. Tapi aku selalu menjelaskan sejak awal kalau aku tidak mau orang ini berharap lebih padaku, aku menganggapnya sebagai teman. Teman yang baik.


"Setelah kita semakin dekat selama beberapa lama. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku harus mengatakannya." Kalimat aneh itu, tolong jangan mengatakannya padaku. Bisakah seseorang membawaku pergi dari sini saja?


"Alana." panggil orang lain yang baru datang. Oh, itu Ananta. Sekarang bahkan Ananta juga tahu tempat ini. Sudah pasti Shinta yang memberitahunya, siapa lagi. Tapi, untuk apa dia disini sekarang.


Dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap tajam sambil menghampiri di tempatku berdiri. Dia mendekat dengan tergesa-gesa. Ada apa lagi sekarang.


"tunggu, aku belum selesai bicara." ucap Diki menghadang Ananta. Situasi aneh apa lagi ini. Aku mau pulang.


"Aku ada urusan dengan Alana." ucap Ananta, suaranya terdengar menyeramkan. Apa dia sedang marah? tunggu. Tentu saja dia marah, dia pasti marah padaku.


"Aku bilang aku belum selesai bicara." Sekarang Diki menghadap ke arah Ananta, membelakangi ku yang masih terdiam tidak paham. mereka ini kenapa.

__ADS_1


Ananta menepis bahu Diki sambil terus berjalan, hingga tiba-tiba Diki memukulnya dengan keras. Aku terkejut, tidak percaya dia berani melakukannya pada Ananta yang terlihat seram. Tapi detik selanjutnya aku lebih kaget lagi saat Ananta membalas pukulan itu sama kerasnya. Mereka ini, kenapa jadi bertengkar disini.


"hey hey, tolong kalian ini kenapa?" tanyaku panik. Aku tidak bisa hanya melihat saat sudut bibir Ananta mulai terlihat berdarah karena perkelahian mereka masih berlanjut dengan saling memukul secara acak. Aku hampir menjerit saat Diki memukul wajah Ananta lagi berkali-kali.


"BERHENTI!!" teriakku. Mereka ini bukan anak kecil lagi kenapa bertingkah seperti ini. Ananta melemparkan tinjuan terakhirnya hingga Diki jatuh ke tanah.


Mendengar ku berteriak mereka akhirnya menoleh ke arahku. Ananta terlihat mengatur nafasnya yang memburu.


Sekarang setelah mereka berhenti aku ingin segera mengobati luka Ananta, tapi sedetik kemudian aku ragu. Dari caranya memandangku, menurutku Ananta tidak mengetahui semuanya, dan aku tidak yakin apa dia nanti mau memaafkan ku karena aku sudah mengadukannya ke komite sekolah karena mengira dia sedang berkencan dengan Shinta hari itu.


Aku tidak bisa menilai ekspresinya sekarang. Aku mengalihkan perhatianku pada Diki yang terlihat kesakitan. Dan tubuhku bergerak sendiri untuk menolongnya berdiri. Aku merasa bersalah karena entah bagaimana aku membuatnya terlibat dalam pertengkaran ini, ini pasti kesalahanku lagi.


Aku membantu Diki untuk pulang ke rumahnya, meninggalkan Ananta yang masih terpaku di tempat yang sama. Sebentar Ananta, aku akan mencari mu lagi nanti. Aku harus menolong Diki dulu sekarang.


Sampai di rumah Diki, ibunya menyambut dengan tatapan kaget. Pasti jarang sekali anaknya pulang dengan luka di wajah. Maaf, itu semua terjadi gara-gara dia mengenalku.


"mohon maaf tante, ini semua karena saya" ucapku penuh penyesalan.


"bukan kamu kan yang memukul Diki?" Tanya perempuan paruh baya itu. Khawatirnya sama seperti ibuku, duluu sekali saat aku masih kecil.


Aku menggeleng mendengarnya, aku bukan memukulnya tapi dia dipukul gara-gara aku.

__ADS_1


"kalau begitu ya sudah. kamu tidak perlu minta maaf." jawabnya. Bahkan ibunya juga sangat baik. Dia membantuku memapah Diki untuk duduk di sofa ruang tamu. Dia mengecek keadaan anaknya dengan hati-hati. Pasti banyak luka di sana, dia meringis melihat pipi Diki yang kini mulai lebam. Dia mengambil kotak obat yang terlihat hampir baru. Keluarga mereka sepertinya memang sangat jarang terluka. Aku mau membantunya, karena tidak enak rasanya membuatnya babak belur begini tapi aku tidak membantu apa-apa. Tapi wanita itu menepis tanganku dengan pelan.


"Sudah sini biar ibu yang obati. Alana harus pulang, sekarang sudah sore" lanjutnya. Terimakasih, aku memang harus buru-buru pergi sekarang.


Diki menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ya sudahlah. Aku akan bicara dengannya lagi besok.


"kalau begitu saya pamit dulu tante" ucapku dengan sopan sebelum melangkah menuju sekolah lagi.


Aku kembali ke atap untuk memastikan keberadaan Ananta. Dan tentu saja, dia sudah tidak berada di sana. Dia pasti marah padaku. Bagaimana pun aku sudah melakukan hal yang jahat karena sebuah prasangka.


Aku menatap sedih pada atap sekolah yang kini kosong. Senja terlihat cantik dari sini, tapi sekarang rasanya sangat berbeda saat aku melihatnya sendirian. Biasanya aku melihatnya bersama Shinta. Dia akan menggodaku sebagai anak senja karena aku heboh sendiri saat melihat semburat orange di langit. Momen-momen itu, setelah ini benar-benar tidak bisa terulang lagi kan.


Aku masih tidak percaya pertemanan kami akan secepat ini berakhir. Aku tidak sadar, ternyata perempuan konyol yang aneh dan cerdas secara bersamaan itu bisa juga aku rindukan.


Sudah, sudah. Sekarang waktunya mencari Ananta. Setelah kehilangan Shinta, aku tidak mau kehilangan Ananta juga. Entah nantinya kami akan kembali menjadi teman atau apapun yang pasti aku mau tetap bersama Ananta.


Aku kembali ke parkiran sepeda. Ada sebuah payung di keranjangku. Aku menatap ke arah langit lagi.


"buat apa. Hari ini tidak hujan." ucapku dengan hampa. Payung itu tidak berguna hari ini.


Tapi tunggu, payung ini payung yang kubuang di hari aku melihat Ananta dan Bu Lita di pinggir danau. Kenapa dia bisa disini lagi. Tidak mungkin Ananta memungutnya. Buat apa?

__ADS_1


Aku membukanya, polanya sama. Ini payung yang sama. Apa ini artinya, Ananta memang mengambilnya kembali? lalu dia juga yang meletakkannya disini?


Aku berjalan dengan lambat saat keluar dari gerbang sekolah. Masih sedikit bengong dan sedikit tidak percaya. Jadi, Ananta tahu aku mengikutinya hari itu?


__ADS_2