
Setelah hari itu, semua berjalan seperti biasanya. Yang berubah hanya perasaanku. Tekad untuk membenci Ananta diam-diam pun masih ada. Bertambah besar malah. Dia memberiku coklat malam itu. Aku pasti sudah jatuh cinta padanya andai aku tidak tahu apa yang dia lakukan sebelum menemui ku.
Tapi sayangnya, aku tidak tertipu lagi. Aku masih menerimanya, tapi dengan perasaan yang jauh berbeda. Coklat kesukaan ku bahkan tidak membuatku berselera karena Ananta yang memberikannya. Entah, benda itu mungkin sudah berakhir di tempat sampah juga, seperti hadiah yang aku buang semalam.
Hari ini di sekolah. Semua berjalan seperti biasa. Ananta mengajak ku bicara, dia pasti tidak tahu apa-apa. Aku hanya tersenyum tipis sesekali padanya. Aku harus menahannya lagi. Tidak boleh terlihat kalau ada yang sudah berubah dalam hatiku yang seperti mati rasa.
"Na, tugas hari ini udah selesai?" panggilnya. Entah, aku diselimuti perasaan tidak enak dan canggung yang mungkin hanya ku rasakan sendiri. Ananta mungkin tidak akan memperhatikan bagaimana ekspresi berubah dari sebelumnya.
"hmm sudah" ucap ku singkat. Aku berusaha keras supaya tidak membutuhkan kamu lagi tahu! aku tidak mau lagi bergantung pada orang yang hanya bisa mempermainkan orang lain seperti kamu.
"oh," jawabnya singkat. Dia memang sejak dulu tidak banyak bicara, tapi akhir-akhir ini semakin jarang lagi karena respon ku yang selalu dingin.
"Hai." panggil Shinta dengan senyum manisnya seperti biasa. Dia menghampiriku dengan senyum manis. Aku muak melihatnya. Dia tersenyum saat melirik ke arah Ananta. Bergantian melihat Ananta dan aku. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi itu sangat mengganggu ku.
Dia menarik ku sedikit menjauh. Dia mungkin tidak mau Ananta mendengarnya. Aku hanya memutar bola matanya ku sebentar sebelum menatapnya lagi.
Aku sudah menunggu untuk kalimat-kalimat sarkas yang biasa Shinta ucapkan kepada ku. Tapi kali ini, dia lebih tenang daripada biasanya. Aku menebak, alasannya pasti adalah apa yang ku lihat tadi malam. Dia pasti sangat bahagia melihatku tidak tahu apa-apa.
Sudah tiga bulan sejak aku berjauhan dengan Ananta, dan aku tebak... selama itu juga Shinta mendekatinya diam-diam di belakang ku.
__ADS_1
"aku sungguh ingin memberitahumu sesuatu. Tapi ini akan menjadi rahasia kita berdua. Jadi aku akan memberitahumu di atap." ucapnya penuh misteri. Tapi sayangnya, aku tidak peduli lagi.
"sst, ini tentang Ananta." ucapnya lagi tersenyum dengan sedikit mencurigakan.
"kali ini aku sudah memastikannya." lanjutnya, sangat ceria. Sekarang kamu sudah memutuskan untuk memberitahu ku kalau kamu berhasil memacari Ananta? begitu? sudah cukup lah berpura-pura baiknya. aku muak. Aku tahu kamu sudah berhasil merebutnya dariku, oh. Sejak awal juga Ananta tidak pernah menjadi milik ku.
"oke" balas ku singkat. Aku malas bicara banyak kepadanya. Dia memintaku pergi ke atap saat pulang sekolah, tapi aku mengabaikannya. Aku sudah tahu apa yang mau dia katakan. Jadi aku merasa tidak perlu mencarinya lagi. Aku memilih pulang. Mengerjakan lembar pengaduan di website sekolah. Sesuatu yang kemungkinan besar akan membuat Ananta membenciku kalau dia tahu apa yang aku lakukan.
Tapi, setelah semua siap, ternyata aku masih ragu untuk benar-benar melakukannya. Bagaimanapun aku masih menganggap Shinta sebagai sahabat yang baik. Dia menghibur ku saat aku terpuruk. Andai bukan karena Ananta, kami pasti tetap bersahabat baik. Sudahlah. Aku akan mengirimkan pengaduannya besok.
...****************...
"Alana, sedang marah lagi?" tanyanya. Dia banyak mengamati ku, sampai-sampai dia paham kalau aku hanya bermain game saat perasaan ku berantakan. Seperti tiga bulan yang lalu. Saat aku masih berjauhan dengan Ananta. Rasa kesal itu hanya terobati beberapa lama, sampai perasaan itu kembali saat aku menemukan fakta tentang Ananta dan Shinta. Menyebalkan.
"sedikit." balas ku singkat.
"kata sarah, kamu pintar mengambil gambar. Klub drama mau mengadakan pentas minggu depan. Mau bantu jadi juru dokumentasi?" tulisnya. Benar, mungkin aku butuh kesibukan untuk melupakan sakit hati yang kudapatkan berkali-kali itu. Semoga saja bisa membuatku lupa tentang perasaan ku pada Ananta. Kabur sesekali boleh kan. Meski aku akan tetap melihatnya lagi di ruang makan. Dia sudah tidak mengajariku lagi. Dia bilang dia sibuk. Syukurlah, jadi aku tidak perlu terlalu sering melihatnya.
"hummm boleh, aku sedang mencari kesibukan." kataku.
__ADS_1
"aku tahu, kegiatan itu sedikit lebih baik daripada kamu bermain game saja sepanjang hari." ucapnya seperti mengejekku. Tapi aku tidak akan protes. Lagipula itu benar.
"maaf, aku mengatakannya berdasarkan pengalaman pribadi." ucapnya buru-buru. Tidak perlu begitu, aku bahkan tidak sakit hati sama sekali.
"tidak perlu minta maaf. Itu benar kok" balas ku jujur.
"kamu bisa datang ke gedung teater besok siang." lanjutnya. Oke. Mari mencari kesibukan, siapa tahu keberadaan ku akan sedikit lebih berguna di tempat lain. Daripada menjadi pengganggu dalam hubungan seseorang.
"siap. Aku bawa kameraku sendiri." ucapku. Yah, kamera ayah masih yang terbaik. Aku sudah membuktikannya sendiri. Bahkan hasil foto Ananta dan Shinta kemarin terlihat sangat bagus. Aku tersenyum pahit setiap mengingatnya. Yah, kenyataan memang menyakitkan, sudah lebih baik mereka tetap menjadi rahasia saja.
"terimakasih" jawab Diki, harusnya aku yang bilang begitu. Dia ini selalu punya sesuatu untuk membuatku merasa lebih baik. Tapi, aku rasa aku tidak ingin memberinya harapan. Aku tidak cukup pantas untuk diberi perhatian setulus itu oleh orang baik ini.
Aku menghela nafas panjang lagi. Ananta. Aku harus bagaimana, kalau aku masih tetap menyukaimu setelah semua yang terjadi. Aku muak, tidak bisa percaya apapun kata-katamu lagi. Semua gerak-gerikmu yang seolah kamu membalas perasaan yang sudah lama ada padaku membuatku ragu. Tapi pada akhirnya kamu membuatku sakit lagi.
Belum puas membuatku kecewa karena kamu mendekati wanita itu, sekarang kamu merebut sahabat dekatku satu-satunya?. Aku harus bagaimana Ananta.
Aku mengamati berkas pengaduan itu sekali lagi. Ini akan berakhir membuatku menjadi orang jahat. Entah apa konsekuensi yang akan di dapatkan Ananta dan Shinta karena ini. Aku takut. Tapi perasaan tertipu dalam hatiku rasanya lebih besar lagi. Tiga bulan ini entah apa yang kalian lakukan selama aku tidak menyadarinya. Menertawakan aku dalam diam?
Masih pantas aku menyembunyikan fakta yang kalian lakukan? berkencan di sebuah bar saat kalian masih seorang siswa SMA. Ah. Sebentar. Aku janji aku akan memprosesnya besok. pikir ku menjauhkan laptop dari jangkauan ku sendiri. Aku mengurut pelipis, ah perasaan ini melelahkan. simpati dan kebencian di saat yang bersamaan. Aku bingung.
__ADS_1