
Setelah hari-hari sulit yang cukup lama itu akhirnya aku kembali ke sini. Keluarga orang lain yang lebih terasa rumah dibanding rumahku yang sebenarnya. Halamannya tidak tampak berubah, bahkan bunga yang mekar di sana tetap sama.
Pintunya terbuka, mereka jelas menyambutku.
Dengan ini aku merasa... pulang.
Aku mengintip ruang tamunya yang sedikit berubah. Benda-benda yang rusak hari itu sudah dibuang membuat beberapa sisi ditinggalkan kosong tanpa hiasan. Mungkin mereka takut seseorang datang dan merusaknya lagi kalau di ganti. Melihatnya membuatku merasa bersalah.
Setelah lama mengedarkan pandangan, orang yang kurindukan itu akhirnya muncul di depan mataku. Kenapa melihatnya menjadi terasa jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya? apa ini yang mereka bicarakan tentang menghargai setelah kehilangan? bertemu saja sudah membuatku sangat bahagia.
“Hai” sapaku. Canggung melingkupiku. Dia orang yang kukenal selama bertahun-tahun tapi bertemu lagi begini membuat kami seperti dua orang asing yang tidak tahu mau berkata apa.
Aku harus menahan senyum sekuat tenaga, menekan perasaan senang yang tadinya sempat ingin meledak. Nyatanya saat bertemu, hal yang berlalu tidak bisa dilupakan begitu saja. bisa saja dia hanya beramah tamah saat membiarkanku datang ke rumahnya. Yah, aku harus bersikap baik padanya lebih dulu untuk mengembalikan semua ke tempatnya semula.
“Ananta, sudah datang?” sapa tante dengan ramah. Dia muncul dari arah dapur, memasak sesuatu yang berbau harum. Dengan itu aku kembali ke ruang makan dan ikut makan malam bersama.
“Ananta, sudah lama sekali kamu tidak mampir” tentu saja, aku berusaha tahu diri selama ini.
“Iya tante, ada hal-hal yang harus Ananta kerjakan.” balas ku. Beliau ini benar-benar seperti sosok ibu yang penyayang, wajahnya yang khawatir itu jauh lebih tulus dari ekspresi apapun yang pernah kulihat. Dia selalu menampakkan kasih sayang orang dewasa yang jarang aku dapat.
__ADS_1
“Bagaimana kabar ayahmu? Dia juga sudah jarang mengabari tante.” ucapnya membahas orang yang paling tidak ingin aku bicarakan. Dia masih sama, berantakan.
“Ayah baik-baik saja tante. Sejak kejadian hari itu, dia jadi lebih bertanggung jawab.” Ucapku tidak sepenuhnya berbohong, setidaknya orang itu masih hidup dan menanyakan kabarku sesekali meski itu pun sangat jarang. Dia segera pergi lagi setelah kembali sadar, meninggalkan beberapa uang lalu menghilang.
“Dia menemukan pekerjaan yang cukup bagus dan berusaha memenuhi hutang-hutang kami” lanjut ku. Yah, biar beliau mendengar keadaan sebenarnya dari ayah saja, aku tidak mau membuatnya khawatir. Setidaknya dalam keadaan yang sekarang aku bisa menghidupi diri sendiri meski sangat pas-pasan.
“makanlah sepuasmu, selagi disini.” Ucap tante yang kali ini memberikan lauk pauk ke piring alana lebih dulu sebelum memenuhi piringku. Aku hanya tersenyum melihat alana menatap takjub akan hal itu. Bukankah wajar seorang ibu menyayangi putrinya? aku harap ke depannya dia akan lebih peka dan lebih menghargai ibunya.
“Sepertinya akan hujan, Ananta. Kamu cepat pulang saja daripada kehujanan di jalan. Alana, kali ini kamu yang cuci piringnya ya” perintah tante setelah kami selesai makan. Tapi rasanya, aku tidak ingin segera pergi. Beberapa puluh menit terasa terlalu singkat untuk momen yang terjadi.
“tidak tante, biar saya bantu” ucapku mendahului alana yang bersiap mengambil piring kotor. Meski bermaksud menggantikan tugasnya, dia tetap mengekoriku ke dapur.
“Sudah lama kita tidak bertemu, Aku senang kamu masih tetap naif” balasku tersenyum atas kelakuannya yang masih sama saja.
“Iya, aku yang naif. Dan kamu si maha benar yang selalu membuatku terlihat paling berdosa.” balasnya tidak mau kalah untuk membuatku merasa bersalah.
“sepertinya kamu masih harus belajar lebih banyak, tentang cara memaki dengan benar. Aku ingin melihatmu lebih marah lagi. Agar aku bisa meminta maaf dengan benar” Ya, luapkan emosimu biar aku bisa menghadapimu dengan benar alana. Aku pantas untuk itu.
“ngomong-ngomong, kenapa kamu ambil banyak kelas tambahan akhir-akhir ini. Pasti sangat sulit” lanjut ku setelah tidak mendengarnya menjawab perkataanku.
__ADS_1
“Biar tidak bertemu denganmu.” Jawabnya singkat. Kalau begitu aku harus minta maaf karena menggagalkan rencanamu dengan menemuimu lagi. Aku tersenyum dengan getir. Rasanya tetap sakit saat aku berubah menjadi orang yang alana benci.
“Kamu sudah menemukan pacar?” tanyaku basa-basi. Entah kenapa aku ingin menanyakannya, sengaja memastikan apa kesempatan ku benar-benar sudah hilang.
“tidak.” jawabnya. Seketika rasa sesak di dadaku seakan berkurang.
“kenapa? Sepertinya Diki menyukaimu.” ucapku lagi, tapi kuharap kamu tidak membalasnya, sekalipun dia lebih baik dariku.
“tidak” jawabnya sangat yakin, padahal dilihat dari sisi manapun terlihat jelas Diki menyukainya.
“Aku tahu dia sangat menyukaimu” lanjut ku, aku senang kamu tidak membalas perasaannya. Ternyata menjadi jujur terkadang membuatku menjadi orang jahat yang tidak menginginkan kebahagiaan orang lain.
“KUBILANG TIDAK!!” ucapnya sedikit berteriak. Dia... marah?
Air kran yang rusak mengalir deras hingga memercik ke arah Alana. Aku segera menghalangi air itu sebelum dia benar-benar basah.
“Dasar bodoh. Kamu hampir saja basah kuyup.” ucapku kesal, menjaga diri sendiri saja dia tidak bisa, bagaimana aku bisa meninggalkannya dalam pengawasan orang lain? aku tidak mau, juga tidak rela. Aku mengusap pipinya yang basah. Dia tidak boleh kedinginan seperti ini.
“Kamu… harus ganti baju” ucapnya segera menghilang dari hadapanku sebelum kembali membawa kaus berukuran besar.
__ADS_1
“ganti bajumu” Aku menerimanya dengan patuh. Aku senang. Meski masih marah, setidaknya dia sudah peduli lagi padaku, itu sudah terhitung sebagai kemajuan.