
Aku hidup dalam dunia yang membuatku sesak. Hanya bernafas saja rasanya salah, dan segala hal yang ada tidak sekalipun membuatku bahagia.
Hidupku kosong, Waktuku terhenti sejak ibu tidak ada. Semua orang berusaha keras menjadi pengganti, tapi puzzle yang rusak tetap sama. Aku bisa bilang diriku tegar, tapi rasa kehilangan itu masih ada dan menghantuiku di mana-mana. Kehilangan ibu seperti kehilangan separuh hidupku. Sisanya melayang tanpa arah dan tujuan. Aku hanya menjalani apa yang ada. Sambil sesekali menertawakan hidup sendiri yang tidak pernah benar. Bahkan sosok ayah juga memperkeruh semuanya. Bukannya menjadi obat, dia malah menambah luka. Sudahlah, aku bahkan malas membahasnya. Asalkan uang sekolahku tidak menunggak itu sudah cukup untuk saat ini. Biar dia juga melayang pergi, mengobati lukanya atau sekalian menghilang saja dari hidupku tidak akan ada bedanya lagi. Dia sudah lama tidak pernah hadir. Jadi akupun melupakannya juga.
Nampaknya hanya senyum yang terlihat sedikit bodoh itu yang membuatku bertahan dengan sedikit sisa kewarasan. Orang yang selalu memilih bersikap baik bagaimanapun dunia memperlakukannya. Dia manusia yang setiap isi pikirannya terlalu jelas sampai-sampai aku malas membacanya. Menatapnya, menyenangkan juga. Melihatnya hidup dengan ceroboh menjadi sebuah hiburan yang membuatku kadang tersenyum diam-diam.
Krakkkk.
Sepedanya rusak lagi, seperti biasanya... dia juga sedikit merepotkan. Tapi, anehnya aku merasa senang direpotkan olehnya. Ulahnya setiap hari membuat hidupku terasa sedikit menyenangkan. Dia terlihat bodoh meski sebenarnya pintar sedikit. Dia tahu cara meminta tolong tanpa merengek seperti perempuan kebanyakan. Sok kuat meski juga tetap butuh orang lain. Yah, kadang dia seperti aku dalam versi tidak tahu malu.
__ADS_1
Tingkahnya selalu ajaib, sampai-sampai aku tidak pernah bosan bergaul dengannya bertahun-tahun. Bersamanya sangat menyenangkan. Lihat saja sekarang, dia bengong terlalu lama menatapku sampai-sampai tidak sadar menerima tisu kotor bekas oli. Gemas sekali.
"makanya, kalau makan jangan banyak-banyak. Biar sepedanya tidak cepat rusak." ucapku. menggodanya itu sangat menyenangkan. Ekspresi berubah dengan cepat menjadi marah dengan alis yang mengkerut.
“Enak aja. Ini salah sepedanya yang terlalu rapuh tau. aku tidak berat!” sahutnya tidak terima. Yah, ini memang salah sepedanya yang terlalu tua. Harusnya dibuang saja lalu menebeng sepedaku biar tidak merepotkan lagi.
“mana ada. Jangan menyalahkan sepedanya jelas-jelas itu salahmu” jawabku santai. Sedikit lagi, aku mau menggodanya sedikit lagi.
Aku kembali mengayuh sepeda di depannya, sambil sengaja berjalan agak lambat. Menjaga jarak untuk memastikan bisa mendengar suaranya. Agak gengsi rasanya untuk sekedar menoleh ke belakang. Tapi memfokuskan telinga untuk memastikan dia mengikuti tidak buruk juga.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, kami memarkir sepeda di tempat yang sama. aku pergi lebih dulu ke kelas, sedangkan alana sedikit berlari mengejarku. Semoga dia tidak terlalu ceroboh seperti biasanya.
Seisi kelas itu tidak ada yang menarik. Yang menarik cuma alana, itupun aku tidak bisa melihatnya secara terang-terangan. Tenang, bukannya aku tergila-gila atau apa, aku hanya penasaran kelakuan aneh apa lagi yang akan dia lakukan hari ini. Biasanya selalu ada tingkahnya yang membuatku menahan tawa, dan aku menanti itu sekarang.
"di tunggu pacarannya, nggak apa-apa kok... suer"
hei, suara apa itu tadi? bukan hal aneh yang ada di otakku sekarang kan...
...****************...
__ADS_1
Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,
see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌