
Keesokan harinya Ananta benar-benar datang. Menghampiri ku dengan memakai sepeda motor milik ayahnya. Terlihat sedikit berlebihan, memangnya dia mau mengajakku ke mana sih.
"Hai, Alana." sapa Ananta dengan sedikit gugup. Sudah, aku geli melihatnya bersikap manis begitu.
"Hai, tumben." ucapku singkat. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku yang merekah.
"ibu, aku berangkat dulu sama Ananta" teriakku sedikit kencang. Ibu tidak menghampiri ku di depan, hanya menjawab dengan suara samar dari dapur.
"iya hati-hati" jawabnya. Begitulah, kalau aku sudah bilang pergi dengan Ananta, ibu tidak akan menanyakan banyak hal. Beda lagi kalau perginya dengan orang lain. Mungkin dia akan mewawancarai orangnya lebih dulu sebelum membiarkanku berangkat.
"sudah siap?" tanya Ananta saat aku sudah naik ke atas sepeda motor yang bermodel agak klasik itu. Lucu, aku suka menaikinya.
"siap" jawabku singkat.
Sepanjang perjalanan aku sangat senang, Ananta membawaku ke tempat-tempat yang aku suka. Toko kue, Mall, dan banyak tempat ramai lainnya. Tapi sepanjang perjalanan aku sedikit merasa tidak nyaman. Hanya aku yang merasa senang. Sedangkan Ananta hany tersenyum tipis selama mengikuti aku kemana pun. Mengekor seperti bodyguard yang siap siaga mengantarku kemana saja. Tapi, di mana poinnya. Dia tidak sebahagia aku kalau begini.
Sampai di toko kue aku sedikit kesal. Rasanya seperti dia hanya memaksa diri untuk menyenangkan aku sekarang.
"kenapa ngajak kesini?" tanyaku saat akhirnya kami bersantai memakan kue sedikit demi sedikit. Kue itu bahkan tidak terlihat cocok dengan Ananta.
"kamu suka disini" ucapnya. Lalu kenapa kalau aku suka, dia kan tidak suka.
"kamu membawa dia ke sini" ucapnya lirih, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas jadi kukira dia bilang begitu.
"hah, bagaimana?" tanyaku memintanya memperjelas kalimatnya barusan. aku masih tidak yakin.
__ADS_1
"tidak. nanti saja. Kita masih akan ke tempat lain lagi." ucapnya menghindari pertanyaanku. Ya sudah, aku memakan kueku dengan sedikit lebih cepat. Aku sudah mendapat banyak foto jadi aku tidak akan menyesal terlalu banyak andai Ananta memintaku segera pergi dari sini.
"ayo kita pergi lagi" ucapnya saat kami sudah sampai di parkiran mall. Dia ini kenapa tergesa-gesa sekali.
"oke" ucapku yang hanya patuh duduk dibelakangnya sekali lagi. Kali ini dia membawaku ke tempat itu lagi. Tempat dengan banyak kenangan masa kecil sekaligus kenangan menyakitkan. Entah kenangan macam apa yang akan aku buat kali ini, karena aku datang bersama Ananta sekarang.
Tempat itu sedikit banyak berubah dalam empat bulanan ini. Sekarang ada beberapa gazebo kayu yang di pasang di sekitarnya. Ada beberapa tempat berfoto juga, bahkan Jembatan kecil yang dulu hampir rapuh itu sekarang terlihat kokoh dan sangat cantik. seperti ku, dia juga berubah... Ananta... apa dia juga berubah?
"rasanya banyak hal-hal yang tidak terkatakan di antara kita. Kebanyakan adalah salah paham dan berakhir menyakiti satu sama lain." ucap Ananta di tengah suasana yang hening.
"kali ini, aku mau jujur akan semuanya. tentang kita Alana." lanjutnya.
"memang ada apa tentang kita" tanyaku. Meski aku sadar, harusnya aku tidak berpura-pura tidak tahu lagi sekarang. Dulu aku yang sangat mengharapkan hal konyol ini terjadi. Perbincangan serius dengan Ananta.
"Akhirnya aku menganggap nya seperti ibuku sendiri. Sosok yang tidak pernah aku punya lagi sejak aku masih sangat kecil. Jadi saat dia pergi, aku merasa kehilangan sosok ibu sekali lagi. Tapi aku senang, dia pergi untuk mencari kebahagiaannya sendiri" lanjut Ananta. Jelas sudah, aku tenggelam dalam kesalahpahaman sejak awal.
"aku selalu merasa bahwa aku dan hidupku sangat berantakan. Sampai-sampai aku tidak ingin menyeret orang lain dalam hidupku yang menyedihkan. Aku mau memperbaiki hidupku dulu sebelum menerima orang lain. Meski dalam hati, aku selalu memiliki seseorang. Seseorang yang senyumnya membuatku bahagia dengan cara yang sederhana. Aku tidak mau menyeretnya ke dalam luka yang aku alami. Tapi tetap saja, dia banyak terluka karena aku. Dia bahkan akhirnya harus berpisah dengan sahabatnya sendiri, Lagi-lagi karena aku" ucapnya panjang lebar. Tunggu, kenapa semakin ke sini aku merasa semakin familiar.
"awalnya aku mau menahan diri, sampai saat orang lain datang. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku mau mengatakannya meski mungkin dia akan menolak ku setelah terluka berkali-kali" huft, dia ini membicarakan siapa sebenarnya. Aku tidak memahami satupun. Bolehkah bicara terang-terangan saja?
"tentang siapa sih" gumamku. Tapi setelahnya aku melihat Ananta tersenyum sambil melihat ke arahku. Dia pasti mendengarnya.
"kamu" ucapnya lagi. Aku menolak percaya kalau telingaku mendengarnya. Apa aku benar-benar tidak salah dengar sekarang. Ananta sepertinya tidak mungkin mengatakan itu. Aku? yang dia maksud dalam kalimat panjang lebar itu aku? aku mengira ini adalah sesi curhat tentang seseorang yang lain lagi. Tapi jika itu tentang aku, aku bingung harus senang atau sedih sekarang.
Mungkin aku akan terlalu senang sampai menangis.
__ADS_1
"ehm. Jadi kita mau jujur jujuran sekarang?" ucapku mencoba merubah suasana agar tidak terlalu serius. Ananta ini terlalu buruk dalam menyampaikan perasaan.
"aku... hanya menganggap Diki sebagai seorang teman" ucapku. Ananta pasti sudah tahu itu kan. Aku mengira responnya akan biasa saja. Tapi yang kulihat sekarang, dia tersenyum sangat lebar, sampai aku pikir itu sangat menyeramkan.
"satu lagi." aku sedikit gugup kali ini. Dia mungkin akan sangat marah padaku setelahnya.
"aku yang mengirim pengaduan ke komite sekolah tentang kamu dan Shinta" ucapku lirih sambil memejamkan mata. Aku takut melihat respon Ananta.
"hmm. aku tahu." Berbanding terbalik dengan responnya sebelumnya, dia justru bersikap biasa saja. Aku membuka mataku lagi karena mendapat respon yang tidak terduga.
"fotonya sangat bagus. harusnya kita yang foto bersama malam itu" ucapnya dengan mata memandang air danau yang tenang. Dia tidak melirikku sama sekali. Tapi dia terus tersenyum sampai membuatku jengkel.
"sejak kapan?" tanyaku sangat penasaran. sangat.
"sehari sebelum kamu mengirimnya? aku lupa." jawabnya dengan santai.
"kenapa tidak bilang?" teriakku agak keras, aku masih sadar aku berada di tempat umum. apalagi tempat ini menjadi sedikit lebih ramai sejak selesai dibangun. Dia hanya tertawa kecil saat aku sudah menahan diri untuk tidak menjambaknya sejak tadi.
Tunggu, jadi dia dengan sukarela dihukum, padahal dia tahu aku yang melaporkannya? dasar bodoh. Haruskah aku membencinya lagi.
Suasana menjadi tenang sekali lagi setelah dia tidak menjawab pertanyaan terakhirku.
satu rahasia terakhirku Ananta, Meski berkali-kali membencimu... ternyata perasaan sukaku selalu lebih besar. Aku mencintaimu...
aku berucap pada air yang tenang. meski tidak mendengarnya, aku tahu Ananta mengetahuinya
__ADS_1