Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
dua puluh dua. kebenaran yang pahit


__ADS_3

Tepat setelah jam terakhir selesai aku segera pergi ke atap, meninggalkan Ananta yang terlihat mau menghampiri ku. Tunggu Ananta, aku mau mencari tahu semuanya sendiri dulu. Aku menarik nafas dengan tergesa-gesa, berlari menaiki tangga ternyata melelahkan juga. Tubuhku tiba-tiba terasa lemas sekali, apalagi kakiku terasa mau copot hanya karena aku berlari dari tangga di lantai satu sampai lantai lima. Aku mendiamkan kakiku sebentar sebelum berjalan lagi untuk membuka pintu menuju atap.


Sampai di pintu aku segera mengedarkan pandangan. Mencari sesuatu yang di maksud Shinta pagi ini. Aku memang menguping, tapi ya sudahlah yang penting pesan itu tersampaikan padaku. Kalau aku memang seharusnya menyesal, sebaiknya aku tahu alasannya sekarang atau aku akan membencinya lebih banyak lagi.


Aku mencari-cari ke sekitar matras, tidak ada apa-apa. Tidak ada benda mencurigakan yang mungkin ditinggalkan oleh Shinta. Sore ini mendung, aku menatap ke langit yang terasa sejuk. Aku mencoba memakai cara berlogika Shinta yang biasanya selalu mempertimbangkan segalanya. Jika hujan sering datang tiba-tiba Shinta tidak mungkin meletakkannya di luar. Dia itu pintar dan sangat memakai logika setiap melakukan sesuatu. Dia pasti tidak membiarkan pesan atau apalah itu kebasahan di tempat terbuka ini.


Dia pasti meletakkannya di tempat yang aman. Tempat yang tertutup dan tetap aman saat terkena hujan. Mana lagi kalau bukan tempatnya menyembunyikan snack. Tempat itu jauh lebih aman daripada brankas penyimpanan uang.


Aku membuka lemari itu, hanya ada banyak snack yang terlihat dari luar. Apa tebakanku salah? kalau bukan disini di mana lagi? apa ada orang lain yang membuangnya? Ah, pikiranku! Berhentilah memikirkan hal-hal buruk!


Aku mengambil empat bungkus karena frustasi, aku mau makan dulu saja sekarang. Beristirahat, sebelum memutar otak sekali lagi. Aku hanya beristirahat sebentar, bukannya menyerah. Aku mengambil snack secara acak lalu membawanya ke matras untuk duduk di sana.


Aku membuka salah satu bungkus. Tapi tunggu, ada sebuah plastik yang ditempel di belakang kemasan, hampir saja aku merobeknya. Benda ini, apa ini yang dia maksud surat? bentuknya lebih seperti hadiah beli satu gratis satu. Tanpa sadar aku tersenyum, sangat Shinta sekali.


Aku mencari bungkus yang bertuliskan angka satu, karena yang barusan hampir robek itu angka tiga. Dengan segera aku membuka petunjuknya yang pertama, atau apa isinya bukan petunjuk? apa itu makian? entahlah, aku tidak tahu.


pesan pertama. aku menarik nafas dalam sebelum membukanya.

__ADS_1


'hei, aku mau membantumu mencari tahu perasaan Ananta yang sebenarnya, karena aku curiga kalau dia itu tidak benar-benar menyukai Bu Lita. maaf aku baru menyadarinya, aku terlalu fokus mengejekmu sebelumnya' tulis Shinta di kertas pertama. Jadi, tebakanku salah sejak awal?


Aku mencari bungkus bertuliskan nomor dua


'Jadi dua, atau tiga bulan ini aku jadi cukup dekat dengan Ananta. Dia itu sangat kasihan. Masalahnya banyak, pantas saja dia tidak mau mendekati orang yang Disukainya sejak lama dan malah menonton saja saat orangnya salah paham berkali-kali, dia itu memang bodoh sekali' eh, siapa? apa sih maksudnya kenapa aku malah semakin tidak paham saja.


aku mengambil bungkus yang hampir robek itu, seharusnya ini menjelaskan sesuatu kan.


'Aku mau memberitahumu hari ini, kalau Ananta harus bekerja untuk membantu membayar hutang ayahnya, dia bekerja di bar temanku tapi tenang saja aku akan mengawasinya supaya dia tidak dekat dengan perempuan di sana, kamu bisa mengandalkan aku untuk yang satu ini'


Mataku melebar membacanya. Jadi apa yang ku lihat malam itu adalah salah paham? Shinta... haruskah aku meminta maaf sekarang? bisakah aku meminta maaf?


surat ke empat.


'Setelah mengenalnya lebih banyak, aku tahu kenapa kamu sangat menyukainya. Dia itu seperti zona nyaman. Di mana kamu bisa menceritakan banyak hal, dia tidak pernah protes dan hanya mendengarkan semuanya. Kamu sangat beruntung bisa mengenalnya sejak lama. Dia orang yang kamu bisa bergantung padanya untuk banyak hal, selalu ada... meski dia itu terlalu banyak gengsi jadi tidak mau bertingkah manis secara terang-terangan'


tunggu, suratnya berakhir disini? kamu bercanda kan. Shinta, kamu pergi setelah mengatakan ini saja?. Air mataku sudah turun sejak surat ketiga. Sejak aku menyadari setelah ini aku tidak bisa melihatnya lagi. Sejak aku tahu dia tidak menipuku, dia justru memikirkan ku dalam banyak hal. Terlebih dia itu pergi tanpa pamit, dan lagi aku penyebab dia harus pergi secepat ini.

__ADS_1


Apa dia membenciku setelah semuanya? aku teman yang jahat ya?


Aku tidak jadi berselera melihat snack yang sudah berantakan di atas matras. Aku mungkin hanya akan makan satu yang sudah terlanjur aku buka tadi. Atau, aku kembalikan saja sisanya ke dalam lemari?


Saat aku melongok ke dalam lemari lagi, ada satu kotak susu yang di letakkan di pojokan. Apa yang satu ini juga dari Shinta? aku mengambilnya dan benar saja, ada satu gulungan kertas dibaliknya. Ini pasti surat terakhirnya.


'Alana, apa yang terjadi hari ini bukan sepenuhnya salahmu. aku memang berencana pindah sebelum semuanya terjadi. Aku berterimakasih karena bisa berteman dengan sahabat yang lucu sepertimu. Aku menyayangimu, Ananta juga, dia mencintaimu... aku sudah memastikannya. Awas saja kalau hubungan kalian tidak membaik setelah aku mengatakan semuanya. Dan yang terakhir, selamat tinggal... aku memang harus pergi dan ku harap kita masih bisa berhubungan lagi nanti. Kamu tahu ig ku kan... kamu bisa mencariku di sana, aku tidak akan merubah akunku meski akun yang satu itu sedikit ramai. sampai jumpa lagi' tulis Shinta diakhiri dengan emoticon senyum.


Baiklah, aku tahu maksudmu sekarang. Tetap saja aku harus minta maaf karena sudah salah paham. Aku menafsirkan semuanya semauku tanpa sadar kalau aku sebenarnya tidak tahu apa-apa. Shinta maafkan aku. Aku mengusap air mata yang rasanya masih terus mengalir dipipiku. Sedih rasanya aku kehilangan teman yang setulus ini hanya karena kebodohanku sendiri.


Saat aku sedang tenggelam dalam penyesalan tiba-tiba suara pintu yang dibuka mengagetkanku. Orang itu berdiri di sana taku-takut. Dia pasti mengikutiku sejak tadi. Dia ini usil sekali.


Aku buru-buru merapikan semuanya, memasukkan snack dan susu ke dalam lemari lagi, tidak lupa mengambil surat dari Shinta dan menyembunyikannya di dalam tas. Dia hanya mengamati seluruh gerak-gerikku sampai aku diam lagi melihat ke arahnya.


"kenapa kesini" tanyaku agak dingin. Aku tidak mengharapkan kedatangannya tahu, dan tempat ini harusnya rahasia di antara aku dan Shinta saja. Tapi sekarang orang lain mengetahuinya.


"Aku mencarimu." ucapnya dengan gugup.

__ADS_1


"aku... mau mengatakan sesuatu" ucapnya


__ADS_2