Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Hidden story. chapter sembilan POV


__ADS_3

Hari ini suasana hatiku berantakan. Beliau akan pergi jauh ke tempat aku tidak bisa sering melihatnya lagi. Rasanya seperti kehilangan lagi untuk kedua kali akan sosok yang sama. Meski aku tahu jelas, keduanya berbeda. Wajah itu seperti pelarian ku dari dunia nyata. Kebohongan untuk menghibur diri bahwa setidaknya aku masih bisa melihat wajah yang hampir sama di hidupku. Harapan kosong yang ku pegang erat-erat. Hingga seperti orang bodoh menipu diri sendiri. Lalu akhirnya harapan kecil itu pun berusaha pergi dan menghilang sekali lagi.


"Ananta. mau makan apa nanti malam biar aku minta ibu buatkan." Alana sepertinya kerepotan menghiburku, maaf kali ini aku tidak bisa baik-baik saja untukmu.


"tidak ada." Aku meliriknya sekilas, baru saja dia bermaksud menghibur, tapi sekarang malah terlihat panik sendiri entah karena apa. Apa lagi yang dilakukannya sekarang? Harusnya aku sedih tapi melihat perubahan ekspresinya mengalihkan perhatianku begitu saja.


Yah, setidaknya aku masih punya alana. Orang yang ku yakin tidak akan meninggalkan ku bagaimana pun keadaannya. Kenapa? entah, aku hanya berpikir begitu saja.


Aku ikut memperhatikan arah pandangnya, mulai penasaran akan penyebab kelakuannya itu. Lalu setelahnya seorang teman menghampiriku, memberitahu kalau ada yang mencariku dan sedang menunggu di depan pintu. sebenarnya aku lebih tertarik pada alana yang seperti sedang menyembunyikan diri. Ini sudah pasti ulahnya lagi.


“Hai ada apa” tanyaku. orang asing itu mengajak berkenalan seolah kita dekat satu sama lain, padahal ini pertama kali aku bertemu. Siapa sih.


"aku Kenta yang janji bertemu di game kemarin" ucapnya sambil tersenyum. Apa sih, senyumnya agak, menyebalkan?


Oh, tunggu, aku mengerti, sepertinya alana bermain-main dengan identitas ku lagi hari jnj. Aku tahu karena dia sering melakukannya, setiap kali ada yang berkenalan di game dia selalu berpura-pura menjadi aku. Tapi agaknya bahaya juga andai dia mengaku kalau identitas aslinya perempuan. Kita tidak pernah tahu siapa yang kebetulan kita temui di game seperti itu.

__ADS_1


"maaf aku tidak bermain game." balasku jujur.


"tapi mungkin yang kamu cari adalah orang yang aku kenal." Setelah menjelaskan beberapa hal aku berhasil membuatnya pergi.


Begini saja, alana berhasil mengalihkan perhatianku sepenuhnya.


BUKK!!


aku memukulkan buku ke kepalanya dengan pelan. Tapi dia sudah bereaksi berlebihan.


“sakit”


“aku kan sudah minta maaf kemarin” permintaan maaf macam apa yang diucapkan sebelum masalah terjadi? itu lebih terdengar seperti peringatan.


"tetap saja ini salahmu"

__ADS_1


'iyaaa maaf." ucapnya lirih. aku berhasil membuatnya diam meski tidak benar-benar menyesal.


"tentang identitasku sebagai milli. tolong rahasiakan ya... kamu tidak akan rugi kok berkenalan dengan dia." alana yang merengek itu lucu, seperti keluar dari karakter sok kerasnya yang biasanya.


"terserah" Yah, aku tidak keberatan menutupi identitas alana, asalkan tidak keterlaluan saja.


"janji" alana mulai mengeluarkan kelingking, geli sekali melihatnya.


"oke. tapi biarkan aku memukulmu sekali lagi." aku tidak serius, bahkan tidak bermaksud kasar sedikitpun. Alana yang panik menyingkirkan semua buku dalam jangkauanku hingga aku tidak jadi memukulnya lagi.


"hah" Aku meredam tawaku sendiri. Alana itu lucu, dan adaa saja kelakuannya yang membuatku merasa lebih baik dengan cara yang aneh.


Meski perasaan tidak enak itu kembali lagi saat jam pelajaran dimulai. Aku mendapati orang lain menggantikan posisi bu Lita hari ini. Rasanya, seolah beliau ingin berpamitan pelan-pelan. Entahlah, mungkin aku juga perlu merelakan pelan-pelan.


...****************...

__ADS_1


Hola, setelah baca ceritanya kasih hadiah ke penulis yuk bisa dengan liat iklan aja, gratis kok... chapternya udah nggak berbayar jadi apresiasinya lewat hadiah aja... terimakasih buanyak,


see you lagi kalo udah semangat nulis (っ'-')╮\=͟͟͞͞💌


__ADS_2