
Hari ini aku pulang dengan lesu. Jauh dari Ananta sangat tidak baik untuk hatiku. Aku merasa kosong setiap hari... seolah ada sebagian yang hilang dan itu menguras tenagaku hingga tidak punya sisa semangat untuk tersenyum lagi.
Aku menyandarkan sepeda ke teras rumahku tanpa menyadari ada orang lain yang menatapku sejak tadi.
“Hai, anak manis.” Sapa seorang wanita paruh baya menatapku dengan tatapan kebencian. Dia berdiri di depan pintu, sorot matanya seolah ingin menguliti ku diam-diam. Padahal aku tidak tahu apa-apa. Situasi ini, berbahaya.
“Halo, tante” balasku canggung. Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia hanya diam mengikuti di belakangku. Seperti tuan rumah yang baik aku membukakan pintu, andai dia benar-benar sedang bertamu. Ibu tiri Ananta itu merangsak masuk begitu aku membuka pintu. Ia duduk dengan angkuh di sofa sambil matanya mengamati sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.
“Ada perlu apa ya tante?” tanyaku sebisa mungkin bersikap sopan. Meski hatiku sudah ingin mengusirnya sejak awal.
“Kamu cantik sebenarnya,” ucapnya memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seperti menelanjangiku dengan sorot mata itu. Ah kenapa keluarganya semua menyebalkan.
“sayangnya, kamu terlihat mirip dengan perempuan tidak tahu diri itu.” Ucapnya murka meski dengan ekspresi yang masih terlihat tenang. Berpura-pura tenang lebih tepatnya, aku tahu dia sudah siap meledak kapan saja.
“Maaf tante, tapi seorang tamu harusnya bersikap sopan” balasku. Aku tahu, sangat berbahaya bicara kasar pada orang yang sedang emosi. Tapi aku tidak tahan mendengarnya merendahkan ibuku seperti itu.
“siapa yang lebih tidak sopan? Aku atau ibumu yang menyembunyikan suami orang” teriaknya. Aku menatap tak percaya, dia marah karena seseorang yang hanya mampir sebentar di rumah kami. Aku bahkan tidak tahu di mana orang itu sekarang.
“Di mana suamiku? Hah?” dia tidak lagi bersikap sopan, dengan kasar ia menarik kerah bajuku dan mendorongku ke belakang. Menghempaskan ku sampai punggungku menghantam tembok cukup keras. Aku sedikit meringis merasakan sakit. Dia hanya menatap acuh lalu menyisir seluruh rumah hingga menemukan tas hitam milik om Ari yang aku sendiri tidak tahu kalau benda itu masih di sana. Aku benar-benar mengira orang itu hanya mampir dan sudah mengambil barangnya lagi seperti yang selalu dia lakukan.
__ADS_1
“Apa kubilang! Dia pasti disini” ucapnya semakin murka. Dia melempar semua barang yang dapat diraihnya hingga tak bersisa. Aku takut. Jujur, aku takut. Akhirnya aku meninggalkannya sendirian di ruang tamu dan menutup pintu kamar rapat-rapat berharap orang itu segera pergi. Aku tidak peduli jika rumahku hancur, aku harus menyelamatkan diri lebih dulu.
Kini kebencianku semakin membara pada Ananta. Dia bahkan membuatku mengalami hal menyedihkan ini padahal keluargaku tidak salah apa-apa. Ini semua salah dia dan keluarganya.
Kami selalu membantunya setiap saat. Tapi yang kudapat darinya selalu hal-hal buruk seperti ini. Menyebalkan.
Orang yang tidak tahu diri itu sebenarnya siapa? Mereka yang memilih menikah dan saling menyakiti seperti itu! Dua orang dewasa yang selalu berperang karena menikah tanpa cinta. Lalu wanita itu menyalahkan ibu yang dimatanya seolah berselingkuh dengan ayah Ananta. Ibuku yang bahkan membantu mengurusi anak mereka yang terlantar, menyayangi Ananta lebih dari anaknya sendiri. Sungguh, cukup. Aku muak dengan keluarga itu yang hanya terus menerus merusak kedamaian kami.
Beberapa menit berlalu dengan aku yang hampir menangis dibalik pintu mendengar barang-barang yang di lempar tanpa arah. Ruang tamu sudah pasti hancur gara-gara wanita itu.
Beberapa lama aku terdiam. Suara itu lenyap. Aku mendengar lagi dengan seksama dan tidak ada suara sama sekali. Orang itu pasti sudah pergi. Aku baru berani keluar setelah menunggu beberapa menit kemudian.
Benar saja, ruang tamuku hancur. Vas bunga dari kaca berserakan di mana-mana. Mejaku hampir rusak kalau saja tidak terbuat dari kayu yang cukup kuat.
“hati-hati. Ayah kamu terluka.” Ini dia, penyebab semuanya. Ananta datang bersama ibu dan Om Ari yang terlihat pingsan. Aku hanya melirik mereka sembari sibuk merapihkan sisa barang yang berantakan.
“Ada apa ini nak?” Tanya ibu. Ananta menatapku bingung, dia baru akan membantuku saat aku menepis tangannya menjauh.
“puas kamu?” tanyaku pada Ananta yang kini mematung mendengar ku.
__ADS_1
“maaf,…” ucapnya singkat, penuh penyesalan. Dia paham apa yang terjadi, karena hal ini bukan sekali dua kali terjadi.
“Ini bukan rumah kalian! Kenapa seenaknya datang membawa masalah dan menghancurkan segalanya.” Kepalaku ingin meledak rasanya. Semua yang selama ini ku tahan mengalir keluar begitu saja.
“Alana, jaga sikapmu!” marah ibu, dia merebahkan Om Ari di sofa panjang dengan hati-hati.
“Ibu tirinya datang dan mengamuk!” ibu terdiam. Menyadari emosiku sudah memuncak, dan sebagian dari itu karena kesalahannya.
“kau tahu apa yang dibisikkan orang tiap kali melihat ibuku? Mereka selalu berbisik tentang ibu yang selingkuh dengan ayahmu.” Aku menatap tajam pada Ananta yang menunduk dalam.
“setelah membuat ibu jadi perusak rumah tangga orang lain dia bahkan juga merusak rumahku!”
PLAKKK!!
Ibu menamparku. Aku menatapnya tajam merasakan hangat yang menjalar di pipiku.
“di hati ibu, aku tidak pernah ada kan. Selalu hanya mereka kan!!” pipiku memanas, tangisku sudah tumpah sedari tadi. air mata mengalir di pipiku yang kini semakin terasa panas.
“Alana, jangan marah pada ibumu” ucap Ananta, akhirnya bicara. Dia mencoba meraih tanganku sebelum aku menariknya mundur.
__ADS_1
“Diam, aku juga sudah muak denganmu. Bertahun-tahun aku selalu membeli makanan lebih banyak untukmu, buku catatan buatmu, pensil baru untukmu, semuanya untukmu. Tapi aku hanya punya satu ibu. Aku mohon, jangan ambil dia dariku” ucapku, lalu beranjak pergi, menutup pintu dengan keras lalu menguncinya dari dalam. Hariku berakhir dengan menangis sendirian. Dasar, menyedihkan.
Kemarahanku pada Ananta semakin menjadi, awalnya hanya karena dia tidak menghargai permintaanku untuk rahasia kecil, sekarang perasaan kalah karena dia tidak pernah membalas perasaanku pun ikut andil, terlebih perlakuan ibu yang selalu mendahulukan Ananta, belum lagi aku yang terkena imbas dari keretakan keluarganya. Tidak berlebihan kan kalau aku marah padanya. Aku muak dengan semuanya. Andai aku bisa aku pasti sudah memilih membencinya sejak awal. Dia tidak memberiku apapun selain rasa sakit yang bertubi-tubi. Wajar saja, tempatku adalah mencintai. Mencintai orang yang tidak melihatku sama sekali.