
Aku mengenal Shinta dengan baik setelah kami bertemu di bar. Kami saling cerita tentang berbagai hal. Dia pandai sekali menggali sesuatu hingga setiap kali aku selalu berakhir menceritakan segalanya.
Meski tentang aku dan alana, aku tebak dia tahu lebih dulu sebelum aku menceritakannya.
Bagaimanapun setelah aku memberitahunya tentang alana, dia mulai melapor padaku tentang hal-hal yang di lakukan alana. Apalagi akhir-akhir ini dia seperti menghindariku, jadi berita darinya adalah informasi utama yang ku tunggu setiap hari. Meski kadang harus menelan harga diriku karena informasi itu selalu di barengi dengan ejekan. Tapi aku tetap pasrah menerimanya.
Alana kadang menatapku sinis saat di sekolah. Sepertinya perasaannya masih berubah-ubah. Jadi aku hanya bisa mengharapkan cerita dari shinta untuk sekarang.
"Hei. mau ku beritahu Alana di mana sekarang nggak?" tanya shinta. Aku tidak paham maksudnya tersenyum mengejek seperti itu.
"tidak" balasku. Menuruti kemauan shinta hanya akan membuatnya mengejekku habis-habisan. Aku tahu, karena itu sudah sering terjadi. Kalau sudah tentang Alana seringnya aku menjadi bahan ejekannya.
__ADS_1
"Humm... padahal dia sedang dekat sama seseorang, yakin tidak mau tahu?" ucapnya lagi. Kalau dia bilang seperti itu bagaimana aku bisa mengabaikan. Aku meliriknya sedikit sebelum menggeleng lagi. Aku masih tidak mau kalah, jadi.
"dia di gedung tempat mereka latihan teater. Informasi spesial nya di sana ada Diki juga." ucapnya, sedikit berbisik di kalimat terakhir.
Dia terlihat lebih dekat dengan Diki, atau apa itu perasaanku saja?
Aku sempat bilang kalau Diki menyukainya, tapi alana bilang dia tidak menyukainya saat itu. Apa perasaannya sudah berubah?.
Melihatnya dekat dengan laki-laki lain membuatku merasa tidak nyaman. Aneh rasanya saat aku melihatnya dekat dengan orang selain aku. Harusnya orang yang dekat dengannya itu aku, bukan orang lain seperti yang selalu terjadi selama ini.
Rasanya, aku kehilangan sosok Alana yang selalu menggangguku sejak kecil. Senyumnya yang ceria itu bukan untukku lagi sekarang. Dia yang sekarang, seperti semakin menjadi orang lain. Padahal aku kira hubungan kami baik-baik saja, nyatanya malah lebih parah lagi.
__ADS_1
"kamu cukup tampan untuk seukuran aktor kecil." Aku menatap tidak suka pemandangan ini. Akhirnya, Alana dekat dengan orang lain. Tapi, kenapa aku marah?
Alana mengambil foto kegiatan persiapan pementasan itu. Aku selalu tahu dia suka fotografi, yang aku tidak tahu ternyata dia juga suka memotret Diki. Melihatnya tersenyum seperti itu rasanya sangat menyebalkan. Memang dia semenarik itu sampai kamu terlihat sangat senang? semakin lama berada disini semakin membuatku marah. Kenapa juga aku menuruti Shinta untuk menghampiri Alana disini. Dia saja tidak mengharapkan kedatanganku. Yang ada nanti aku malah mengganggu kegiatan mereka yang menyenangkan itu.
setelah berdiri agak lama aku berbalik untuk keluar dari ruangan itu. Tempatku berdiri sangat jauh dari Alana. Dia bahkan tidak menyadari kedatanganku. Aku menutup pintu agak keras membuatku kaget sendiri karena suaranya sangat nyaring.
"wah-wah. kenapa mengamuk?" ucap Shinta memandangku dengan tatapan meremehkan. Dia berdiri di luar sejak tadi, pasti menunggu untuk mengolokku begini.
"bukan urusanmu" balas ku dingin.
"makanya, kalau sudah dekat itu jangan di sia-siakan. Kalau sudah dekat dengan orang lain saja bingung sendiri" ucapnya tanpa peduli aku sudah melangkah pergi untuk menjauhinya. Kadang, sindiran yang berupa fakta itu memang agak menyakitkan.
__ADS_1
Setelah berjalan agak lama akhirnya aku kembali ke gerbang itu juga. Meninggalkan Alana bersama Diki membuatku tidak nyaman hingga akhirnya aku menunggunya di luar. Agak menyedihkan, tapi ya sudahlah. Sejak awal ini memang salahku.