
Keesokan harinya dia menghubungiku lagi. Itu artinya kami benar-benar sudah berbaikan. Se sederhana itu!
Dia mengirim pesan singkat.
"nanti boleh datang lagi?" ucapnya, ini terasa aneh. Ananta peduli padaku. Dia bertanya lebih dulu. Biasanya dia hanya akan datang dan pergi sesukanya tapi kali ini dia merasa perlu meminta izinku.
"boleh" jawabku, masih sama seperti biasanya.
“Sedang apa?” tanyaku. Aku lagi-lagi ingin tahu segalanya tentang Ananta. Dia sudah menjadi duniaku sejak lama, meski dia tidak pernah menyadarinya.
“Bekerja” jawabnya singkat, sibuk sekali pikirku. Dia sering menghilang dan seharian tidak bertemu denganku di hari libur sekalipun. Meski dia tetap datang di malam hari untuk mengajariku beberapa materi pelajaran. Meski begitu, aku tahu dia sudah berubah. Tidak sedingin dulu. Dia menjadi lebih menghargai ku.
“hmm, di mana??” tanyaku penasaran. Aku baru tahu dia bisa bekerja saat statusnya belum lulus sekolah, bukannya itu tidak boleh.
“rahasia.” Jawabannya. Meski sudah peduli padaku kamu masih belum bisa menceritakan banyak hal ya? Aku tahu jawabannya akan seperti itu saat aku menanyakan hal-hal yang belum aku tahu tentangnya. Tapi aku masih tetap mengulangi pertanyaan serupa.
Ananta yang sekarang menjadi beda dari biasanya, dia yang sekarang seperti lebih dewasa. Aku dan si Ananta yang dewasa itu hanya saling mengabari seperti ini, sesekali kami masih bicara di sekolah. Sedikit berubah dari biasanya, saat aku hanya akan diam saat melihatnya. Hanya sedikiit berubah, bahkan teman sekelas ku pun tidak menyadarinya.
“kata temanku, Ananta dan Shinta masuk ke bar bersama-sama.” Gosip itu terdengar juga olehku. Di tempat kami, sebuah dosa besar bagi anak di bawah umur untuk berada di tempat seperti itu. Dan, apa mereka bilang? Ananta bersama Shinta? dengan segera aku tersadar kalau belakangan Shinta juga jarang menemui ku. Apa apaan. Dia sering bersama Ananta selama ini? saat dia pura-pura menghibur ku juga? Aku selucu itu ya sampai mereka mempermainkan aku begini.
__ADS_1
Aku menahan diri berhari-hari untuk tidak bertanya. Mencari tahu tentang itu pasti akan membuat hubungan kami menjadi buruk lagi. Padahal, Ananta baru saja meminta maaf. Aku tidak boleh menghancurkan semuanya begitu saja.
Hingga saat malam tahun baru tiba rasa penasaranku memuncak. Ananta bilang dia tidak bisa merayakannya bersamaku. Dia punya urusan yang penting, tapi dia berjanji akan mencari ku setelah urusannya selesai.
“Alana, nanti fotoin aku di festival ya” Sarah, teman sekelas ku itu bersikeras memintaku membawa kamera. Kami berjalan menyusuri keramaian bersama 4 orang teman. Aku senang dia mengajakku merayakan tahun baru bersamanya. Lagipula aku tidak bisa bersama ananta sekarang. Berkat dia juga aku bisa mendapat izin ibu untuk keluar malam ini.
Aku membawa kamera digital milik ayah. Benda itu sudah cukup tua tapi hasilnya masih bagus. Kamera itu lebih sering menjadi pajangan di kamarku. Tapi sekarang, dia berguna juga.
Kami akan melihat kembang api saat tengah malam. Ikut hitung mundur bersama-sama di tengah kota. Aku bisa mengambil beberapa foto di festival, itu pasti menyenangkan.
Namun di tengah keramaian aku teringat lagi tentang perkataan teman sekelas ku itu. Aku sudah mencari informasi dari akun sosmed Shinta, dan dari sana aku tahu alamat bar yang mereka maksud. Aku, ingin membuktikan sendiri. Andai mereka benar-benar bersama, mereka pasti ada di tempat itu.
“Sarah aku mau mampir dulu ke suatu tempat, kamu pergi dulu aja nanti aku nyusul” setelah mengambil banyak gambar aku berpisah dari Sarah, ini kesempatanku mencari tahu kebenaran tentang Ananta dan Shinta. Shinta itu sudah aku anggap sahabat dekat. Aku pasti akan sangat kecewa kalau dia benar-benar bersama Ananta sekarang.
Setelah beberapa lama berkeliaran, akhirnya aku melihatnya, di tengah kerumunan itu, ada Ananta di sana. Dia memakai kostum aneh sambil sesekali menggoyangkan badannya dengan kaku. Dari gesturnya aku tahu dia tidak terbiasa ada disini. Dia bukan orang yang senang berpesta. Aku ingin memotret wajahnya yang tersenyum lebar. Dia terlihat sangat bahagia. Namun tiba-tiba dia memeluk perempuan yang berdiri membelakangi ku.
"siapa?" aku mengambil kamera ku. Memotret apa yang kulihat barusan. Dengan kamera pemandangan di depanku itu terlihat lebih jelas. Orang itu adalah Shinta. Sahabat ku yang berharga.
Jadi benar? selama ini dia menyukai Ananta?
__ADS_1
lalu... kenapa dia menggangguku, berpura-pura memberikan semangat saat aku patah hati karena Ananta. Kalau akhirnya dia yang mendapatkan Ananta untuk dirinya sendiri. Lalu posisiku apa sebenarnya? hanya orang yang dipermainkan di tengah-tengah hubungan mereka begitu?
sungguh, aku kehabisan kata-kata saat melihatnya sendiri dengan mata ku.
"Ananta. Kamu jahat." gumam ku pelan hingga hanya kudengarkan sendiri. Aku harus bagaimana? marah? karena hal seperti ini? aku masih bukan siapa-siapa untuk Ananta. Hanya anak dari teman ibunya yang baik dan mudah dipermainkan. Begitu kan.
Malam itu aku membuat keputusan sekali lagi. Kali ini, aku akan membenci Ananta dengan benar. Bukan dengan marah-marah secara langsung seperti sebelumnya. Biarkan saja. Aku cukup tahu kalau dia tidak pernah serius dengan apapun yang di ucapkannya. Aku tidak akan percaya lagi apapun perkataan Ananta.
Aku berbalik untuk pergi dari sana. Kembali pada rombonganku. Sarah sudah menungguku dengan antusias. Dia tahu aku pandai memotret. Makanya dia memintaku mengabadikan momennya malam ini. Aku menikmatinya, jauh dari Ananta sudah tidak seburuk dulu. Aku juga bisa bahagia sendiri sekarang.
Dulu atau sekarang Ananta masih sama. Dulu dia tidak peduli padaku dan menunjukkannya, sekarang dia tidak peduli padaku tapi berpura-pura peduli. Aku cukup tahu itu.
Aku tidak akan sakit hati lagi karena dia.
...****************...
Seperti janjinya, Ananta menghampiriku setelah 'urusannya' selesai. Dia tersenyum, sangat manis sejujurnya. Tapi aku terus mengatakan dalam hati bahwa semua itu palsu. Dia sedang berpura-pura, entah apa yang dia inginkan sebenarnya. Dia itu menyukai Shinta, bukan aku.
"ini kado tahun baru" ucapnya menyodorkan kotak kado berwarna coklat dengan banyak postcard di atasnya.
__ADS_1
"hmm.. terimakasih. maaf aku tidak menyiapkan apapun untukmu." jawabku. Berbohong, karena sebenarnya aku sudah membeli sweater rajut yang sudah ku kemas rapi sebelumnya, sayangnya benda itu harus berakhir di tempat sampah. Biar saja dipungut orang lain. Biar lebih bermanfaat.
"tidak apa-apa. Aku sudah senang bisa merayakan tahun baru bersamamu." ucap ananta. Bohong, kamu lebih senang bersama Shinta. Aku melihat senyummu yang lebih bahagia itu sebelumnya. Setiap kata-katanya sekarang terdengar palsu di telingaku. Sangat memuakkan.