
“Alana!” panggil seseorang, saat aku sedang pulang sendirian. Jangan tanya aku di mana Ananta, aku tidak peduli lagi. Kini aku memandangi orang di depanku, Diki.
Dia berdiri dengan gugup. Melihatnya seperti takut padaku membuatku merasa bersalah karena sudah menepis nya tadi siang, padahal dia tidak berbuat salah. Aku hanya terbawa kesal dengan Ananta yang membocorkan rahasiaku.
“Hai, aku Diki, uhm Kenta jika di dalam game. Kita sudah pernah mengobrol sebelumnya.” Ucapnya gugup. Iya, tapi aku tidak tanya pikirku. Tapi aku tidak jadi berkata kasar seperti itu, dia tidak salah apa-apa jadi aku tidak boleh marah-marah padanya. Itu akan terlihat aneh.
“ehm, iya” jawabku singkat. Aku melirik sesuatu di tangannya segelas milk tea (kesukaan ku). Dia sedikit gelagapan karena melihatku melirik gelas plastik yang sudah dibungkus rapi itu.
“Oh, ini tadi aku membuatkannya untuk orang yang membeli tapi orangnya pergi." dan sekali lagi, aku tidak tanya. Aku hanya mengangguk pelan sebagai bentuk kesopanan.
"sekarang, ini untukmu” ucapnya lagi sembari menyodorkan milk tea segar itu kepadaku. Eh, tunggu dia berjualan milk tea?
“Ini. Usaha keluarga kami, ehm silahkan mampir kapan-kapan” ucapnya kaku, aku akhirnya mengambil milk tea yang dia berikan. Aku menerimanya karena aku bingung mau menolak bagaimana. Lain kali aku pastikan aku akan beli dan bayar untuk membalas pemberiannya hari ini.
“terimakasih. aku pulang dulu” Ucapku melempar senyum singkat lalu segera beranjak pergi. Aku harus segera menjauh darinya sebelum aku terbawa emosi lagi. Dia terlihat seperti orang baik, jadi aku tidak mau dia terkena imbas dari mood buruk ku, tapi dia justru menahan ku lagi.
"uhm.. boleh aku berteman denganmu?" dia bertanya masih dengan takut-takut. Sebelum tanya begitu harusnya dia membenarkan ekspresinya dulu. Dia menatapku dengan horor begitu bagaimana bisa jadi teman.
__ADS_1
"umm boleh" aku mengangguk saja. Hanya teman kan. Dengan Ananta yang dingin dan menyebalkan saja aku bisa berteman bertahun-tahun, jadi aku pikir aku bisa berteman dengannya juga. Itu masalah kecil.
"terimakasih." ucapnya singkat. Aku buru-buru pamit dan meninggalkan nya lagi. Kali ini dia tidak menahan ku. Yah, satu lagi teman baru, tidak apa-apa kan.
…
Sampai di rumah. Aku melempar tas dengan kasar di atas sofa. Memilih merebahkan diri sebelum masuk ke kamar. Tanganku tak sengaja menyentuh sesuatu di dekat sofa.
Tas hitam berdebu itu lagi, kali ini yang berukuran paling besar. Apa orang itu datang pikirku sebal. Meski keluarga kami dekat, aku tidak suka bersikap ramah kepadanya. Orang itu membuat rumor buruk untuk keluargaku, padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun.
“Jangan terus sembunyi begini, kasihan Ananta…” ucap ibu dengan seseorang di telefon. Eh, aku menebak orang itu sudah tidak disini karena orang itu ada di telfon. Dia pasti sudah pergi lagi, lalu nanti kembali sebentar hanya untuk mengambil barangnya. Sudah. Begitu saja yang dia lakukan selama ini di rumahku. Hanya mampir seolah rumahku adalah sebuah warung kopi tempatnya minum sebentar lalu pergi lagi.
“aku tahu kondisinya sulit. Tapi kamu harus menghadapinya dengan tegas. Kabur begini hanya akan menyusahkan semua orang.” Ucapnya tegas. Orang itu sepertinya berbicara lagi, dan membuat ibu diam cukup lama. Ibuku selalu membujuknya dengan kalimat-kalimat baik, tapi tetap saja semua itu tidak mempan. Karena meski sering dinasehati dia tidak pernah pulang ke rumahnya akhir-akhir ini
“aku tidak bisa selalu membantumu, jadi hadapi sendiri. Kamu sendiri yang memilih begini.” Ucapnya menutup telefon panjang dari orang itu. Benar ibu, jangan terlibat. Meski kamu menyukainya, jangan mau terlibat dengan permasalahannya. Itu akan terlihat bodoh, pikirku. Dia itu punya dunianya, dan meski kamu mencintai nya kamu tidak akan pernah menjadi bagian dari dunia laki-laki egois itu.
“Ibu” panggilku, ibu menghampiriku setelah menyadari keberadaan ku.
__ADS_1
“sudah pulang? Mandilah, ibu akan masak sebentar lagi.” Ucapnya dengan tenang, kini ibu memilah setumpuk sayuran yang lebih banyak dari biasanya.
“kenapa masak banyak? Orang itu datang lagi bu??” tanyaku langsung. Aku malas basa-basi kalau membicarakan orang ini.
“hmm? Tidak, hanya mampir tadi siang sebelum pergi lagi.” Kini ibu menyibukkan diri dengan sayuran.
“Om Ari kenapa lagi? Kabur?” tanyaku frontal.
“menghindar lebih tepatnya, dia belum bisa pulang.” Jelasnya, sama saja pikirku. Tetap saja di posisi ini dia merepotkan kami. Istrinya itu, sangat tidak bisa dikendalikan. Pernah beberapa kali istri om Ari sekaligus ibu tiri Ananta itu marah-marah kepada kami, bahkan hingga sekarang hubungan kami tidak pernah baik gara-gara dia. Dari semua orang di keluarga itu, hanya Ananta yang kami Terima dengan baik, sisanya selalu membuat kesal.
Mungkin, hingga sekarang ibu masih mencintai om Ari. Orang yang dulu ia perebutkan dengan sahabat baiknya sendiri. Cinta yang seperti itu sulit diikhlaskan bukan. Kisah yang menyedihkan, ibu menjadi pihak yang kalah bahkan sampai sekarang. Dia terus menjadi penengah dari urusan rumit itu dan berakhir mendapat keburukannya saja. Tidak seperti ibu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk mendapatkan orang yang aku cintai tidak peduli apa yang akan terjadi.
Sejak hari dia membeberkan identitasku pada kenta aku perang dingin dengan Ananta. Terlihat remeh memang. Tapi tetap saja aku kesal dengan sikapnya yang tidak pernah menghargai ku. Sebanyak apapun aku berusaha bersikap baik, dia tidak pernah mempedulikannya.
Aku mencoba mengabaikannya, tapi seolah merasa nyaman dia justru semakin tidak memperhatikanku. Sudah berhari-hari kami tidak pulang bersama. Aku tidak peduli lagi. Aku kira alasannya bukan karena dia balas marah padaku. Karena dia bahkan tidak peduli sama sekali denganku.
Kemungkinan terbesarnya adalah dia berusaha mengejar Bu Lita selama aku menjauh. Aku masih selalu kalah. Atau, haruskah aku menyerah saja? aku menghembuskan nafas berat merasakan sesuatu mengganjal di hatiku. rasanya tetap aku tidak bisa menjauh dari Ananta.
__ADS_1
Sepertinya aku memang menyukainya. Sangat menyukainya sampai menjadi orang bodoh yang tetap bertahan meski sudah diusir berkali-kali dengan sorot mata yang tidak peduli.