Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
tujuh belas. si orang baru


__ADS_3

Keesokan harinya aku benar-benar datang untuk membantu sesuai permintaan Diki. Aku sudah menyiapkan peralatan ku sejak pagi, meski kegiatan yang dia maksud masih akan dilakukan nanti siang.


Ananta tidak bertanya apapun saat melihatku membawa kamera ke sekolah. Tentu, dia itu tidak perhatian sama sekali untuk sesuatu tentang aku.


Saat waktunya tiba aku segera pergi ke tempat yang di maksud. Pertama kali yang kulakukan saat sampai di sana adalah mencari Diki. Meski aku mengenal beberapa orang disini, tapi tetap saja aku harus mencari Diki lebih dulu karena Diki orang yang meminta bantuan ku.


"hai, terimakasih sudah datang" ucap Diki yang langsung tersenyum lebar dan sedikit melambai saat melihat ku masuk ke ruangan.


"Hai. Hari ini apa yang harus aku lakukan?" tanya ku langsung. Seingat ku dia bilang acara itu berlangsung minggu depan. Tapi dia sudah memintaku datang hari ini.


"Oh, hari ini kita akan latihan. Dan ketua project ingin ada foto-foto di belakang layar untuk dipamerkan di pintu masuk. Jadi, yah. Aku butuh kamu" ucap Diki. Aku sedikit kagum, dia terlihat sangat berbeda saat memberi arahan padaku. Aura nerd dan culunnya, sedikit berkurang? yah hanya sedikit sih tapi dia benar-benar terlihat berbeda.


"Kamu memakai kostum juga?" tanya ku. Aku merasa sedikit aneh melihat kostum yang hanya di kenakan setengah. Ada pedang palsu yang diletakkan dengan posisi seolah menancap di dadanya. Apa dia ini berperan sebagai orang mati? aku tidak bisa menebak dari penampilannya sekarang.


"iya, walaupun bukan pemeran utama tapi aku aktor juga. hehe. aktor kecil." ucapnya merendah.


"kamu cukup tampan untuk seukuran aktor kecil." ucapku memujinya, aku tidak berbohong. Penampilannya memang jauh lebih baik dari biasanya. Oh, mungkin karena aku selalu melihatnya memakai seragam atau style aneh yang nampak berlebihan. Dan sekarang aku melihatnya memakai pakaian yang jauh lebih santai, hanya kaos abu-abu dan celana training hitam. Dia terlihat lumayan kalau memakai baju yang 'normal'. Aku tidak mengatakan kalau baju yang dia pakai sebelumnya sangat aneh, hanya... style yang jarang di pakai orang kebanyakan. Hampir klasik sebenarnya.

__ADS_1


"tidak usah memujiku." ucapnya malu-malu. Ah tunggu, kelakuannya masih sedikit freak karena aku melihat telinga dan pipinya hampir merah padam karena aku memujinya sedikit. Membuatku membuang nafas dengan kasar. Yah, tidak se berubah itu sih, kelakuannya masih cukup ajaib.


Sesuai permintaannya aku mengambil banyak foto dari berbagai sudut pandang. Sesekali tersenyum puas karena aku mendapat banyak ekspresi yang cukup pantas di pamerkan di pameran fotografi. Entah aap aku benar-benar pandai mengambil gambar atau memang pemandangan di depanku yang memang cantik, aku tidak yaki. Yang pasti club di sekolah ini sudah melatih aktornya dengan baik jika dilihat dari gestur dan mimik muka aktor kecil yang masih sma itu.


Setelah melihat mereka mengulang-ulang adegan aku tahu Diki benar-benar bukan pemeran utama. Dia hanya muncul sebentar meski penampilannya cukup menarik perhatian. Walau setelah di perhatikan lagi, aktor yang lain pasti memakai kostum yang jauh lebih ajaib.


Aku tidak bisa menahan tawa saat melihat laki-laki yang memakai baju serba pink itu beradegan pingsan di tengah panggung. Diki yang melihatku sampai membuat gestur menyuruhku diam hingga aku menurut dan menutup mulutku sendiri.


"kamu benar-benar bukan pemeran utama." ucap ku saat adegan melelahkan itu berhenti sementara. Mereka di beri waktu beberapa menit untuk minum dan istirahat. Aku yang duduk di dekat tempat persediaan minum reflek mengambilkan air untuk Diki. Dia menerimanya dengan senyum lebar. Dia ini terlalu banyak tersenyum.


Semua meminum airnya masing-masing sekarang, membuat suasana cenderung sepi karena masih kelelahan. Saat suasana menjadi hening, tiba-tiba terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras membuat semua reflek menoleh ke arah pintu masuk.


Tapi... tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada pintu yang tertutup. Jadi ku tebak, kalau bukan pintu itu di tutup dari luar bisa jadi ada hantu di sana. Semua orang yang tadinya menatap ke sana hanya menghembuskan nafas keras-keras lalu kembali pada kegiatannya masing-masing. Mereka bersikap seolah barusan tidak terjadi apa-apa, dan menurutku itu terlihat sangat aneh.


"Diki... tempat ini horor?" tanya ku takut-takut. Sungguh aku benar-benar takut hantu. Meski terjadi di siang bolong, tetap saja menyeramkan.


"Enggak. pintu itu engselnya memang agak rusak, jadi sudah biasa berbunyi keras." jawabnya santai. Bukannya itu malah menekankan pada kemungkinan kedua. Aku menatap Diki dengan horor. Menurutku se-rusak apapun harusnya tidak sekeras itu.

__ADS_1


"sungguh, tidak apa-apa." ucapnya lagi. Aku harus percaya, karena dia lebih sering berasa di tempat ini daripada aku. Tapi aku tidak bisa menepis pikiran buruk begitu saja.


"oh iya, nanti kalau sudah mendapat gambar yang bagus, kamu bisa menunjukkannya ke perempuan yang di sana. Dia ketua projek ini." ucap Diki, sepertinya dia hanya ingin mengalihkan perhatian ku supaya tidak takut lagi.


"hmm oke" balasku.


Aku mengamati keringat Diki yang menetes hingga ke sisi pipinya. Seperti dia ini memang bekerja keras untuk perannya.


"kamu sesuka itu dengan peranmu?" tanya ku penasaran.


"tidak juga. Aku mengambil perannya karena aktor yang asli mundur saat pertunjukan kurang dua minggu, jadi aku harus menggantikannya. sebelumnya saja aku memilih menjadi kru panggung." Diki menjelaskan bagaimana dia tidak sengaja naik tingkat menjadi aktor. Hanya menggantikan orang lain, tapi kenapa dari yang aku lihat dia bersemangat sekali.


"hanya menggantikan? aku kira kamu pemeran aslinya." ucapku lagi. aku tidak mengada-ada. Dia memang sangat cocok dengan perannya, meski perannya itu harus berakhir mati di tengah cerita.


"aku kurang berbakat, tidak mungkin aku pemeran aslinya. Kalau aku tidak menggantikan dia saja aku tidak akan naik panggung sama sekali." balasnya. Dia sepertinya juga punya rasa rendah diri yang parah. Itu mengingatkanku pada seseorang saja.


"ah, sudahlah. yang penting kamu sudah dapat perannya sekarang. Aku akan mengambil gambar yang bagus untukmu" ucapku. Untuk sedikit menghiburnya sebenarnya. Aku ingin menunjukkan kalau dia sudah punya penggemar tahu. Aku. Aku memintanya berpose sedikit lalu memaksanya tersenyum. Dengan sedikit arahan dan paksaan hasil fotonya terlihat bagus juga. Aku tidak bohong untuk ini.

__ADS_1


__ADS_2