Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
delapan. kalah


__ADS_3

Ananta pasti pulang dengan perasaan tidak tenang malam itu. Dia sepertinya belum tahu tentang fakta bahwa guru cantik itu berencana pergi ke luar negeri bersama pacarnya, karena setelah mendengar pernyataan ku itu dia seperti putus asa akan sesuatu.


Keesokan harinya pun dia masih dalam keadaan yang sama dengan semalam. Masih lesu seperti belum makan berhari-hari. Aku masih mengamatinya dari jauh, karena bagaimanapun aku yang membuatnya menjadi seperti itu. Gara-gara kabar yang ku berikan dia jadi seperti tidak punya semangat hidup.


Setelah masuk ke kelas, gosip itu benar-benar beredar. Semua orang mengetahuinya. Semua teman sekelas ku membicarakan topik yang sama. Guru bahasa itu memang kesayangan kami. Dia cantik, baik, dan ramah. Banyak orang akan kehilangan jika perpisahan itu benar-benar terjadi. Apalagi kami sudah jarang bertemu dengannya beberapa hari ini, seolah-olah mengatakan kalau berita itu benar.


Kami diam-diam tersenyum bahagia saat Bu Lita masuk ke dalam kelas pada jam berikutnya. Kami memupuk harapan untuk menepis berita yang sudah beredar seperti menolak kenyataan yang sudah jelas di depan mata.


“Bu Lita. Beneran mau pindah ke Amerika??” ucap Arga yang akhirnya mengatakannya. Semua murid di kelas ini pasti punya pertanyaan serupa di kepalanya. Kami menunggu dengan cemas, guru itu terdiam beberapa lama sebelum menjawab seolah dia sendiri sedang mempertimbangkan sesuatu di pikirannya.


“ehmm, tentang itu, masih ibu fikirkan. Belum ada keputusan yang pasti bagi ibu sendiri, tapi apapun itu, semoga keputusan itu adalah yang terbaik untuk ibu dan kalian. Sekian kelas hari ini, selamat siang” ucap Bu Lita singkat dia segera mengalihkan perhatian kami dengan materi-materi yang tidak ku perhatikan sama sekali karena di kepala kami masih banyak pertanyaan yang berakhir tidak terjawab. Sampai kelas berakhir guru itu tidak memberi jawaban pasti, dia segera keluar dari kelas sebelum diberondong pertanyaan serupa lagi.


“Yahh jangan pergi bu… sayang sekali…. Disini saja mengajar kami” rengekan itu sempat dilontarkan beberapa anak. Saling bersahutan sampai-sampai kalimatnya tidak terdengar jelas.


Bersamaan dengan Bu Lita yang keluar dari kelas, jam istirahat dimulai. Ananta hanya diam, wajahnya terlihat tidak terganggu sama sekali. Masih dalam mode dingin seperti biasanya. Tapi aku sempat memperhatikan tangan Ananta yang mengepal tanpa sadar. Aku tahu jelas, dia tidak benar-benar baik-baik saja sekarang.


Pikiranku itu seolah dibenarkan saat tiba-tiba dia bangkit dan melenggang pergi. Aku mengikutinya untuk… (mungkin) mencegah hal buruk terjadi. Dari ekspresi nya aku tahu kemungkinan besar dia akan menimbulkan masalah.

__ADS_1


Dia mengejar Bu Lita ke kantornya dia pasti punya banyak hal untuk dibicarakan dengan wanita itu jadi aku membiarkannya. Siapa tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bicara.


Aku masih mengekor di belakangnya. Namun saat kami sampai di tangga, seorang pria mendahuluinya. Astaga, aku mengenali pria itu, orang yang di foto. Aku harus mencegah mereka bertemu.


Bu Lita lebih dulu melihat pria itu sebelum Ananta sampai. Guru cantik itu seperti ingin segera kabur karena aku melihat pria itu menahannya untuk berbalik dan menatapnya.


“Lita… dengar aku dulu, jangan pergi.” Ucap pria itu. Tangannya menggenggam lengan Bu Lita dengan erat memaksa bu Lita untuk berhenti membelakanginya.


“Bu Lita…” ucap Ananta terbata seperti orang bodoh yang hanya melihat di kejauhan. Itu mengingatkanku tentang beberapa hari yang lalu saat aku berada di posisi yang sama dengan Ananta.


Setelah melihat Ananta, guru itu melepas tangan pacarnya yang masih menggenggamnya erat. Dia masih sadar betul dia tidak boleh terlihat seperti itu di depan muridnya.


“Ehm, maaf bu. Ananta tadi tersesat saat mencari saya.” Ucapku menyela di tengah-tengah mereka. Aku mencoba menyelamatkan Ananta dari suasana yang sangat tidak menyenangkan. Dengan posisi ini saja sudah terlihat jelas bahwa Ananta berada di pihak yang kalah.


“Ananta ayo pergi” ucapku menyadarkannya, dan menarik tubuhnya yang kaku untuk segera pergi dari suasana buruk yang diciptakannya itu. Kami berbalik menuruni tangga. Saling diam hingga membuat suasana menjadi sangat canggung.


“Kamu sudah tahu kan kalau dia orangnya” ucapnya mengulangi fakta, tentang pacar bu Lita tadi.

__ADS_1


“Hmm” jawabku singkat meniru gayanya. Ehm, aku tidak sedang mengejeknya, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa dalam situasi ini. Dia mengamati ku sebentar, terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Apa dia ganteng?” tanyanya tanpa basa-basi. Tapi dari raut wajahnya aku melihat perasaan rendah diri yang tercetak jelas. Menyebalkan. Kamu tidak boleh berpikir buruk tentang dirimu sendiri tau.


“Pacar Bu Lita?” Tanyaku memastikan, dia mengangguk dengan hampa.


“ganteng…” jawabku jujur. Setelahnya dia berjalan menjauhiku seperti yang selalu dilakukannya. Mungkin aku membuatnya marah. Tentu saja, siapa juga yang suka dibanding-bandingkan dengan orang yang mengalahkan nya dalam hal perempuan, ehm wanita.


“Aku sudah menolong mu tadi jangan marah padaku” ucapku, berusaha membuatnya tidak marah padaku. Aku sudah berjasa tahu. Dia hanya mengangguk pelan, aku masih mengikuti di belakangnya. Apanya yang baikan, dari caranya berjalan aku tahu kalau dia pasti marah padaku. Dia itu tidak pandai menyembunyikan perasaan.


“sebagai gantinya, kamu harus memaafkan ku untuk apa yang terjadi besok” jawabku masih berusaha menyamakan langkah dengannya yang seperti berjalan lebih cepat lagi. Dia mengabaikan ku. Entah apa dia mendengarnya atau tidak. Yang penting aku sudah mengatakannya. Awas saja kalau dia marah lagi besok.


“Ananta…" panggilku lagi. Dia masih terus berjalan di depanku. Aku mengambil langkah cepat untuk mendekat lagi. Aku harus mengatakannya atau itu akan mengganggu ku.


"kamu lebih ganteng” ucapanku itu akhirnya membuatnya berhenti. Dan sekarang, aku yang berjalan cepat mendahuluinya sambil melemparkan senyum tipis. Yah, aku tidak bisa membiarkannya merasa rendah. Dia itu spesial buatku. asal tahu saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2