
Alana semakin frustasi. Sekarang dia tahu, dia akan menemukan jawaban dari semua pertanyaannya jika dia pergi ke atap untuk membaca pesan-pesan dari Shinta. Tapi sekarang ini saatnya apel pagi dimulai. Jadi dia harus mengurungkan niatnya dan berbalik menuju ke halaman, tempat dimana temannya yang tadi berdebat semakin riuh. Tapi keadaan langsung tenang begitu komite kedisiplinan muncul untuk memperingati mereka.
Tujuan apel ini hanya satu sebenarnya, memberikan penjelasan untuk masalah yang membuat heboh satu sekolah dalam semalam. Mereka pasti sudah membuat keputusan, makanya kami diharuskan apel pagi-pagi padahal sekarang bukan hari senin.
Apel pagi berjalan dengan hikmat. Murid yang tadinya cukup ramai kini tidak berani bicara sedikitpun. Sekalinya bicara satu sekolah akan mendengar suaramu saking heningnya.
Aku baru memperhatikan saat pengumuman penting dibacakan satu-satu. Hingga masalah Ananta akhirnya di angkat.
"Tadi malam, kami menerima laporan anonim tentang murid kami. Dan pagi ini kami sudah mendapatkan klarifikasi dari yang bersangkutan." ucap guru senior yang aku tahu menjabat sebagai ketua komite kedisiplinan. Laporan itu sudah pasti milikku. Satu-satunya yang membuat gempar satu sekolah hari ini. Aku kagum, karena mereka menangani masalah secepat itu. Tapi aku juga cemas, karena keputusan mereka bisa jadi merugikan Ananta dan Shinta. Sesuatu yang tidak termasuk dalam perkiraan ku sebelumnya.
"berdasarkan klarifikasi, foto yang di ambil bukan situasi sebenarnya. Pihak yang bersangkutan melapor dia berada disana karena alasan pribadi yang tidak bisa disebutkan secara publik. Sehingga karena perbuatannya di akui dan dipertanggungjawabkan, yang bersangkutan akan mendapat hukuman yang sesuai untuk membersihkan sekolah setiap hari sepulang sekolah selama satu bulan" pemberitahuan ini adalah pemberitahuan terpanjang yang aku dengarkan sampai akhir.
Kali ini karena aku yang menyebabkan hukuman itu terjadi, juga karena yang bersangkutan adalah Ananta dan Shinta aku tidak bisa tidak memperhatikan. Ini tentang orang-orang yang penting bagiku. Entah dalam konotasi membenci, atau menyayangi tapi aku tahu mereka penting.
"dan untuk siswi yang terlibat." Aku menahan nafas mendengarnya. Ini sudah pasti tentang Shinta. Dan dari tingkah lakunya pagi ini, juga perbincangannya dengan Ananta. Aku tahu kami sudah pasti akan berpisah.
__ADS_1
"Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah dan akan mengurus berkas kepindahan secepatnya." lanjut guru itu. Ada luka dalam yang terasa menyayat. Mungkin, jauh dalam hati aku tidak menginginkan itu terjadi. Seperti kata Shinta aku menyesali perbuatanku sendiri, secepat ini.
Setelah mendengar hal itu aku segera mencari keberadaan Ananta. Dia tidak ada dalam pandanganku sejak tadi.
"aku di belakangmu" ucap suara dingin itu. Aku berbalik dengan agak kaget. Sejak kapan dia ada di sana, aku tidak menyadarinya sama sekali.
"Shinta memutuskan untuk pindah, juga karena orang tuanya yang memaksa sejak lama. Tapi dia memutuskan pindah dan ikut orang tuanya bersamaan dengan kejadian ini. Mungkin, kita tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Tadi dia juga minta maaf karena tidak sempat berpamitan denganmu. Tapi dia senang bisa berteman denganmu meski dalam waktu yang singkat." ucapnya.
Ini kali pertama aku mendengar Ananta mengatakan hal-hal dengan kalimat panjang dan nada yang serius. Dari sini aku tahu, Shinta juga menjadi orang penting baginya. Entah bagaimana, yang jelas mereka dalam batas teman seperti yang kudengar pagi ini. Dia bahkan tidak membahas tentang hukumannya untuk membersihkan sekolah satu bulan ini. Sepertinya itu memang tidak penting baginya karena dia hanya membahas Shinta saja saat bicara denganku. Dia ini, apa dia sedang menghiburku?
Menurutku apel pagi ini berhasil. Karena setelah acara itu berakhir, seluruh anak di kelasku sudah bungkam. Mereka tidak membahasnya lagi karena baru menyadari Shinta tidak masuk kelas sama sekali sejak pagi. Mungkin mereka merasakan rasa bersalah juga seperti aku. Perasaan seolah aku yang membuatnya pergi dan akhirnya aku juga yang menyesalinya sendiri.
Aku mengikuti kelas-kelas dengan sedikit tidak fokus. Aneh rasanya saat tidak ada Shinta di kursinya. Meski biasanya kami jarang bicara saat di kelas, tapi ketidakhadiran nya masih menggangguku. Ada sesuatu yang terasa hilang, dan itu sudah pasti Shinta.
Aku sedikit terselamatkan di jam istirahat saat Diki menghampiri ku. Aku ingin kabur untuk membahas hal-hal konyol dengannya saja, dari pada harus melihat Ananta dengan rasa bersalah. Aku masih harus menjaga agenda membenci Ananta yang sudah aku putuskan. Meski dengan apa yang ku dengar pagi ini, harusnya kebencianku tidak sebesar sebelumnya.
__ADS_1
"Hai" sapa Diki dengan canggung di depan pintu kelas. Aku segera bangkit untuk menghampirinya, sebelum menariknya ke arah kantin tanpa banyak bicara. Dia memesankan bakso dan es jeruk kesukaanku sebelum kami saling bicara.
"jadi, yang pindah itu teman kamu yang nyentrik itu?" tanya Diki langsung pada intinya. Yah, dia pasti sudah melihat foto tentang Ananta dan Shinta. Aku mengangguk saja. Lagipula itu benar.
"sayang sekali, aku kira dia anak yang baik" ucapnya mulai berspekulasi dari apa yang dia lihat.
"dia itu memang anak yang baik" balasku mengkoreksi. Shinta masih temanku untuk sekarang.
"maaf, aku lupa kalau dia sahabatmu" ucapnya sedikit merasa bersalah. Lalu apa, kalau dia bukan temanku dia masih akan membully nya.
"Tapi, setelah aku perhatikan. Dalam foto itu Ananta memakai baju yang aneh. Itu tidak seperti baju pesta, lebih seperti seragam pelayan. Lihat, banyak yang memakai pakaian sama dengannya" ucap Diki dengan polosnya mengeluarkan handphone untuk menunjukkan foto yang sudah disebarkan di grup-grup kelas.
Mendengarnya, aku mengamati foto itu sekali lagi. Dan, bodohnya aku baru menyadari keanehan itu sekarang. Saat semuanya sudah menjadi sangat buruk, aku baru menyadarinya.
Apa ini kemungkinan lain yang tidak masuk dalam logikaku sebelumnya? jadi mereka benar-benar tidak pergi ke sana untuk berpacaran?
__ADS_1
Rasanya aku ingin sekolah cepat berakhir sekarang. Aku harus pergi ke atap untuk tahu semua kebenarannya. Aku tidak bisa menebak-nebak lagi, karena itu hanya akan membuatku memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi lagi.
Tapi aku harus sangat bersabar. Akan aneh jika aku pergi ke sana sekarang, apalagi sekarang ada Diki yang terlihat akan mengikuti kemana pun aku pergi. Aku mau ke sana sendirian. Ke tempat persembunyianku dan Shinta yang tidak boleh diketahui orang lain. Jadi aku harus bersikap normal sampai kelas-kelas berakhir. Bersabar, hal yang sangat sulit karena aku semakin ingin mengetahui kebenarannya sekarang juga.