Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
dua puluh empat. berubah


__ADS_3

Hari sudah hampir gelap, tapi aku justru tidak berbelok saat mencapai rumah. Aku mau pergi ke rumah ananta. Perasaan tidak enak masih mengganjal di hatiku, aku tidak bisa mengabaikannya.


Sudah sore tapi lampu di luar rumahnya belum dinyalakan. Apa dia belum pulang? pikirku. Apa aku tidak usah ke rumahnya saja?


Tapi aku tidak akan bisa tidur kalau belum bicara dengannya dulu. Apalagi tadi aku terlanjur melihat banyak luka di bibir dan pipinya. Dengan kepribadian ibu tiri dan Ananta yang keras kepala aku yakin Ananta akan mengobati lukanya sendiri atau malah membiarkannya tanpa diobati. Ah, tidak bisa. Aku harus bertemu dia sekarang.


Akhirnya aku mengetuk pintu dengan ragu. Bagaimana pun aku harus bertemu Ananta sekarang.


"siapa?" tanya seorang perempuan paruh baya. Dia ini ibu tiri Ananta, orang yang sempat mengamuk di rumahku dan menjadi penyebab perang Dingin selama hampir tiga bulan lamanya. Aku sedikit kaget karena mengira dia tidak akan membukakan pintu untukku, tapi sekarang dia sudah membukanya lebar dan menyapaku di depan pintu.


"oh, Alana mau cari Ananta tante" ucapku tergesa. Tiba-tiba aku merasa takut hanya dengan melihatnya. Dia pasti sangat membenciku.


"Dia belum pulang." ucapnya dengan nada yang terdengar sangat dingin. Sudah kubilang kan. Dia itu membenciku.


"dan... maaf aku sudah menakuti mu beberapa waktu lalu" ucapnya. Aku menatapnya dengan tatapan aneh. Apa dia orang yang berbeda, bagaimana bisa dia tiba-tiba minta maaf begitu. Aku pasti salah dengar kan.


"t-tidak apa-apa tante." aku masih gugup. Meski dia bilang begitu, tetap ada kemungkinan dia tiba-tiba memukulku atau apapun.


"dan, tunggu sebentar aku punya sesuatu untuk ibumu. Aku baru sempat membuatnya sekarang" ucapnya segera masuk ke dalam rumah. Aku bahkan masih berdiri di depan pintu sekarang, tapi dia meninggalkanku begitu saja.


Dia tidak akan keluar sambil membawa benda tumpul atau semacamnya kan? tanpa sadar aku sudah mengambil kuda-kuda andai aku harus berlari dengan kencang nanti. Atau haruskan aku pergi saja? tapi dia pasti akan lebih marah dan menyimpan dendam jika aku melakukannya. Yah sudahlah, aku menunggu disini saja. Aku berusaha berekspresi normal meski jantungku sudah berdetak tidak karuan.


Wanita itu keluar setelah beberapa menit kemudian. Dia membawa keluar sebuah parsel dengan banyak apel didalamnya. ada beberapa amplop dan surat yang entah apa isinya. Aku tidak akan berani membukanya. Dia bilang ini untuk ibu kan.

__ADS_1


"uhm terimakasih tante" aku masih gugup, tapi aku berusaha keras untuk tersenyum. Aku tidak boleh terlihat tidak sopan, apalagi dengan seseorang yang pernah membenciku. Aku tidak mau mendapat pukulan darinya lagi.


"kalau begitu, Alana pulang dulu." ucapku segera pamit. Aku membawa parsel itu dalam keranjang, menaruhnya dengan hati-hati seolah itu bisa meledak kalau lecet sedikit saja. Siapa tahu, ini dari ibu tiri Ananta.


tepat saat aku sudah membawa sepedaku untuk pulang aku melihat Ananta berdiri di sana, di gerbang rumahnya berhadapan dengan ku yang akan keluar.


Dia mengamati ku dengan diam. Mungkin dia memastikan aku baik-baik saja, karena dia mengamati aku dan ibunya secara bergantian. Setelah beberapa lama dia menghampiriku dengan tergesa.


"Ibu, aku mau antar Alana pulang dulu" ucapnya tanpa menawariku dulu. Ananta meninggalkan sepedanya sebelum berjalan di sisi kananku. Seperti perkataannya dia mengantarku pulang. Sangat tidak perlu sebenarnya karena rumah kami hanya berjarak beberapa meter.


Tapi tunggu, kurasa aku melewatkan sesuatu, bukannya dia memanggil ibunya dengan sebutan ibu tadi? apa itu pertanda hubungan mereka sudah baik-baik saja? ah, tapi aku belum berani bertanya sekarang. Apalagi suasana sunyi yang mencekam ini terus terasa disekitarku sampai aku tidak berani mengatakan apapun.


Aku hanya menatap Ananta yang tiba-tiba juga menatap ke arahku. Pasti ada banyak hal yang mau dia sampaikan juga, tapi akhirnya kami hanya diam sampai aku sudah berdiri di gerbang rumahku.


"ah obat." ucapku setelah melihatnya duduk duluan. Aku menjadi sibuk sendiri. Ibu masih di dapur, mungkin dia tidak mendengar ku masuk ke rumah jadi aku tidak mau mengganggunya. Jadi aku mau mencari kotak obatnya sendiri. Aku mengobrak-abrik laci di ruang tamu, tapi aku tidak melihat benda itu sama sekali.


"ibu, kotak obatnya di mana?" panggilku. Sudahlah, tanya ke ibu pasti lebih cepat ketemu.


"kamu kenapa sayang" ucap Ibu dengan segera pergi ke ruang makan untuk memeriksa keadaanku. Tapi setelahnya ibu terdiam saat melihat wajah Ananta yang berantakan. Ibu langsung paham harus mengkhawatirkan siapa, yang jelas bukan aku. Dia mengambil kotak obat yang ternyata ada di lemari paling atas.


Ibu meletakkannya di meja makan yang terlihat penuh dengan benda-benda yang tidak seharusnya ada di ruang makan. Ibu kembali ke dapur dengan senyum tipis saat aku menerima kotak obat dan segera membukanya.


Aku mengambil cotton buds dan obat merah, menuangnya dengan sedikit gugup. Biasanya aku tidak pernah sedekat ini dengan Ananta, aku merasa aneh hanya dengan melihat ke matanya.

__ADS_1


"sini, aku obati" ucapku. Dia segera memposisikan wajahnya lebih dekat lagi. Hingga wajah kami hanya berjarak beberapa senti. aku memundurkan tubuhku sedikit. Tidak sedekat itu juga Nanta. Aku ingin marah saja rasanya andai tidak sedang gugup. Aku mengobati lukanya dengan obat merah, lalu memberinya plester di pipi. Plester berwarna pink cerah itu membuatku tidak bisa menahan tawa. Itu sangat lucu.


"kenapa tertawa" Tanya Ananta sedikit kebingungan. Aku menyodorkan cermin kecil padanya. Tapi suasana berubah canggung lagi saat wajahnya yang terlihat dingin itu tersenyum tipis sepersekian detik.


"nggak ada yang lain apa?" aku menutup mulutku sendiri sambil menggeleng, masih menahan untuk tidak tertawa lagi.


"ya sudahlah biar kamu senang" ucapnya dengan nada datar.


"besok ada waktu?" tanya Ananta. Kenapa tiba-tiba tanya begitu


"ada, kenapa?" tanyaku heran.


"mau mengajakmu ke suatu tempat" jawabnya penuh misteri. Apalagi ini. Apa ada rahasia lainnya lagi? aku sudah sangat lelah dengan semuanya.


"boleh" balasku setelah berpikir agak lama. sudahlah, Aku masih akan penasaran kalau tidak bilang iya.


"besok aku jemput" lanjutnya.


Tepat setelahnya ibu datang dari dapur, membawa nasi dan lauk, hari ini sedikit lebih sederhana karena siang tadi sepertinya ibu masih sibuk melakukan sesuatu.


"Nanta, kenapa babak belur begitu. Jadi jelek loh kalo suka berantem" tanya ibu dengan sedikit bercanda. Aku setuju sih, untungnya wajahnya terselamatkan dengan plaster pinky imut yang ku pasang tadi.


"hanya ada sedikit salah paham tante. Nggak sengaja ketonjok" ucapnya dengan santai. Tidak sengaja apanya. Aku yang melihat kejadian hanya bisa melongo mendengar jawabannya yang terdengar jujur saking tenangnya dia menjawab.

__ADS_1


__ADS_2