
Hari-hari ku terasa lebih baik setelah kami berbaikan. Hidup dengan melihat Alana tersenyum itu menyenangkan. Rasanya aku tidak keberatan lagi dengan jadwal ku yang penuh dari pagi hingga malam, karena saat malam harinya aku bisa 'pulang'.
Aku masih menjaga rahasiaku dari Alana. Mengatakan kalau keluarga shinta mengelola bar pasti membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Jadi selama Shinta belum memberitahunya, aku juga akan tetap membuatnya menjadi rahasia.
Bekerja di tempat ini cukup menyenangkan. Orang-orangnya saling menghargai satu sama lain. Tidak ada yang memaksa minum atau memaksa melakukan hal yang tidak-tidak. Sekalipun ada pemilik bar akan lebih dulu menegur hingga tidak ada hal buruk yang terjadi. Kami saling menjaga dengan baik.
Ada banyak bonus untuk menambah penghasilan juga. Apalagi di jam-jam ramai seperti tahun baru. Jadinya aku memundurkan rencanaku bertemu Alana hari itu, supaya bisa mendapat uang tambahan untuk membelikannya sesuatu. Aku tidak bisa hanya terus menerima bukan.
Malam tahun baru, tidak ada yang istimewa. Semua bekerja dengan gembira seperti biasanya. Hanya saja kostum pegawai kami sedikit lebih baik dan terlihat dewasa. pernak-pernik khas tahun baru sudah di pasang berkat kerja keras kami beberapa hari sebelumnya. Kini tinggal menikmati.
"hei." sapa shinta membuatku menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"selamat tahun baru yang kesepian." ucapnya mengejek. Yah, tahun baru ini sedikit sepi karena keluargaku yang semakin berantakan. Tapi shinta? dia juga kesepian?
"seorang kamu juga?" ucapku tidak percaya. Dia hanya mengangguk lemah. Sepertinya aku sedang menggali luka lama. Ekspresinya membuatku ingin minta maaf segera.
""orang rumah bahkan tidak menganggapku ada kalau aku tidak membuat masalah. Makanya hidupku agak menyenangkan" ucapnya mengungkit pelanggaran yang sering dia lakukan selama ini. Yah, itu jadi masuk akal sekarang, dia hanya seorang yang mengharapkan perhatian dari dua manusia yang biasa di sebut rumah.
"selamat tahun baru yang menyedihkan" ucapku. Kami punya suka yang sama. Makanya bisa saling memahami hanya dengan saling menatap mata.
"masih baikan pelan-pelan. Akan aku update nanti kalau antata kami sudah baik-baik saja."
"yap. laki-laki sejati harus mengambil inisiatif lebih dulu. dia itu sudah berjuang lama tahu" balasnya. Iya... sekarang aku tahu.
__ADS_1
...****************...
setelah acara di bar selesai aku menghampiri Alana sesuai janji. Agak terlalu malam sebenarnya, tapi aku senang alana tetap mau menemuiku.
"ini kado tahun baru" ucapku. Aku memilihnya sendiri walau membuang waktu agak lama kemarin. Tapi ini untuk Alana, jadi aku ingin memberinya sesuatu yang berharga.
"hmm.. terimakasih. maaf aku tidak menyiapkan apapun untukmu." ucapnya. Dia tidak akan tahu, bertemu dengannya di malam tahun baru itu lebih dari cukup untukku.
"tidak apa-apa. Aku sudah senang bisa merayakan tahun baru bersamamu." ucapku. Semoga dia suka dengan kadonya. Beberapa coklat dan kado lain yang aku sembunyikan di bawah kotak. Semoga dia menyadari keberadaannya. Aku agak menyesal menyembunyikannya di paling bawah. Alana cukup ceroboh untuk membuang tanpa memeriksa dulu.
Senyumnya yang agak pudar sedikit itu agak menggangguku. Tapi sudahlah, keadaan akan aku buat kembali seperti semula perlahan-lahan. Aku sudah mengecewakan nya berkali-kali sebelumnya. Jadi rasa bencinya tidak mungkin langsung tiba-tiba sembuh. Semua pasti butuh waktu, untuknya, dan untukku.
__ADS_1