
Hari berikutnya, diawali dengan sarapan pagi yang canggung, terus begitu sampai beberapa hari berikutnya. Butuh tiga hari hingga ibu meminta maaf dan menjadi lebih peduli padaku. Aku tahu, dia pasti sangat merasa bersalah karena sudah menamparku. Meski jauh dalam hati aku merasa pantas menerimanya.
Aku memperburuk segalanya. Karena perasaanku pada Ananta. Rasa benci yang bercampur karena beberapa hal. Aku benci keluarganya mengganggu keluargaku, tapi jauh dalam hatiku aku lebih benci Ananta karena dia mencintai orang lain. Mungkin, ada sisa perasaan tidak rela yang ku pendam dalam dalam. Sampai saat pemicu lainnya terjadi itu meledak begitu saja.
Aku tahu, hal itu sudah pasti membuat Ananta semakin menjauhiku. Entah karena rasa bersalah, atau karena dia muak pada tingkah lakuku. Yang ku tahu Ananta tidak pernah datang lagi untuk makan malam ataupun berangkat bersama.
Di sekolah pun dia tidak bicara padaku sedikitpun. Mungkin salahku juga, karena aku juga tidak melirik dia sama sekali. Aku menahannya perasaan sebisaku. Mengatakan berkali-kali kalau dia itu tidak akan pernah peduli padaku. Mencoba untuk terus membencinya meski jujur, itu sangat sulit. Kami selalu bersama-sama untuk waktu yang sangat lama. Dan saling diam begini sangat menyiksaku. Aku terbiasa mencarinya, terbiasa mengejarnya, dan saat aku tidak boleh melakukannya rasanya ada ruang kosong yang mengganggu dalam hatiku.
Sesuai tebakan Shinta... akhirnya aku menggunakan tempat itu. Atap yang sedikit berdebu itu semakin terawat karena aku jadi sering mampir. Sama seperti kata Shinta, tempat itu memang sangat nyaman untuk merenung sendiri atau saat patah hati. Tapi di atas itu semua, tempat itu tempatku bersembunyi. Ruang di mana aku bisa menjadi tidak peduli dengan segala perasaan aneh sejak aku menjauh dari Ananta.
“Wah, kamu benar-benar mengisi persediaan snacknya” seringkali Shinta tiba-tiba datang menggangguku. Seperti sekarang, dia menemaniku menghabiskan makanan yang kali ini ku beli sendiri.
“kamu sering kesini ya, akhir-akhir ini.” Tanyanya, ku jawab dengan anggukan pelan. Dia pasti sudah maklum, aku sering menjadi jarang bicara kalau sudah ada di tempat ini.
“biar ku tebak, kamu menjauhi dia, tidak pernah pulang bareng. Patah hati ya? Sama Ananta” ia masih sempat menggodaku dalam keadaan seperti ini. Lihat senyumnya yang terlihat seperti mengolok ku tanpa perlu berkata-kata.
“bukan patah lagi, jatuh, bubar jalan” jawabku sarkastik. Dia pasti lebih tahu perasaan ku sekarang, dia hanya mau menggodaku saja.
“kamu tahu, kamu terlalu naif.” ucapnya, raut nya berubah serius, tapi aku masih belum mau tertipu karena dia sering mengejekku dengan ekspresi itu.
“hidup ini tidak boleh bubar jalan hanya karena satu orang. Terlalu cemen. Ada banyak orang yang mengantri masuk dalam hidup. Tugasmu hanya membuka mata. Ya, walaupun aku jamin kamu akan kembali ke Ananta sih.” Dia memulai ocehannya lagi. Walau beberapa ocehannya benar juga. Aku selalu dibuat dilema olehnya, tapi sering juga perkataannya menghiburku, benar-benar meringankan rasa sesak dalam dada.
Setelah beberapa lama berteman dengan Shinta, aku sadar. Aku memang bukan orang yang hatinya tidak bisa di sentuh dengan kalimat penghiburan yang lembut. Kalimat sarkas dan kasarnya justru lebih mengena dalam hati. Andai tidak kalah dengan gengsi, aku pasti sudah berterimakasih padanya berkali-kali.
__ADS_1
"hmmm... iya." jawabku singkat. Aku tidak menyadari kalau Shinta sudah beranjak dari tempat duduknya. Dia mengisi gelas-gelas plastik dengan soda lalu memberiku satu.
"Harus bahagia ga boleh cemen." ucapnya memintaku melakukan cheers dengan gelasnya. Aku hanya mengikuti sambil tersenyum pahit.
...****************...
Tanpa terasa beberapa bulan berjalan dengan situasi yang hampir sama. Aku masih membenci Ananta, dia pun tidak pernah mendatangiku duluan. Aku bertemu orang-orang baru, tapi hubunganku dengan Ananta masih di titik yang sama tanpa ada perubahan apapun.
“Alana…” panggil Diki dengan canggung. Aku menatapnya jengah. Kami sering bertemu akhir-akhir ini. Hanya bertatap muka, kadang sedikit menyapa lalu menjauh lagi seperti tidak akrab. Namun kali ini, dia datang di saat yang tepat.
“Diki, temani aku jalan-jalan” ucapku tiba-tiba. Dia menatapku tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Sebenarnya aku tidak mau memberi harapan, aku hanya butuh teman. Semoga dia paham akan hal itu. Aku mengajaknya bertemu besok di hari minggu, aku mau ke suatu tempat untuk mengenang rasa sakit sekali lagi.
Keesokan harinya kami benar-benar bertemu. Tapi hari itu dia justru berdandan sedikit berlebihan, memakai kacamata hitam dan membawa seikat bunga yang mungkin akan segera masuk ke tempat sampah begitu diberikan padaku.
“kita hanya jalan-jalan”ucapku dingin, meyakinkan bahwa aku ingin dia tidak berharap lebih, dan si polos itu hanya tersenyum tipis.
"aku tahu." ucapnya singkat.
Aku memintanya mengantarku ke danau, tempat Ananta dan Bu Lita bertemu sore itu. Aku bukannya mengulang luka, aku hanya ingin memahami cara berpikir Ananta dari sudut pandangnya. Meski sekarang berjauhan, tapi otak dan hatiku masih saja mengarah lurus kepadanya.
“Diki” panggilku.
“iya?”
__ADS_1
“Apa cinta itu selalu memaafkan kesalahan?” tanyaku, dia diam beberapa saat.
“cinta itu apa sebenarnya?” ucapku dengan sendu.
“cinta itu, sebuah benang merah yang mengikat dua orang. Orang yang selalu kamu khawatirkan pertama kali setiap kali membuka mata” ucapnya yang terdengar romantis, tapi terasa bodoh jika dirasakan. Cinta memang setulus itu ya ? Lalu aku mengingat hal pahit. Yah, meski konyol aku rasa aku paham apa maksudnya.
“lalu bagaimana dengan yang bertepuk sebelah tangan, atau cinta segitiga ditengah kisah cinta orang lain…?” tanyaku. Dia kebingungan menjawabnya. Aku tahu, pertanyaan ku mungkin membuat orang menjadi tidak nyaman, tapi aku masih ingin menanyakan nya paling tidak satu kali.
"Apapun keadaannya, cinta itu tidak pernah salah. Dia ada karena ketulusan. Orang yang terluka karenanya berarti dia hanya tidak benar-benar memahami hatinya sendiri. Cinta itu harusnya membuat manusia bahagia." jawabnya lagi. Aku baru tahu, dia ini ternyata agak mellow juga orangnya.
"hah... aku mau makan kue" ucap ku bangkit dari tempat dudukku. Rasanya semakin lama disini aku merasa semakin menyedihkan.
Aku mengajaknya ke toko kue favoritku. Tempat yang biasanya aku datangi bersama Ananta, walau saat itu aku harus ngambek dan memaksanya hingga beberapa hari dulu.
Kami membicarakan banyak hal, dia ini terlihat nerd, tapi pemikirannya tidak seburuk itu. Dari semua jawabannya aku punya satu kesimpulan, dia itu tulus meski tidak seru untuk di ajak bicara.
Menurutku, dia tidak buruk juga. Dia itu....
TING!
sebuah notifikasi khusus yang ku buat untuk Ananta itu berbunyi. Aku membukanya dengan buru-buru. Ananta… dia meninggalkan sebuah voice note untukku. Setelah 2 bulan ini berjauhan, saling benci, hingga akhirnya rasa benci itu seperti tidak bersisa lagi begitu dia menghubungiku lebih dulu. Secepat itu, sekarang, saat dia yang datang mencariku duluan. Reflek tubuhku membukanya. Diki menatapku dengan sedikit heran karena aku seperti takjub melihat handphone ku sendiri.
“Nanti malam aku mampir ke rumahmu ya, aku lapar.” Ucapnya singkat. Bukan maaf, bukan rindu, bukan apapun tentang kenapa aku marah, hanya itu. Sederet kata yang terdengar seperti aku ingin bertemu denganmu… dan memiliki arti dia yang akan datang lebih dulu menemui ku.
__ADS_1