Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt

Rahasia & Prasangka = Keep it secret, you will hurt
Kejutan


__ADS_3

Setelah pembicaraan-pembicaraan aneh di pinggir danau itu, Ananta membawaku pergi lagi. Kali ini dia tidak memberitahu tujuan kami sama sekali. Katanya, yang satu ini kejutan kecil untukku. Aku hanya mengikuti apa katanya saja. Toh dia tidak akan berani membawaku pergi ke tempat aneh.


Tapi aku sedikit kecewa saat dia membawaku ke gerbang sekolah. Hari ini libur, kenapa dia masih membawaku ke sekolah lagi sih. Kami bahkan membuka sendiri gerbang yang entah bagaimana sudah tidak terkunci itu. Apa sekarang ini aku sedang melanggar peraturan? tentu saja. Siapa yang berani membobol gerbang sekolah dengan izin di hari libur, dia pasti kurang kerjaan.


Ananta membawaku ke rute yang sudah sangat familiar, tentu saja ini tempat persembunyian ku. Malahan harusnya dia tidak tahu tentang tempat ini. Tapi gara-gara masalah kemarin tempat ini jadi tidak rahasia lagi. Maaf Shinta, sekarang tempat ini bukan tempat spesial kita berdua lagi. Dua anak laki-laki menyebalkan itu juga sudah mengetahuinya.


Aku tiba-tiba menjadi gugup saat Ananta menarik pergelangan tanganku disepanjang tangga. Aku agak lelah karena kami sudah berkeliling sejak pagi. Ananta menarikku untuk memastikan aku tidak tertinggal. Dia ini kenapa sih, dikejar apa sampai buru-buru begitu.


Saat Ananta membuka pintu aku langsung menatap tidak percaya. Pemandangan di depan sana membuatku tersenyum lebar secara otomatis. pipiku terasa tertarik karena senyum yang tidak bisa kutahan, merekah selebarnya.


Ada Shinta disana, orang yang tiba-tiba menjadi sangat kurindukan padahal baru sebentar tidak bertemu. Dia sudah duduk di atas matras dengan kaki disilangkan seolah sedang berada di singgasana. Tahu saja kalau aku akan bersedia menjadi pemujanya untuk kali ini saja. Aku... rindu.


"Kemana aja sih nge date nya, lama banget" Ucapnya dengan wajah songong, mengabaikan aku yang sudah tersenyum lebar sampai kurasakan pipiku sedikit kaku sekarang. Sudahlah, aku terlalu bahagia sampai tidak tau mau berkata apa.


"Aku ada janji ketemu Shinta di sini jadi aku takut dia menunggu terlalu lama." Ucap Ananta melihatku yang sedikit bengong karena masih tidak percaya aku melihat Shinta sekarang. Tapi mendengarnya bicara begitu aku tersadar dari melamun lalu menatapnya sebentar.


"kamu aja?" tanyaku setelah memproses perkataannya. Aku jadi seperti orang ketiga gara-gara dia bilang begitu. Padahal harusnya ini saat-saat penting untuk kita berdua. Di momen yang spesial dia malah membawa orang lain untuk bertemu denganku... meski aku sangat berterimakasih karena dia melakukan itu untukku.


"iya, tapi dia maunya ketemu kamu" jawabnya sambil mendorong pelan punggungku untuk segera berjalan mendekati Shinta. Dia akhirnya melepas tangannya yang berdiam lama di pergelangan tanganku. Menggerakkan dagunya memberi isyarat untukku agar segera menghampiri Shinta yang sekarang melebarkan tangannya menunggu pelukan hangat. Tapi saat aku sudah berada dalam jarak dekat dia malah menurunkan tangannya lagi.

__ADS_1


"Halo junior, salam dulu dong sama alumni" ucapnya mengangkat tinggi tangan kanannya ke udara. Aku mengikutinya saja. Mengambil tangannya untuk berjabat tangan.


"Junior apanya kita satu angkatan" balasku tidak terima. Aku meremat tangannya sedikit karena gemas. Dia ini adaaa saja kelakuannya. Aku menarik tangannya untuk lebih dekat padaku, sebelum benar-benar memeluk seperti rencananya. Yah, asal kamu tahu, kamu berhasil menjadi orang berharga di hidupku. Asal kamu tahu! itu adalah kehormatan.


"Hei aku sudah alumni tau, aku lulus kemarin. Lulus dengan caraku sendiri" katanya masih menyombong setelah mendorongku menjauh sedikit.


Apa yang dikatakannya tadi? Lulus itu bukan hanya keluar dari sekolah. Kamu harus dapat ijazah dulu. pikirku gemas. Tapi ya sudahlah yang penting dia bahagia.


Aku langsung duduk di sampingnya. Baru kemarin kami berpisah tanpa pamit, tapi rasanya kejadian itu seperti sudah lama terjadi dan aku sudah serindu ini padanya.


"Hei... susunya." ucapnya ku balas dengan tatapan bertanya. Aku melirik Ananta yang seperti mempertanyakan keberadaannya yang seperti di anggap tidak ada sampai Shinta berani membicarakan hal ambigu itu.


"Kenapa kamu tinggalkan di sana. Nanti cepat basi, harus cepat-cepat diminum. Lemari ini bukan kulkas." Shinta memarahiku seperti biasanya. Aku senang dia tidak berubah sama sekali. Tapi, siapa juga yang peduli dengan hal-hal seperti itu saat perasaannya sedang bercampur aduk.


"huft, maafkan aku..." ucapku, tidak peduli bahwa dia mungkin baru saja mencari topik lain supaya aku tidak membahas hal ini.


"aku suka melihatmu salah paham. Lucu. Maafkan aku juga karena tidak segera meluruskannya. Aku bahkan membuatmu cemburu, padahal Ananta itu sangat jauh dari tipeku" ucapnya ringan seolah tanpa beban. Ananta yang mendengarnya terlihat ingin protes sekarang. Hei tolonglah, dia tidak seburuk itu meski dia memang menyebalkan, sedikit, mungkin agak banyak juga.


"hei-hei. jangan menjelekkan aku di depan Alana begitu," protes Ananta. Aku hanya tertawa. Tidak peduli apapun yang di katakan orang lain tentang kamu aku tetap suka kamu kok. tenang saja.

__ADS_1


"Jadi," aku tidak bisa menahan rasa penasaran ku sekarang. Bagaimanapun, aku ingin tahu rencana Shinta setelah ini. Aku melakukan kesalahan besar dengan membiarkan dia keluar dari sekolah, harusnya hubungan kami tidak sebaik ini sekarang.


"apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyaku. Shinta terlihat seperti berpikir. Setelah melirikku sebentar dia tersenyum usil. Pikiran aneh apalagi yang muncul di kepalanya itu haduuh. Apa aku harus menyiapkan mental untuk mendengarkannya.


"Mungkin aku akan jadi artis saja" ucapnya dengan santai. Aku tahu dia hanya bercanda tapi sungguh, ini bukan saat yang tepat.


"shinta, serius." Dia ini barusan di paksa pindah dari sekolah, tapi seperti tidak ada penyesalan dalam ekspresi nya saat ini.


"Aku selesai mengurus kepindahanku besok siang. Semua sudah hampir siap. Nantinya aku akan ikut ayah ke kota tempat ayah bekerja dan pindah sekolah di sana." jelas Shinta membuatku segera merasa bersalah lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bersalah saat ini.


"Hei, tidak apa-apa. Waktunya terlalu tepat sampai aku sendiri tidak menyangka akan begini. Ayah pindah tempat tugas jadi ini seperti aku keluar karena aku memang ingin, bukan karena ada masalah." ucapnya mengatakan fakta tapi terdengar seperti dia hanya berusaha menghiburku.


Ya sudahlah, semua sudah terjadi. Situasinya mungkin lebih baik di sana daripada bersamaku di sekolah ini.


"jangan pernah putus kontak dariku, oke" putusnya lagi. aku juga tidak mau kehilangan sahabat seperti dia.


"oke" Aku tersenyum, Ananta juga mengamati kami sambil tersenyum tipis. Dia baru ikut duduk bersama kami saat Shinta mengeluarkan snack dari lemari. Kami menghabiskan sore bersama-sama dengan suasana yang nyaman. Entah bagaimana cara kami keluar dari sini, itu akan kupikirkan nanti. Penjaga harusnya tidak ada di sekolah hari ini, kan. iya kan.


Aku mau menikmatinya momennya dulu. Ini perpisahan, jadi aku tidak mau semuanya cepat berlalu.

__ADS_1


__ADS_2