
Di saat yang sama di tempat lain, Frans saat ini sedang menerima telepon dari Aren untuk membicarakan tentang beberapa hal. Aren memang kerap kali meminta pendapat Frans sebelum dia mengambil keputusan kerja sama dengan beberapa kliennya sebab baginya, Frans lebih tahu mana keputusan yang tepat untuk diambil.
“Frans, aku bingung sekali. Proyek yang ditawarkan kali ini memang sangat besar. Tapi, risiko yang mungkin akan aku terima juga besar. Kau tahu, pembangunan proyek ini berada di sebuah kebun yang berpuluh-puluh tahun telah menghidupi warga setempat. Pembangunan proyek ini pasti akan menimbulkan banyak protes dari warga,” keluh Aren dari seberang sambungan telepon.
Frans berdecap pelan. Pagi-pagi sekali saat dia seharusnya sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja justru harus tertunda karena telepon dari Aren. Bukan, bukannya Frans tidak suka. Hanya saja Frans sedang sangat malas untuk membahas mengenai pekerjaan pagi ini sebab dia masih mengingat tentang apa yang terjadi tadi malam.
“Begini, Aren. Apakah proyekmu ini nanti juga bisa menolong warga setempat? Maksudku, apakah kau juga akan menyediakan lapangan kerja untuk mereka saat pembangunan mau pun setelah proyekmu selesai dibangun?” tanya Frans sambil menguap lebar.
“Tentu saja, Frans. Kemungkinan besar aku akan membutuhkan tenaga kerja dari warga setempat,” jawab Aren.
“Kalau begitu kenapa kau masih bingung? Kau bisa menjelaskan kepada warga setempat baik-baik mengenai rencana proyekmu dan keuntungan untuk warga setempat,” balas Frans sambil memutar bola matanya.
“Tapi, bukan itu saja masalahnya, Frans,” kilah Aren. “Proyek ini juga akan memakan biaya yang cukup fantastis. Kalau sampai proyek ini gagal di tengah jalan, perusahaan ayah pasti akan rugi besar.”
“Kalau masalah itu, kau harus membicarakannya dengan pihak finansial atau penasihat hukum perusahaan. Kau harus memikirkan dari segala hal mengenai anggaran perusahaan. Jangan sampai perusahaan berakhir terlilit hutang di bank,” usul Frans.
“Ah, kau benar. Baiklah, baiklah. Terima kasih atas sarannya, Frans. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan jika bukan karena saran-saran darimu,” ucap Aren.
“Sama-sama,” balas Frans, kemudian mematikan sambungan telepon.
Pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur kemudian bangkit berdiri. Tiba-tiba saja pikirannya ditarik kembali pada kejadian tadi malam saat ia menolong seorang gadis cantik berpenampilan kacau yang mencegat laju mobilnya.
“Kenapa aku jadi memikirkan gadis itu?” gumam Frans pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia tidak tahu siapa gadis itu. Ah, dia bahkan lupa bertanya siapa namanya. Tapi, satu hal yang jelas, gadis asing tersebut telah menyita perhatiannya. Frans yang selama ini tidak pernah memikirkan seorang wanita lagi setelah perceraiannya dengan Carlynda tiba-tiba saja merasa penasaran dengan gadis yang kemarin dia tolong.
Tingkah lucu gadis itu saat meminta tolong dan berniat untuk meminjam uang membuatnya merasa geli sendiri. Frans yang sudah lama tidak tersenyum hari ini tersenyum kembali. Tiba-tiba saja dia merasa penasaran dengan gadis yang bahkan dia tidak tahu siapa namanya.
“Argh! Aku bisa gila kalau terus-terusan memikirkan gadis itu,” ucap Frans. Pria itu mengusap wajahnya dengan frustrasi lalu melanjutkan kalimatnya. “Aku jadi penasaran dengan apa yang tadi malam terjadi dengan gadis itu.”
Frans berjalan menuju ke pintu kamarnya. Begitu dia membuka pintu, kebetulan sekali seorang pelayan tengah melintas sambil membawa tumpukan pakaian kotor di keranjang.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa pelayan itu.
“Tolong panggilkan sopirku. Aku ingin dia menemuiku di ruang makan lima belas menit lagi,” perintah Frans.
“Baik, Tuan,” jawab si pelayan.
Usai bersiap-siap, saat dia memasuki ruang makan, rupanya sopirnya sudah menunggu di sana. Frans segera menghampiri sopirnya tersebut.
“Selamat pagi, Tuan. Apakah benar Anda memanggil saya?” tanya sopir Frans.
Frans mengangguk. “Apakah kau tahu di mana kafe yang disebutkan oleh gadis yang kita tolong kemarin?” tanya Frans tanpa basa-basi lagi.
“Tahu, Tuan. Kebetulan aku pernah pergi ke sana,” jawab sopirnya. “Tapi, kalau boleh tahu, memangnya kenapa, ya, Tuan?”
“Setelah sarapan, aku ingin kau mengantarku ke sana,” ucap Frans.
__ADS_1
Sopir Frans terkejut saat mendengar hal tersebut. Dia bahkan terdiam sejenak sambil memastikan apakah dia salah mendengar atau tidak. Dia dibuat terheran-heran dengan sikap bosnya sebab sejak semalam, dia melihat ada hal yang berbeda dari dalam diri bosnya. Setelah bertemu dengan gadis itu, Frans jadi lebih sering tersenyum dan sekarang Frans bahkan meminta sopir untuk mengantarnya ke kafe gadis itu.
“Apakah kau tidak mendengarku?” tanya Frans kesal sebab sopirnya tak kunjung memberikan jawaban.
“Aku mendengarnya, Tuan. Aku akan segera menyiapkan mobil. Permisi,” ucapnya dengan cepat lalu berlalu pergi, takut kalau Frans murka kepadanya.
Sepuluh menit kemudian, Frans dengan diantar oleh sopir pergi menuju ke kafe milik Kara, gadis yang semalam ditolong oleh Frans. Selama perjalanan menuju ke sana, Frans tidak henti-hentinya memikirkan tentang gadis itu. Entah kenapa gadis yang baru dia temui sekejap saja bisa mengisi ruang di kepalanya.
“Kita sudah sampai, Pak,” ucap sopir Frans setelah mengendarai mobil hampir setengah jam. Rupanya, jarak antara rumah Frans dengan kafe gadis itu tidak terlalu jauh. “Apakah Anda ingin turun, Pak?”
“Tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat dari sini saja,” ucap Frans. Kalau Frans memutuskan untuk turun, bisa-bisa gadis itu akan berpikir kalau Frans ingin menagih uangnya. Frans sama sekali tidak memikirkan tentang uang itu. Yang ia ingin tahu hanyalah di mana gadis itu tinggal dan siapakah gadis itu.
Frans menatap ke luar jendela. Dia mengamati kafe tingkat tiga yang tak terlalu luas itu. Kafe itu tampak sederhana dengan konsep perpustakaan sebab ada banyak sekali buku yang terpajang di sana. Kafe itu terlihat sangat nyaman untuk orang-orang yang ingin menghabiskan waktu untuk menikmati makanan sambil mencari ketenangan dari buku-buku yang dipinjamkan di kafe tersebut.
Sopir Frans melirik Frans dari kaca spion. Lagi-lagi dia dibuat heran sebab majikannya tersenyum sendiri sambil menatap ke arah kafe itu. Namun, dia memilih untuk tidak bertanya karena takut akan mengganggu suasana hati Frans.
Senyum Frans kian mengembang saat dia melihat Kara tampak sedang berdiri di belakang meja kasir sambil tersenyum ramah kepada pengunjung.
‘Dia sepertinya gadis yang sangat ceria,’ gumam Frans dalam hati.
Namun, senyum yang mengembang sempurna di bibir Frans tiba-tiba saja sirna ketika dia melihat seorang pria masuk ke dalam kafe lalu menyapa Kara dengan sangat ramah. Mereka bahkan tampak berbincang-bincang di sana seolah mereka sudah mengenal sangat lama.
Entah kenapa, Frans tidak menyukai apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1