
Sepanjang malam, Frans sesekali curi-curi pandang ke arah Kara. Dan hal tersebut tentu disadari oleh Aren yang sedari tadi juga memerhatikan tingkah kakak tirinya yang sedikit mencurigakan. Namun, Aren masih harus menahan diri untuk tidak menanyakan tentang hal tersebut karena dia tidak mau mempermalukan kakak tirinya di depan gadis yang mungkin akan segera menjadi kekasihnya.
Sepulang dari kafe, Frans tanpa hentinya memikirkan sosok Kara. Setelah mendengar cerita Clara mengenai kehidupan gadis itu, Frans jadi semakin penasaran dengan Kara. Apalagi, Kara tampak seperti gadis yang sangat mandiri dan menyayangi neneknya. Kecantikan Kara pun tak dapat Frans ragukan lagi. Meskipun Kara tidak seperti model-model di majalah, namun kecantikan Kara merupakan kecantikan yang natural sehingga Frans tidak bisa melupakannya.
Frans menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa aku tidak bisa menyingkirkan bayangan Kara dari pikiranku?” tanya Frans pada dirinya sendiri seraya menyampirkan jasnya di ujung tempat tidurnya.
“Frans, kau tidak boleh menyukai Kara,” ucap Frans.
Terus-menerus memikirkan Kara jujur saja membuat Frans merasa ketakutan sebab dia sadar kalau rasa tertariknya pada Kara berbeda dengan rasa tertariknya pada dua mantan istrinya. Frans tidak pernah memikirkan seseorang sesering dia memikirkan Kara.
“Stop, Frans! Mulai sekarang kau tidak boleh bertemu dengan Kara lagi sebelum gadis itu benar-benar membuatmu gila,” gumam Frans, menguatkan tekad untuk tidak menemui Kara lagi setelah ini.
Satu minggu pun berlalu. Frans tidak pernah bertemu dengan Kara lagi. Dia pikir, perasaannya akan mati begitu saja. Namun, sepertinya Frans salah. Sebab pria itu kembali bertemu dengan Kara hari ini.
“Terima kasih karena sudah menyempatkan untuk makan siang dengan kami. Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak,” ucap salah satu rekan kerja Frans. Mereka lantas bersalaman dan berpisah di depan pintu restoran yang berada di sebuah pusat perbelanjaan di Kopenhagen.
Frans kemudian melangkahkan kakinya menuju ke salah satu lift yang akan membawanya menuju basemen sambil mengutak-atik ponselnya untuk mengecek jadwalnya setelah ini sebab saat makan siang tadi dia tidak mengajak sekretarisnya.
“Hai, Frans!” sapa seorang perempuan, membuat Frans mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Karena sibuk memeriksa jadwalnya, Frans sampai tidak sadar kalau lift yang dia masuki ternyata ada Kara di dalamnya. Pria itu menelan salivanya—merasa gugup—namun berusaha untuk tampak bersikap biasa saja.
“Hai,” jawab Frans singkat.
“Namamu Frans, ‘kan?” tanya Kara. Mereka belum sempat berkenalan sebelumnya jadi wajar saja kalau Kara bertanya apakah benar pria yang di hadapannya bernama Frans sebab dia hanya mendengar nama itu saat Clara dan kekasihnya mengobrol dengan Frans di kafenya tempo hari yang lalu.
Frans mengangguk, mencoba untuk menampilkan ekspresi wajah sedatar mungkin meski pada kenyataannya hatinya sedang melompat-lompat kegirangan karena dia bertemu lagi dengan Kara. Dia sudah bertekad untuk melupakan Kara, jadi dia bersikap cukup dingin kepada gadis itu.
Canggung adalah satu kata yang menggambarkan bagaimana suasana di lift itu setelahnya. Frans tidak mengajak Kara berbicara sementara Kara merasa tidak enak kalau terus mengoceh tapi lawan bicaranya tidak banyak menanggapi.
Saat lift berhenti, beberapa pria tampak masuk ke dalam lift. Melihat Kara yang tampak cantik dengan balutan dress floral selutut membuat mereka tak bisa berhenti menatap Kara.
Jantung Frans berdetak kencang. Pria itu bahkan harus mengontrol deru napasnya yang memburu akibat perbuatannya sendiri. Hal tersebut tentunya juga dirasakan oleh Kara. Gadis itu diam-diam tersenyum dengan hati yang berdegup cepat.
Karena terlalu menikmati perlakuan Frans, Kara sampai tidak sadar kalau dia ikut Frans turun hingga ke basemen.
“Kau tidak turun?” tanya Frans.
Kara menggeleng. “Aku harus naik lagi karena aku seharusnya tidak turun di sini,” jawabnya.
__ADS_1
Frans melihat ke sekelilingnya. Saat menyadari bahwa pria-pria tadi juga turun di basemen dan masih diam-diam mencuri pandang ke arah Kara pun tak mau membiarkan Kara pulang sendiri, dia merasa khawatir dengan Kara.
“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Frans lalu menarik Kara supaya ikut dengannya menuju ke mobil. Sementara Kara hanya bisa menurut sebab dia sendiri belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi.
Sepanjang perjalanan, Frans dan Kara sesekali mengisinya dengan obrolan ringan. Semakin Frans mengobrol dengan Kara, semakin dia dibuat jatuh pada pesona gadis itu.
“Terima kasih karena sudah mengantarku,” ucap Kara ketika mereka sudah sampai di depan kafenya.
Cup!
Kara tanpa sadar mencium pipi Frans. Karena malu dengan tindakannya, gadis itu buru-buru keluar dari mobil Frans dan berlari masuk ke dalam kafe. Sementara Frans mematung di tempatnya.
“Semakin aku ingin menjauhimu, kenapa aku justru dipertemukan denganmu lagi, Kara?” gumam Frans.
***
Mampir ya kak ke cerita di bawah ini. Dijamin ceritanya seru.
__ADS_1