
Seorang gadis cantik berambut panjang tengah menyiapkan segala perlengkapan dapur. Dia mengecek bahan-bahan makanan dan juga minuman di tempat penyimpanan. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, gadis itu pergi ke dapur untuk memanggang roti sebab sebentar lagi kafenya akan dibuka.
Sambil bersenandung pelan Kara memotong adonan roti yang sebelumnya sudah dia siapkan menjadi beberapa bagian, lalu membentuknya sesuai dengan yang dia inginkan dan memasukkannya ke dalam oven. Setelah selesai dengan roti, dia membersihkan meja dapur dan memotong bahan-bahan makanan supaya koki yang dia perkerjakan lebih mudah memasak. Pelanggan di kafe Kara bisa dibilang cukup banyak sehingga kalau Kara tidak menyiapkan segalanya di awal bisa-bisa kokinya keteteran.
“Kara, apakah ada yang perlu nenek bantu?” tanya Lesyana. Wanita renta tersebut tak tega melihat cucunya mengerjakan segala sesuatu sendiri. Setiap harinya, Lesyana paling tidak membantu pekerjaan Kara sebentar. Meskipun Kara sudah berulang kali melarangnya, sebagai seorang nenek Lesyana tentu akan tetap membantu Kara.
Kara mengangkat kepalanya. “Tidak perlu, Nek. Sebentar lagi juga koki akan datang,” balas Kara sambil tersenyum kemudian kembali memfokuskan diri pada bahan-bahan makanan yang tengah dia potong.
“Kalau begitu, nenek akan mengelap meja saja,” ucap Lesyana. Benar, bukan? Meskipun Kara sudah melarangnya, Lesyana akan tetap membantu meskipun hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ringan.
Kara terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bruk!
Belum ada lima menit Lesyana meninggalkan dapur, terdengar suara benturan yang cukup keras. Dengan jantung yang berdegup kencang, Kara berlari menuju ke luar dan mendapati sang nenek sudah tidak sadarkan diri di lantai kafe.
“Nenek!” seru Kara dengan mata membulat lebar.
Bersamaan dengan itu, para pegawai kafe Kara datang. Mereka pun berlarian menghampiri Lesyana yang tubuhnya sudah lemas.
“Nona Kara, sebaiknya kita bawa Nenek Lesyana ke rumah sakit sekarang,” ucap salah satu pegawai Kara. “Aku akan mengantar kalian. Kebetulan hari ini aku membawa mobil.”
Kara menganggukkan kepalanya. Dengan bantuan para pegawai, Kara berhasil membawa Lesyana masuk ke dalam mobil. Pegawainya yang bernama Ciara pun majukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Selama perjalanan, Kara memegang tangan neneknya dengan sangat erat. Air mata jatuh dari pelupuk matanya. Gadis itu merasa sangat khawatir dengan keadaan Lesyana sebab orang-orang yang berada di usia renta mudah sekali terkena penyakit. Kara benar-benar khawatir dengan sang nenek.
“Nenek, bangunlah, Nek. Jangan buat aku khawatir seperti ini,” ucap Kara sambil membelai wajah Lesyana. Ia menyingkap rambut abu-abu Lesyana yang menghalangi wajahnya.
Empat puluh lima menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Segera Kara membawa sang nenek ke unit gawat darurat supaya bisa segera ditangani. Paramedis yang bertugas pun dengan sigap membantu Kara untuk membawa Lesyana dengan ranjang dorong.
“Ciara, lebih baik kau kembali ke kafe. Aku tidak apa-apa di sini sendiri,” ucap Kara pada pegawainya.
“Apakah Anda yakin?” tanya Ciara untuk memastikan.
Kara mengangguk. “Iya.”
“Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga Nenek Lesyana tidak kenapa-kenapa,” ucap Ciara lalu berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Sementara Kara yang masih berada di ruang tunggu unit gawat darurat tak henti-hentinya menangis. Dia merasa sangat panik. Usia neneknya sudah di atas tujuh puluh tahun, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan neneknya.
Kara buru-buru menghapus air matanya dan berdiri. “Iya, Dok. Aku cucunya,” balas Kara. “Bagaimana keadaan nenek?”
“Nenek Anda tidak kenapa-kenapa. Hanya kelelahan saja. Kami juga sudah mengecek gula darah, kolesterol, dan tensinya. Semuanya normal. Usia renta seperti nenek Anda memang sudah wajar kalau sering lelah. Sebaiknya nenek Anda jangan dibiarkan untuk mengerjakan pekerjaan yang melelahkan,” jelas dokter yang menangani nenek Kara.
“Baik, Dok. Aku mengerti. Apakah aku bisa menemui nenekku sekarang?” tanya Kara.
“Tentu saja. Sebentar lagi nenek Anda pasti siuman dan mencari Anda,” ucap sang dokter lalu berjalan mendahului Kara untuk masuk ke ruang gawat darurat. “Nenek Anda berada di bilik nomor tiga.”
__ADS_1
Kara mengangguk lalu pergi menuju bilik yang dokter katakan. Di sana dia melihat tubuh neneknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dada Kara teriris pilu melihat bagaimana seseorang yang biasanya terlihat paling kuat di matanya kini terbaring tanpa daya.
“Nenek, sadarlah,” ucap Kara dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Gadis itu merasa tidak tega melihat wajah neneknya yang tampak pucat. Kalau saja Kara lebih memerhatikan neneknya, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Hal itulah yang Kara sesalkan saat ini.
‘Andai saja aku tidak membiarkan nenek membantu mengurus kafe, mungkin nenek tidak akan tumbang seperti ini,’ gumam Kara dalam hati.
Gadis itu meraih tangan neneknya, lalu meremasnya pelan. “Nenek, aku janji aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi kepada nenek. Aku sangat menyayangi nenek,” ucap Kara di sela isak tangisnya.
Kara kembali mengingat hari-hari yang ia lewati dengan sang nenek. Tak pernah sekali pun Lesyana mengeluh kelelahan. Wanita renta itu justru selalu menampakkan senyumannya di depan Kara dan selalu mendukung Kara dalam membuat keputusan-keputusan di hidupnya. Bagi Kara, Lesyana telah menggantikan peran orang tua baginya. Sebagai satu-satunya orang yang Kara miliki, Lesyana sangat berarti bagi Kara.
Seolah bisa mendengar isak tangis cucu tersayangnya, Lesyana perlahan membuka matanya. “Kara, jangan cengeng. Kau ini sudah dewasa. Kenapa menangis?” tanya Lesyana dengan suara yang sangat lemah.
Kara yang menyadari neneknya sudah sadar bukannya berhenti menangis malah justru semakin terisak. “Nenek! Aku sangat khawatir!” rajuknya dengan manja. “Kenapa nenek tidak bilang kalau nenek kelelahan? Seharusnya nenek istirahat saja tadi.”
Lesyana tersenyum. “Kara, nenek ingin kau segera menikah supaya nenek bisa tenang,” ucap Lesyana.
Ucapan itu membuat Kara berpikir kalau usia neneknya sudah tidak lama lagi. “Nenek jangan berkata seperti itu.” Dia menggembungkan pipinya.
“Apakah kau tidak ingin segera menikah, Kara? Usiamu sudah dua puluh enam, sudah cukup matang untuk menikah.” Lesyana yang mulai penasaran dengan kehidupan asmara Kara pun bertanya-tanya.
“Nenek, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku belum memikirkan tentang pernikahan sama sekali,” balas Kara.
“Nenek tahu kalau kau sudah bahagia. Tapi, tolong pikirkan juga tentang kehidupan asmaramu,” ucap Lesyana sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Kara menghela napasnya. “Nenek tidak usah khawatir. Aku sedang dekat dengan seorang pria, kok,” jawab Kara secara asal.
Meskipun belum memiliki pria yang dekat dengannya, Kara mengatakan hal tersebut untuk menenangkan pikiran neneknya. Jangan sampai Lesyana banyak pikiran dan kondisinya semakin memburuk.