
Setelah semua drama tersebut usai, ada perasaan lega yang tak dapat terkatakan di antara Kara dan Frans. Mereka yang saling menatap dan mengerti perasaan satu sama lain segera berpelukan. “Aku mencintaimu, Frans,” ucap Kara berusaha menahan tangis bahagianya.
“Aku juga mencintaimu, Kara. Maafkan aku,” balas Frans sembari mencium rambut gelap Kara dengan lembut. Mereka telah melewati banyak hal hingga sampai di titik terang ini. Yang lebih bahagia, dia dan Kara akhirnya bisa memiliki keluarga yang lengkap, bersama kedua anak kembar mereka.
Aren dan Clara mendekati keluarga berempat. Clara yang tidak bisa menahan kesedihan dan haru pun ikut meneteskan air mata. Sementara Aren menatap keduanya yang saling berpelukan dengan perasaan bersalah.
Ketika menyadari kedatangan Aren dan Clara, Frans dan Kara segera melepaskan pelukan keduanya. Kara menyapa keduanya dengan senyum yang tampak menyedihkan ketika dikombinasikan dengan kedua matanya yang memerah penuh air mata.
Aren menundukkan kepalanya, terlalu malu untuk menatap kakak lelaki yang berdiri di hadapannya, Frans. “Aku minta maaf, Frans. Semua kesulitan yang terjadi padamu disebabkan oleh ibuku,” ujarnya dengan suara yang tercekat. Dia tahu ibunya membenci Frans, tapi, dia tidak pernah menduga bahwa ibunya dapat melakukan hal-hal kejam seperti itu bahkan kriminal kepada kakak lelaki yang dia sayangi. Tanpa sadar air mata memenuhi pelupuk matanya. Sebagai pria dia tidak ingin menangis. Tapi, dia merasa sangat kacau kali ini.
“Tidak apa-apa, Aren. Ini bukan salahmu,” balas Frans, yang bergerak maju lalu merangkul adik lelakinya tersebut. Dia menepuk bahu adik lelakinya yang bergetar untuk menenangkan. “Aku selalu menganggapmu sebagai adikku sendiri. Jangan merasa bersalah, oke?” Dia selalu menyayangi Aren sebagaimana adik lelakinya sendiri. Dia tahu Aren juga merasakan hal yang sama kepadanya. Dari awal, hubungannya dengan Aren selalu tulus dan murni, terlepas dari betapa besar kebencian Lulla, ibu Aren, kepadanya.
Aren tertawa. “Baiklah, Frans.” Dia tersenyum, menghapus air matanya yang memalukan. “Aku selalu tahu kutukan itu hanya omong kosong.” Dia menggerutu. Frans selalu tidak percaya dengan apa yang dia katakana di masa lalu.
“Yah, seharusnya aku emndengarkanmu, Aren,” jawab Frans sambil terkekeh. “Kalau begitu kau harus bertemu dengan dua keponakan kecilmu.” Frans mengambil kedua anaknya dalam gendongan kanan dan kiri.
“Tuhan, mereka sangat lucu!” Clara merasa gemas melihat dua anak lucu yang indah. “Aku berharap Tuhan juga akan segera memberi kami anak,” ujarnya dengan senyum ringan. Sudah bertahun-tahun sejak pernikahannya dengan Aren dan mereka belum juga dikaruniai anak oleh Tuhan.
“Jangan khawatir Clara. Keponakan-keponakan kecil ini pasti akan memberi kita keberuntungan yang baik,” hibur Aren sambil bermain dengan salah satu keponakan yang sedang dia gendong.
__ADS_1
“Ya. Jangan khawatir, Clara.” Kara memeluk pundak Clara, menenangkannya.
“Bagaimana kalau kalian makan siang di sini, Frans?” tanya Aren ketika melihat jam telah menunjukkan waktu makan siang.
Frans ingin menjawab ketika pekikan Kara membuatnya terkejut.
“Clara! Tolong, Clara pingsan!” Kara berusaha memegangi tubuh Clara yang kehilangan kesadaran tiba-tiba.
Arsen segera memberikan si kecil pada Frans, sebelum menggendong Clara seperti putri. “Aku akan membawanya ke rumah sakit,” ucapnya dengan tegas sambil bergegas ke luar rumah.
“Kami ikut,” ucap Kara. Dia dan Frans menyusul sementara kedua anaknya dibawa pulang oleh pengasuh. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk membawa anak-anak yang sehat. Jadi, lebih baik membiarkan mereka berdua pulang lebih dulu.
Setelah menunjukkan kartu pasien berwarna emas, para perawat segera membawa Clara ke ruangan VIP. Tidak lama kemudian seorang dokter senior datang untuk melakukan pemeriksaan. Seorang perawat mengatakan kalau selama pemeriksaan awal mereka harus menunggu di luar ruangan sebentar. Ketiganya dengan cepat menyetujui hal tersebut.
Jorgie yang dikabari juga segera menyusul ke rumah sakit dengan mobil bersama sopir pribadinya. Dia bergegas dan melihat Aren, Kara, dan Frans. “Bagaimana dengan Clara?”
“Dokter sedang memeriksanya. Kami sedang menunggu,” balas Aren sedikit menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
Saat ini, Aren, Kara, Frans, dan Jorgie sedang duduk di depan ruang pemeriksaan dengan kecemasan dalam diam. Terutama Aren yang tidak bisa berhenti menoleh berulang kali menatap pintu ruang pemeriksaan, menunjukkan betapa khawatirnya dia.
“Jangan khawatir, Aren. Clara pasti baik-baik saja,” ujar Frans pada adik lelakinya, yang terlihat tidak bisa tenang.
Aren menghela napas. “Ini membuatku merasa sangat khawatir karena Clara jarang mengalami sakit. Kesehatannya selalu sangat bagus.” Oleh karena itu, dia merasa lebih cemas ketika istrinya, Clara, yang semula baik-baik saja, tiba-tiba pingsan yang mengejutkannya.
Pintu ruamg pemeriksaan terbuka, membuat Aren dengan sigap bangkit dan menghampiri dokter perempuan yang keluar. “Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?’ tanyanya bertubi-tubi dengan urgensi dalam nada suaranya.
“Tenang, Tuan Muda Nielsen. Istri Anda baik-baik saja. Bahkan ada kabar gembira. Selamat Nyonya Clara sedang hamil. Usia kehamilannya adalah satu bulan,” balas dokter perempuan tersebut dengan senyum yang menyenangkan.
__ADS_1
Aren membeku setelah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter perempuan di hadapannya. “Clara, Clara hamil?” tanyanya dengan terbata-bata. Dia masih belum bisa menerima kabar bahagia yang amat mengejutkannya tersebut.
“Ya, Tuan.” Dokter perempuan tersebut tidak ragu untuk mengiyakan.
“Terima kasih, Dokter! Terima kasih, Tuhan!” seru Aren segera memasuki ruang perawatan untuk menemukan istrinya, Clara, dalam kebahagiaannya.
“Arsen!” Clara yang berbaring di tempat tidur masih memiliki wajah pucat, tapi, senyum lebar di bibirnya menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.
Arsen segera menghampiri istrinya tersebut dan memeluknya erat-erat. “Clara, kita akan punya anak.”
“Ya, Arsen. Aku sangat bahagia,” ujar Clara tersedak tangis bahagia. Hanya mereka berdua yang tahu sekeras apa mereka berusaha dan bertahan bersama.
Frans, Kara, dan Jorgie segera menyusuk ke dalam dan merasa bahagia ketika mendengar kabar dan melihat momen mengharukan antara Arsen dan Clara.
“Selamat untuk kalian,” ucap Kara dengan senyum di bibirnya.
“Terima kasih, Kakak. Keponakan-keponakan kecil kita memang membawa keberuntungan,” jawab Clara. Semua orang tertawa ketika mendengarnya.
Kebahagiaan tidak hanya menghampiri keluarga Frans dan Kara, tetapi, juga Arsen dan Clara. Jorgie pun bahagia karena melihat kedua putranya dapat memiliki keluarga lengkap dan dia juga dapat menimang cucu-cucu yang lucu. Ini adalah akhir yang bahagia untuk semua orang, kecuali Lulla, yang telah melakukan hal-hal jahat dalam hidupnya.
***
🤩Tamat🤩
Terima kasih selalu untuk kalian yang selalu mendukung dan mengikuti ceritaku. Ramaikan juga akun ku yang lain ya kak, nama pena, 'Call Me Vani'
Judul 'Penghangat Ranjang Casanova' Ceritanya juga udah hampir tamat, insyaAllah kalian suka. 👍🤩

__ADS_1