Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Menceritakan Yang Terjadi


__ADS_3

Malam itu ....


Kara memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari kamarnya. Malam ini, dia akan menemani Melina menghadiri acara reuni dengan teman-teman sekolah Melina. Sebetulnya, Kara malas menghadiri acara tersebut karena dia pasti akan merasa bosan sebab tidak mengenal siapa-siapa. Tapi, bujuk rayu Melina membuatnya tidak tega jadi dia akhirnya mau ikut dengan Melina.


Saat dia keluar dari kamar dan turun ke lantai dasar di mana kafenya berada, ia mendapati sang nenek tengah membersihkan meja-meja pengunjung. Kara yang tidak tega melihat Lesyana pun menghampirinya.


“Nenek, lebih baik nenek istirahat saja. Nanti sepulang dari acara aku yang akan membersihkannya,” ucap Kara, membuat Lesyana menoleh ke arahnya.


“Kara, nenek tidak apa-apa. Mengelap meja tidak akan membuat nenek kelelahan. Biasanya juga kita sibuk melayani pelanggan, bukan?” tanya Lesyana, bergurau sambil terkekeh geli.


Kara mencebikkan bibirnya. “Nenek ... Tapi, jam operasional kafe sudah selesai. Lebih baik nenek beristirahat saja,” balas Kara tidak mau kalah.


Biasanya, setelah Kafe tutup, Kara lah yang akan memberesi semuanya. Mulai dari mencuci perabotan sampai mengepel lantai. Tapi, lantaran malam ini dia harus menemani temannya pergi, Kara tidak sempat untuk melakukan itu semua.


“Kalau begitu aku tidak usah pergi saja. Lebih baik aku membantu Nenek di sini,” ucap Kara.


Lesyana menghentikan aktivitasnya. “Kara, kau sudah berjanji pada Melina kalau kau akan menemaninya. Jangan mengingkari janjimu, Kara. Sebab manusia yang dipegang adalah ucapannya,” balas Lesyana sambil tersenyum lebar.


Kara menghela napas berat. “Baiklah, baiklah. Nenek tahu saja kalau aku hanya malas pergi,” ucap Kara.


Ting!


Bel rumah berbunyi. Kara dan Lesyana sontak menoleh dan mendapati Melina di depan pintu Kafe. Kara pun menoleh ke arah sang nenek untuk berpamitan.


“Nenek, aku berangkat dulu. Nenek jangan lupa menutup pintu dan istirahat,” ucap Kara.


Lesyana mengangguk. “Hati-hati di jalan, Kara!” serunya.


Kara mengecup pipi sang nenek lalu berjalan keluar dari gedung bertingkat tempat dia tinggal. Di depan sana, Melina menyambutnya dengan senyuman hangat.


“Apakah aku benar-benar harus ikut denganmu, Melina?” tanya Kara ragu.


Melina mengangguk cepat. “Tentu saja. Aku tidak punya banyak teman di sekolah. Apakah kau tega membiarkanku mati kutu karena tidak ada yang berbicara denganku?” tanya Melina.


Kara dan Melina tertawa, lalu berjalan masuk ke dalam mobil Melina. Selama perjalanan, mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol sambil bernyanyi dengan riang. Empat puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di tempat reuni.

__ADS_1


“Acaranya di kelab malam?” tanya Kara.


Melina mengangguk. “Aku tidak bersekolah di sekolah elit. Jadi, mana mungkin reuni sekolahku diadakan di hotel bintang lima,” balas Melina sambil terkekeh. “Ayo, masuk.”


Melina menggandeng Kara masuk ke dalam kelab malam itu. Aroma alkohol dan rokok langsung menyerbu keduanya. Suara musik yang mengentak-entak terdengar semakin kencang pula tatkala langkah mereka kian masuk ke dalam. Kedua gadis itu memilih untuk duduk di kursi tinggi meja bar.


“Selamat malam, Nona-nona. Apakah kalian ingin minum sesuatu?” tanya bartender.


“Segelas gin and tonic untukku,” jawab Melina.


“Lalu, bagaimana denganmu, Nona?” tanya bartender pada Kara.


“Segelas martini, please,” jawab Kara.


Bartender itu mengangguk lalu membuatkan minuman untuk Kara dan Melina. Begitu minuman disajikan, Melina langsung menegaknya dalam sekali tegukan lalu memesan minuman lagi.


Setelah minum sekitar tiga gelas, salah satu teman lama Melina datang menghampiri.


“Hai, kau Melina, bukan?” tanyanya.


“Teman-teman yang lain sedang berada di dance floor. Apakah kau tidak mau bergabung?” tanya teman lama Melina.


Melina menoleh ke arah Kara, meminta pertimbangan dari Kara. Malam ini dia datang bersama Kara jadi dia harus bertanya kepada Kara apakah dia boleh pergi dengan teman-temannya atau tidak.


“Tidak apa-apa. Pergilah. Aku akan menunggumu di sini,” ucap Kara sambil tersenyum.


“Baiklah. Kau jangan ke mana-mana sampai aku kembali,” ucap Melina dengan nada penuh peringatan lalu pergi ke lantai dansa dan menari bersama teman-temannya di bawah mirror ball.


“Apakah temanmu memang seperti itu?” tanya bartender, membuat Kara menoleh.


“Maksudnya?” tanya Kara tidak mengerti.


“Minum dengan sangat cepat,” jawab bartender.


Kara terkekeh. “Dia memang seperti itu. Berbeda denganku yang dari tadi bahkan belum habis satu gelas,” ucap Kara.

__ADS_1


Karena ditinggal sendirian oleh Melina, Kara pun memutuskan untuk pergi ke toilet dan membasuh wajahnya. Namun, siapa sangka saat gadis itu masuk ke dalam toilet, dia diikuti oleh beberapa pria yang sedang mabuk.


“Hei, kenapa kalian di sini? Apakah kalian tidak melihat kalau ini adalah toilet wanita?” tanya Kara pada pria-pria mabuk itu.


“Kenapa, Cantik? Apakah ada masalah?” tanya salah seorang pria.


“Tentu saja. Kalian sudah mengganggu privasi dan keamanan di sini,” ucap Kara lantang.


Melihat bagaimana lantangnya Kara, salahs seorang pria menghampirinya dan hendak menyentuhnya. Pria itu memojokkan tubuh Kara ke tembok, berniat untuk melecehkan Kara.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Kara, napasnya tercekat karena rasa takut.


“Tentu saja aku ingin bersenang-senang denganmu,” jawab pria itu enteng lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kara.


Bugh!


Kara menendang tepat pada ******** pria itu, membuat pria itu mundur beberapa langkah. Kara memanfaatkan kesempatan untuk berlari keluar dari kamar mandi. Untung saja teman-teman pria tadi terlalu mabuk sampai tidak bisa mengejarnya. Satu-satunya orang yang mengejar Kara adalah pria yang sempat menyentuhnya tadi.


Kara terus berlari keluar tanpa memikirkan Melina atau bahkan tasnya yang tertinggal di meja bar. Yang dia tahu hanyalah dia harus segera pergi dari sana.  Kata terus berlari hingga dia nekat mencegat sebuah mobil yang melintas di depannya.


Kembali ke waktu sekarang ....


Kara menceritakan semuanya dengan tubuh bergetar karena ketakutan. Memori tentang malam itu benar-benar membuatnya sangat panik.


“Kara, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa menjagamu,” ucap Melina penuh penyesalan.


Kara tersenyum. “Tidak ada yang perlu disesali, Melina. Semuanya sudah terjadi,” balas Kara.


“Tapi, kau tidak apa-apa, bukan? Mereka tidak menyakitimu, ‘kan?” tanya Melina.


Kara mengangguk. “Aku baik-baik saja karena tadi malam ada orang yang menolongku,” ucap Kara.


“Siapa yang telah menolongmu?” tanya Melina penasaran.


“Aku tidak tahu. Yang jelas dia adalah pria tampan dan sepertinya cukup kaya karena semalam saat aku ingin meminjam uang untuk naik taksi, dia memberiku uang lebih,” jelas Kara.

__ADS_1


Kara dan Melina mengobrol sejenak. Setelah itu, Melina pulang. Usai Melina pulang, Kara masuk ke dalam kafenya. Tiba-tiba saja dia kembali mengingat pria tampan yang semalam menolongnya. Kara jadi bertanya-tanya apakah dia akan kembali bertemu dengan pria itu atau tidak.


__ADS_2