Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Pengakuan Aren


__ADS_3

Usai Claudia dibawa pergi oleh dua orang petugas keamanan, Frans berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu mulai mengambil beberapa dokumen yang tadi malam telah dia selesaikan. Dokumen-dokumen ini akan dia gunakan untuk bahan rapat dengan klien besok pagi.


Bukan Frans namanya kalau dia tidak bersikap perfeksionis dan mengerjakan pekerjaan bahkan sebelum waktu akhir. Pria itu adalah tipe pria yang selalu mengerjakan semua pekerjaannya sesuai dengan hitungan dan kematangan. Mana mungkin dia akan memakai pekerjaan yang tidak dipikirkan secara keseluruhan dan hanya mengandalkan kerja mepet deadline.


Pria yang terkenal sangat profesional tersebut sayangnya hari ini gagal melakukan kebiasaannya. Gara-gara pertemuan tidak sengajanya dengan seorang gadis membuat Frans tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Bahkan, kerap kali dia memandang layar komputer dengan tatapan kosong sebab pikirannya tengah melalang buana memikirkan tentang Kara. Ditambah lagi, apa yang dilihatnya pagi ini benar-benar membuatnya merasa sangat kesal.


Frans tahu kalau Kara adalah gadis asing untuknya. Dia juga tahu kalau gadis yang baru dia temui tadi malam bisa saja memiliki kekasih dan hanya sedang membutuhkan bantuannya. Akan tetapi, entah kenapa Frans tidak suka gagasan itu. Frans tidak suka jika diminta membayangkan gadis itu memiliki seorang kekasih.


Dengan gusar Frans meraih telepon kabelnya lalu menghubungi salah seorang pegawainya.


“Halo, selamat pagi, Pak,” sapa pegawai Frans.


“Mana laporan yang aku minta?” sembur Frans tanpa basa-basi.


“Maaf, Pak. Tapi, kemarin Anda bilang laporannya bisa aku kumpulkan nanti sore,” ucap pegawai Frans kebingungan. Pasalnya, dia belum menyelesaikan laporan tersebut sebab dari kemarin dia sibuk mengerjakan laporan-laporan yang lain.


“Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku mau laporan itu selesai dalam tiga puluh menit. Tidak lebih,” titah Frans dengan tegas, membuat pegawainya panik bukan kepayang.


“Tiga puluh menit, Pak?” tanyanya.


“Iya. Apakah kau keberatan?” tanya Frans seraya menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


“Ah, tidak, Pak. Tiga puluh menit lagi laporan akan sampai di meja kerja Anda, Pak,” jawab pegawainya.


Setelah mendengar hal tersebut, Frans mematikan sambungan telepon secara sepihak. Pikiran Frans hari ini sangatlah kacau sehingga pegawainya yang menjadi sasaran empuknya. Tidak hanya meminta laporan, Frans juga seharian ini cukup tempramental dan menyembur hampir semua pegawai yang datang ke ruangannya.


“Maaf, Pak. Saya mendengar banyak keluhan dari karyawan mengenai perilaku Anda hari ini. Apakah Anda baik-baik saja?” tanya asisten pribadi Frans.


Frans melirik tajam ke arah asistennya. “Siapa yang membicarakan aku di belakang? Katakan pada mereka kalau berani bicara di depanku!” seru Frans.


Asisten pribadi Frans tersenyum tipis. “Pak, jika Anda memiliki masalah pribadi, sebaiknya Anda menenangkan diri Anda terlebih dahulu, Pak,” ucap asistennya. “Bukankah Anda sendiri yang berkata kalau kita harus memisahkan antara masalah kehidupan pribadi dengan pekerjaan?”


Frans menghela napas panjang. Apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya memang benar. Seharusnya Frans bisa bersikap profesional seperti biasanya. Tapi hari ini, dia justru telah bersikap sebaliknya.


‘Argh! Aku bisa gila kalau terus-menerus memikirkan gadis itu!’ umpat Frans dalam hati, merutuki kebodohannya yang telah membiarkan gadis asing itu menguasai pikirannya. ‘Tidak, tidak! Sebaiknya aku tidak memikirkan dia lagi. Lagi pula, aku tidak mungkin bertemu dengan dia lagi.’


*****


Malam harinya ....


Saat ini di kediaman keluarga Nielsen semua orang tengah berkumpul di ruang makan. Saat sedang makan malam, tiba-tiba saja ibu tiri Frans kembali mengungkit sikap Frans saat di pesta kemarin.


“Frans itu benar-benar tidak sopan! Pergi tanpa pamit. Memangnya dia pikir kita ini bukan keluarganya?” tanya Lulla, berusaha memupuk kebencian di hati Aren dan Jorgie kepada Frans.

__ADS_1


Wanita itu bersikap seolah dia marah karena Frans meninggalkan pesta tanpa pamit meski pada kenyataannya, dia justru merasa senang karena tidak perlu melihat wajah Frans terlalu lama. Apalagi, kehadiran Frans menyita perhatian banyak orang dan hal itu membuat Lulla muak karena dia ingin Aren lah yang menjadi pusat perhatian, bukan Frans.


“Frans ada urusan mendadak, Ma. Lagi pula yang penting, kan, Frans datang. Bukankah itu yang Papa inginkan juga?” tanya Aren, membela Frans. Pria itu memang tidak suka kalau ibunya menjelek-jelekkan saudara tirinya sebab dia dan Frans berhubungan dengan baik.


“Itu hanya alasan saja. Frans memang sebenarnya tidak peduli dengan kita semua. Yang ada di pikiran Frans hanyalah kepentingan dia sendiri,” cibir Lulla kemudian menyendok makanan ke dalam mulutnya.


Aren menoleh ke arah sang ibu. Dia menatap Lulla dengan tatapan tak suka sebab Lulla kerap kali menjelek-jelekkan Frans di depan ayahnya. Padahal, setahu Aren, Frans tidak pernah melakukan hal-hal yang buruk kepada Lulla atau ayahnya. Terlebih lagi dengan kutukan yang menghinggapinya, Frans bahkan mengalah untuk pergi dari rumah keluarga Nielsen supaya tidak merusak citra keluarga Nielsen.


“Sikap Frans yang seperti itu bukan berarti dia tidak peduli dengan keluarga,” balas Aren.


“Sudah, sudah. Kalian jangan berdebat lagi,” lerai Jorgie. Dia tahu kalau istrinya mungkin kecewa dengan sikap Frans, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menyalahkan sikap Frans sebab Frans pasti merasa tidak nyaman berada di pesta.


“Tapi, Mama harus tahu kalau Frans tidak seburuk yang Mama pikirkan, Pa,” ujar Aren. Pria itu menolehkan kepalanya ke arah Lulla kembali. “Bahkan yang selama ini membantu kesuksesan proyek-proyek yang aku pegang adalah Frans.”


Ucapan Aren mengejutkan Jorgie dan Lulla. Selama ini, anggota keluarga Nielsen yang lain tidak ada yang tahu kalau Frans telah membantu Aren untuk mendapatkan investor hingga memberikan saran dan masukan terhadap langkah yang akan diambil Aren pada proyek-proyeknya.


“Frans tidak hanya membantuku mencari investor tapi juga karena campur tangan Frans aku bisa mendapatkan proyek-proyek besar yang membuat kesuksesan perusahaan Nielsen semakin meningkat,” jelas Aren.


Lulla menatap tajam ke arah Aren. Dia merasa sangat kesal sebab tanpa sadar Aren mengakui kalau dia tidak lebih hebat dari Frans. Aren bahkan juga berkata seolah jika tidak ada Frans maka dia tidak akan bisa menjadi pria sukses. Hal tersebut tentu membuat Lulla sangat marah karena dia ingin Jorgie melihat Aren sebagai pria yang sukses supaya Jorgie tidak menyesal sudah menjadikan Aren sebagai pemimpin di perusahaannya.


“Aren, apa yang kau katakan?!” seru Lulla tak suka. Wanita itu melirik tajam ke arah sang putra.

__ADS_1


Aren yang mengerti arti lirikan tajam ibunya pun berkata, “Semua itu benar, Ma. Frans memang lebih unggul dariku.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Frans meletakkan peralatan makannya, berdiri, lalu pergi dari ruang makan tanpa mengatakan apa-apa lagi.


__ADS_2