Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Maafkan Aku


__ADS_3

Setelah apa yang dikatakan Kara malam itu, Frans tidak lagi muncul di hadapan Kara. Dia hanya berdiam dalam mobilnya sambil mengamatinya dari jendela mobil. Frans juga selalu mengikuti Kara saat perjalanan pulang karena dia merasa khawatir saat melihatnya mengendarai mobil sendiri bersama dua anak. Kalau bisa, dia akan dengan senang hati menjadi sopir Kara setiap hari.


Hubungan mereka sudah sampai di titik ini, semua orang menyarankan untuk Frans menceraikan Kara. Tapi, dia tidak mau. Dia tidak akan pernah menceraikan Kara. Dia harap wanita yang dicintainya itu tidak akan meminta hal tersebut padanya. APa saja dia sanggung berikan, kecuali perceraian. 


Kara selalu tahu mobil Frans dengan setia mengikutinya selama hampir sebulan. Frans mengikutinya hingga dia pulang dan sampai di rumah. Tapi, dia hanya akan berpura-pura tidak tahu untuk saat ini. Itu juga hal baik. Dia tidak perlu khawatir jika ada hal buruk terjadi padanya dan kedua anaknya.


Dalam diamnya, Kara sebenarnya sedang melakukan investigasi mandiri. Dia sangat yakin jika ada yang sengaja membuat hasil tes DNA anak-anaknya dan Frans menjadi negatif. Bisa jadi orang tersebut adalah orang yang merekayasa kutukan yang terjadi pada Frans. Siapa pun orang itu pasti akan membenci jika dia dan Frans kembali bersatu. Jadi, untuk saat ini dia tidak akan berinteraksi dengan Frans.


“Nenek, sarapan sudah siap,” ujar Kara sambil keluar dari ruang makan. Dia segera mengambil kedua anaknya yang sedang asyik menonton televisi untuk duduk di meja makan khusus untuk anak. “Makan dulu, lalu tonton televisi lagi setelah habis, oke?” Kara tersenyum berkata kepada mereka berdua.


Kedua anaknya meneriakkan ‘ya’ dengan suara susu dan mengangguk semangat. Mereka tidak sabar untuk segera menonton kartun favorit mereka dan segera memakan makanannya dengan lahap.


Nenek yang muncul dan melihat pemandangan ibu dan anak tersebut merasa sangat bahagia. Selama dua tahun ditinggalkan oleh Kara, dia merasa sangat kesepian. Meskipun mereka tetap berhubungan melalui telepon atau pesan, dia tetap merindukan kehadiran cucu perempuannya. Saat ini, dia tidak hanya bisa berkumpul dengan cucu perempuannya, keluarga mereka juga bertambah dengan dua malaikat kecil yang lucu, cicit-cicitnya. Meskipun hal yang sedih karena ayah mereka belum mempercayai bahwa mereka adalah anak kandungnya.

__ADS_1


“Nenek, ayo kita sarapan,” ajak Kara yang melihat neneknya tertegun menatap kedua anaknya dengan sorot mata sedih. Dia mungkin tahu apa yang sedang dipikirkan neneknya. Tapi, dia juga tidak bisa melakukan apa pun. Hidup mereka akan tetap berjalan. 


Mereka berempat memakan sarapan mereka dengan suasana yang menyenangkan. Diselingi dengan celetukan kedua anak yang berada dalam umur-umurnya suka mengoceh dan menirukan semuanya. Kara tertawa senang ketika melihatnya. Kedua anak tersebut sudah menyebutnya ibu dengan cukup fasih. 


Beberapa bulan berlalu sejak investigasi mandiri Kara. Dia bahkan menyewa dua detektif swasta untuk membantunya. Hari itu saat di kafe dia mendapatkan email hasil penyelidikan. Segera dia tercengang dan menyadari semuanya. Ternyata dalang di balik semua yang terjadi adalah Lulla, ibu tiri Frans. Lulla tidak pernah meninggalkan Frans sendirian dan terus membuat batu sandungan dalam hidupnya. Termasuk apa yang terjadi dengan hasil tes DNA anak-anak Kara adalah rekayasa dari Lulla.


Kara tidak pernah menyangka akan menemukan seseorang yang begitu kejam seperti Lulla dalam hidupnya. Saat ini, dia hanya ingin memeluk Frans yang menjalani kehidupan beratnya sendirian. Jika Kara menjadi Frans, dia tidak tahu apakah dia bisa bertahan hingga saat ini. Frans tidak hanya bertahan, dia bisa berjuang dan membangun kesuksesannya sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, dan Kara bersiap untuk pulang. Kafe harusnya tutup pukul Sembilan dan dia sudah menyerahkan tanggung jawab menutup kafe pada orang lain. Dia menuju mobilnya sendirian karena kedua anaknya sudah memasuki program pra-sekolah di mana mereka dapat bertemu teman-teman seusia mereka dan bermain sambil belajar bersama. Kara juga menyewa seorang pengasuh yang bisa dia panggil kapan saja. Hari ini dia sengaja memanggil pengasuh untuk sekaligus menidurkan kedua anak di rumah karena saat ini dia memiliki hal yang harus dilakukan. 


Pintu belakang mobil terbuka dan benar saja Frans keluar dengan ekspresi khawatir. “Maafkan aku, Kara. Aku tahu kau ingin aku menjaga jarak darimu. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku..”


Frans belum menyelesaikan perkataannya ketika Kara tiba-tiba menghambur ke dalam pelukannya dan melingkari pinggangnya dengan erat. Mata Frans lembap. Dia belum pernah sedekat ini dengan Kara sejak waktu yang lama. Dia segera mengangkat tangannya dan memeluk Kara tak kalah erat dan menghirup aroma di rambutnya yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


Mereka berdua berakhir duduk di dalam mobil Frans bersebelahan. Saat ini, Frans sedang membaca berkas yang Kara serahkan. Ekspresi di wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan. “Ini tidak mungkin, kan?” Meskipun dia tahu Lulla membencinya, dia tidak pernah menduga bahwa ibu tirinya tersebut akan melakukan hal-hal sekejam ini. Dia hampir membuat kertas-kertas di tangannya sobek ketika melihat hasil penyelidikan bahwa kematian ibunya juga terkait dengan Lulla.


“Tenang,” ujar Kara sambil menggenggam tangan Frans. “Ayo kita lakukan tes DNA ke luar negeri, Frans. Dengan ini kitab isa membuktikan apakah penyelidikan ini benar atau salah.”


Frans terdiam. Jika hasil ini memang benar, maka selama ini dia sudah memperlakukan Kara dengan tidak adil. Dia segera merengkuh Kara ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, Kara.” 


“Yang terpenting adalah masa depan, Frans,” balas Kara menenangkan. “Saat ini dengarkan aku, kita harus menunjukkan kalau kita masih belum baik-baik saja agar Lulla tidak melakukan apa pun. Kalau perlu, katakana bahwa kau akan menceraikanku.”


Frans menghela napasnya. “Baiklah.”


Frans benar-benar melakukan apa yang Kara minta. Berita tentang dirinya yang akan menceraikan Kara segera tersebar yang menyebabkan keributan dan diskusi panas dari lingkarannya. Di belakang itu, dia pergi bersama Kara dan kedua anak dengan lancar ke luar negeri untuk melakukan tes DNA.


“Kara,” sebut Frans saat melihat dua hasil tes DNA yang sama-sama menunjukkan hasil positif. Dia menatap dua anak lucu yang bermain di atas ranjang dengan asyik dengan mata basah. “Maafkan Papa, Nak.” Dia memeluk keduanya dan menciumnya satu per satu. 

__ADS_1


Kara tidak bisa menahan tangis. Akhirnya keluarga mereka bisa berkumpul dengan bahagia. Terima kasih Tuhan, bisiknya dalam hati. 


“Kita akan kembali dan pergi ke rumah Nielsen,” ujar Frans dengan suara dingin. Dia tidak sabar untuk membongkar semua kebusukan yang Lulla lakukan.


__ADS_2