
Frans meneguk salivanya ketika Kara kini berdiri di depan mejanya. Namun, saat menyadari kalau tatapan Kara tidak mengarah ke arahnya, Frans lantas menoleh dan mendapati Clara juga tengah tersenyum. Frans mengerutkan dahinya ketika melihat hal tersebut.
“Hai, Clara,” sapa Kara.
“Hai, Kara. Bagaimana kabar nenekmu?” balas Clara.
Ketika nenek Kara jatuh sakit beberapa hari yang lalu, Clara merupakan salah satu perawat yang merawat nenek Kara. Sebetulnya mereka juga sudah akrab sebelumnya sebab Clara juga sering mampir ke kafe Kara untuk sekadar membeli secangkir kopi atau pun makanan.
“Nenekku sekarang baik-baik saja. Aku memintanya untuk tidak perlu membantuku mengurus kafe ini,” balas Clara.
Gadis itu lantas memberikan buku menu kepada Clara, Aren, dan Frans sambil tersenyum. Saat matanya menangkap sosok Frans, dia membulatkan matanya. Dia tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan pria yang sudah menolongnya malam itu.
“Hai, kau pria yang waktu itu, ‘kan?” tanya Kara, matanya berbinar-binar ketika melihat Frans sebab dia merasa kalau Frans adalah penyelamatnya.
Frans mengangguk sambil tersenyum tipis.
Kara yang menyadari kalau Frans adalah pria yang telah menolongnya pun dengan antusias mengambil tempat untuk duduk di samping Frans, membuat Aren yang sangat hafal kalau Frans tidak suka dengan orang asing terkejut dengan tindakan gadis itu.
__ADS_1
“Waktu itu aku belum benar-benar mengucapkan terima kasih kepadamu.” Kara tersenyum dengan hangat. “Terima kasih karena malam itu kau sudah membantuku. Jika bukan karena bantuan darimu, mungkin aku sudah berlari dari sana menuju ke rumah,” ucap Kara sambil terkekeh kecil.
“Kara, kau mengenal Frans?” tanya Clara.
Kara menoleh ke arah Clara. “Waktu itu dia pernah membantuku dari pria gila yang sedang mabuk,” jawab Kara.
Clara mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar hal tersebut.
Sementara Kara kembali menolehkan kepalanya ke arah Frans. Dengan mata berbinar, gadis itu berdiri. Dia lantas berkata, “Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan membuatkan hidangan terbaik di kafeku secara gratis untukmu.”
“Kara adalah gadis yang sangat sempurna di mataku,” ucap Clara ketika Kara sudah pergi. Ucapan Clara tentunya menarik perhatian Frans. “Tidak hanya cantik, dia juga sangat ceria, mandiri, dan baik hati.”
“Kau sudah lama mengenal gadis itu?” tanya Aren.
Clara mengangguk. “Aku sudah lama menjadi pelanggan tetap di kafe ini. Kami jadi akrab karena aku sering datang ke sini dan terkadang ketika neneknya jatuh sakit, aku yang menanganinya di rumah sakit,” jelas Clara.
Aren yang menyadari sikap aneh Frans sebab Frans lebih banyak diam pun bertanya, “Apakah Kara sudah punya kekasih?”
__ADS_1
“Tidak. Setahuku dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun karena dia hanya berfokus untuk kafe ini dan neneknya,” jawab Clara.
Mendengar itu, Frans menolehkan kepalanya. “Benarkah?” tanyanya, penasaran apakah ucapan Clara benar atau tidak.
“Iya. Selama aku mengenal Kara, tidak pernah sekali pun dia membicarakan tentang pria,” ucap Clara.
“Dia hanya tinggal dengan neneknya saja?”
Clara mengangguk. “Setahuku, sih, begitu. Orang tuanya sudah lama meninggal. Jadi, dia hanya hidup dengan neneknya. Kafe ini juga merupakan kafe keluarganya.”
Frans awalnya tidak percaya dengan ucapan Clara kalau Kara tidak punya kekasih. Terlebih lagi, Kara adalah gadis yang memiliki paras ayu. Hampir mustahil kalau gadis seperti Kara tidak memiliki kekasih. Waktu itu saja Frans melihat Kara sedang mengobrol dengan seorang pria, bukan?
Namun, ketika dia melihat pria yang waktu itu mengobrol dengan Kara dan dia pikir adalah kekasih Kara ternyata bekerja sebagai pelayan di kafe Kara, dia pun akhirnya percaya dengan ucapan Clara.
Sementara Aren yang melihat Frans diam-diam tampak penasaran dengan Kara pun tersenyum. Aren berpikir kalau dia akan menanyakan tentang hal itu nanti ketika mereka sudah pulang saja. Pria itu terus memerhatikan kakak tirinya sambil tersenyum. Frans tampak sangat bersemangat saat mendengarkan cerita Clara mengenai kehidupan Kara. Aren jadi semakin yakin kalau Frans tertarik dengan Kara.
Tidak heran kalau Aren berpikiran seperti itu sebab dia tidak pernah melihat Frans penasaran dengan wanita sampai bertanya-tanya seperti ini sebelumnya.
__ADS_1