Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Takut Akan Kutukan


__ADS_3

Satu tetes air mata Kara jatuh di pipi seiring dengan mobil Frans yang menghilang di tikungan. Gadis itu memutar tubuhnya, kemudian masuk ke dalam gedung bertingkat tempat dia tinggal. Untung saja kafe sudah tutup sehingga tidak akan ada yang melihat dia menangis.


Gadis itu berjalan dengan lunglai menaiki tangga menuju ke lantai dua. Hatinya terasa sangat berat sekali ketika dia memikirkan tentang bagaimana nasib percintaannya. Bagi Kara, diamnya Frans adalah sebuah jawaban. Kara tahu kalau Frans dulunya pernah menikah dan mungkin saja masih memiliki trauma untuk membangun rumah tangga yang baru. Akan tetapi, semua wanita pasti ingin dinikahi oleh pujaan hatinya, bukan? Tak terkecuali dengan Kara.


“Kara, kau sudah pulang?” ucap Lesyana yang rupanya belum tidur.


Kara buru-buru mengusap air matanya dan menunjukkan senyumannya kepada Lesyana. “Nenek belum tidur?”


“Nenek belum mengantuk.” Lesyana tersenyum tipis, menyadari jika ada sesuatu yang salah dengan cucunya. “Apakah aku baik-baik saja, Kara? Kenapa kau menangis?”


Mendengar pertanyaan Lesyana, bukannya berhenti menangis, Kara justru semakin terisak. Gadis itu berjalan dan berhamburan ke dalam pelukan neneknya. Dia memeluk tubuh renta sang nenek sambil menumpahkan segala kegelisahan yang ada di dadanya.


“Kara, apa yang terjadi?” tanya Lesyana bingung.


“Aku tadi bertanya kepada Frans apakah dia mencintaiku dan dia bilang dia mencintaiku. Namun, saat aku bertanya apakah dia ingin menikah denganku, dia tidak mau menjawabnya, Nek,” keluh Kara.


Lesyana tersenyum tipis. Inilah yang Lesyana ragukan dari hubungan Kara dan Frans. Pasangan yang pernah menikah dan bercerai, pasti memiliki alasan kuat kenapa mereka bisa bercerai. Kara dan Frans belum terlalu mengenal satu sama lain untuk membicarakan segalanya sementara Kara sudah mengharapkan hubungan yang serius.


Lesyana meregangkan pelukannya, lalu mengusap air mata Kara. “Sudah, jangan menangis. Kalau Frans benar-benar mencintaimu, dia pasti akan menikahimu, Kara. Tidak perlu menangisinya. Biarkanlah waktu yang menjawab semuanya,” ucapnya, menasihati sang cucu.


Kara menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan neneknya.


Keesokan harinya, Kara menjalani hari seperti biasa. Meski tak ada kabar dari Frans, dia terus berusaha untuk bersiap biasa saja sebab dia yakin kalau Frans benar-benar mencintainya, Frans pasti akan menghubunginya.




Tiga hari pun berlalu, Frans kian gelisah di kantornya. Tiga hari belakangan, Frans tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya karena memikirkan tentang Kara. Bahkan sudah tiga hari ini mereka masih juga belum berkomunikasi.

__ADS_1



Tok ... Tok ... Tok ....



“Masuk,” ucap Frans.



Pintu terbuka, memperlihatkan Aren yang baru saja tiba setelah tadi dihubungi oleh dua teman Frans yang sudah lebih dulu datang. Mereka membutuhkan dukungan dari Aren karena dari tadi, Frans tidak mau mendengarkan mereka.



Mereka berempat kini duduk di sofa. Frans menarik napasnya dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.




“Kara berkata jika dia ingin menikah,” jawab Frans.



Aren mengangkat sebelah alisnya. “Lalu, apa masalahnya? Kalau kau benar-benar mencintai Kara, ya, nikahi saja dia.”



Frans terdiam. Ini bukan tentang dia mau atau tidak mau. Tapi, lebih tentang traumanya dengan sebuah pernikahan. Dua kali memiliki hubungan yang kandas akibat kutukan yang menempel di dirinya, Frans takut kalau kutukan itu masih terus berlanjut kalau dia menikah dengan Kara nantinya.

__ADS_1



“Masalahnya Frans takut kalau kutukan itu masih ada,” sahut Peter yang bisa membaca apa yang ada pikiran Frans saat ini. “Padahal ... menurutku, kau seharusnya tidak menjadikan kutukan itu sebagai penghalang untuk bahagia.”



“Ini bukan lagi tentang aku, Peter. Tapi, tentang Kara juga. Aku takut kalau Kata nanti akan meninggalkanku,” balas Frans.



Baru kali ini pria itu merasa takut kehilangan seorang wanita. Padahal, dia dulu bisa dengan mudahnya melupakan mantan-mantan istrinya seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.



“Kalau Kara serius mencintaimu, dia tidak akan pernah meninggalkanmu, Frans. Percayalah padaku,” timpal Sean.



Frans menoleh ke arah sahabatnya yang itu, kemudian berkata, “Setelah menikah, Kara pasti ingin memiliki anak. Bagaimana dengan hal itu? Dengan kutukan yang menjeratku, aku mana bisa memiliki anak dengan Kara?”



Aren yang dari tadi hanya diam pun akhirnya membuka suara. “Lebih baik kau ceritakan semuanya kepada Kara, termasuk tentang kutukan itu, Frans. Kalau Kara tulus mencintaimu, maka dia akan menerimamu,” ujar Aren.



“Apakah kau yakin?”


__ADS_1


“Tentu saja! Kau tidak akan pernah tahu jawabannya kalau kau tidak mencobanya, bukan?”


__ADS_2