Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Tidak Keberatan


__ADS_3

Sepeninggal Frans, nenek Kara mulai bertanya-tanya mengenai keputusan Kara pada hubungannya dengan Frans. Tempo hari, Kara sempat bercerita kalau Frans adalah seorang duda. Hal tersebut tentunya langsung memenuhi kepala Lesyana. Bagaimana tidak? Kara menjalin hubungan serius saja belum pernah. Dan kini sekalinya berhubungan dengan seorang pria, dia malah mendapatkan seorang duda.


“Kenapa nenek diam saja?” tanya Kara kepada sang nenek.


Tadi, setelah mengantar Frans keluar, Kara langsung kembali ke lantai dua—lebih tepatnya ke kamar neneknya—sebab sekarang adalah saatnya Lesyana makan siang dan minum obat. Kara harus memastikan kalau neneknya tidak melewatkan hal tersebut dan justru malah mengganggu kesehatannya lagi.


“Kara, nenek sedang memikirkan ucapanmu tempo hari,” ucap Lesyana.


“Ucapanku yang mana?” tanya Kara sambil menyiapkan obat-obatan yang harus diminum oleh Lesyana.


“Tentang status Frans.” Lesyana meraih tangan cucunya, kemudian menggenggamnya. “Apakah kau benar-benar tidak mempermasalahkan status Frans yang ternyata adalah seorang duda?”


Kara menghentikan aktivitasnya, kemudian menoleh ke arah sang nenek. Dia mengerutkan dahinya. Tidak biasanya dia mendengar neneknya meragukan keputusan yang dia ambil.


“Nek, aku tidak mempermasalahkan itu semua. Bagiku, apa yang terjadi dengan Frans dan mantan istrinya adalah masa lalu Frans. Setiap orang pasti berubah menjadi lebih baik, Nek. Aku yakin sekali kalau Frans sudah belajar dari apa yang terjadi di masa lalunya,” terang Kara sambil tersenyum hangat.


“Kau yakin kalau kau tidak keberatan dengan status duda Frans?”


Kara menggeleng. “Selama kami saling mencintai, aku tidak akan mempermasalahkan hal semacam itu, Nek. Lagi pula, dari cerita yang aku dengar juga perpisahan yang dialami Frans bukanlah hal yang dia inginkan juga.”

__ADS_1


Lesyana mengangguk-anggukkan kepala. Wanita renta itu tidak menyangka kalau cucunya bisa bersikap dewasa dan bijak dalam menanggapi situasi yang mengekangnya. Lesyana merasa kalau dia telah berhasil dalam mendidik Kara.


“Lalu, apakah kau dan Frans berencana akan menikah?”


Mendengar pertanyaan neneknya, Kara lantas tersipu-sipu malu. Pipinya bahkan sudah memerah layaknya kepiting rebus saat membayangkan jika pertanyaan neneknya akan menjadi hal yang nyata.


“Meskipun aku dan Frans belum menjalin hubungan yang lama, sejujurnya aku ingin dinikahi oleh Frans. Tentu saja bukan karena hartanya, tapi karena aku benar-benar merasa dicintai setiap kali aku bersama dengan Frans,” terang Kara.


Lesyana tersenyum. “Apa pun itu, nenek akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Kara.”


*****


“Jorgie, aku benar-benar kesal dengan anakmu itu! Dia pikir dia siapa bisa-bisanya dia dengan lancang menjadi wali Aren dan membantu Aren untuk melamar gadis itu,” gerutu Lulla sambil melipat tangan di depan dada.


Mendengar cerita dari Lulla, Jorgie sebenarnya merasa kesal sebab Frans seolah melangkahinya dan membuat keputusan seenak hati padahal jelas-jelas Jorgie berkata kalau dia ingin mengetahui latar belakang gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri Aren itu.


“Tidak hanya dirimu yang kesal. Aku pun juga kesal sebenarnya dengan sikap Frans dan Aren. Tapi ....”


“Tapi apa?” tanya Lulla tidak sabaran.

__ADS_1


“Tapi, apa tidak sebaiknya kita kali ini mencoba untuk menerima pilihan Aren? Aku tidak mau Frans dan Aren sama-sama semakin menentang kita berdua,” ucap Jorgie.


Lulla terdiam, memikirkan ucapan Jorgie baik-baik. Apa yang diucapkan oleh Jorgie memang benar adanya. Namun, Lulla masih belum bisa kalau harus menekan egonya dan melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Jorgie.


Sementara itu, di sisi lain, Frans baru saja hendak menghubungi Aren ketika Aren sudah terlebih dahulu meneleponnya.


“Halo, Aren. Ada apa?” tanya Frans seraya memandang ke arah luar jendela ruang kerjanya.


“Frans, aku ingin segera menikahi Clara.”


“Aku tahu, Aren. Kau sudah melamar gadis itu dan dia menerima lamaranmu. Jadi, apa lagi yang kau tunggu?”


“Aku ingin pernikahanku dihadiri oleh orang tua kita, Frans. Aku tahu, ayah dan ibu belum bisa menerima Clara. Tapi, aku berpikir kalau mungkin saja kalau mereka sudah bertemu dengan Clara, maka mereka akan berubah pikiran,” jelas Aren.


Frans mengangguk meskipun Aren tidak bisa melihatnya. “Lalu, apa langkahmu selanjutnya?”


“Aku ingin memperkenalkan Clara kepada ayah dan ibu. Tapi, aku butuh bantuanmu untuk mendampingiku nanti. Apakah kau mau, Frans?”


Frans tersenyum tipis. “Tentu saja, Aren. Kau katakan saja kapan kita akan bertemu maka aku akan meluangkan waktuku.”

__ADS_1


__ADS_2