Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Datang Ke Kediaman Nielsen


__ADS_3

Seorang gadis yang baru saja keluar dari kediamannya membuat seorang pria yang menjemputnya tak bisa mengalihkan pandangan dari wajahnya yang ayu. Frans masih belum bisa mengedip sama sekali saat dia melihat penampilan Kara malam ini. Gadis itu dibalut dengan dress berbahan satin yang tampak sangat elegan. Riasan wajah dan rambut sederhana membuat aura kecantikannya semakin keluar.


Tadi, Frans memang menyuruh Kara untuk bersiap karena dia akan menjemput Kara. Namun, jauh di luar ekspektasinya, kini Frans justru jadi tidak mau pergi ke mana-mana selain memandang wajah cantik Kara. Tapi meskipun demikian, mereka tetap harus pergi sebab Frans sudah berjanji kepada Aren.


Frans membukakan pintu mobil untuk Kara. Setelah Kara masuk, Frans langsung duduk di balik kemudi dan melajukan mobilnya menuju ke kediaman orang tua Frans.


“Frans, kita akan pergi ke mana?” tanya Kara yang tidak tahu ke mana Frans akan mengajaknya pergi karena Frans memang tidak membahasnya saat mereka berbicara di telepon tadi sore.


“Kita akan pergi menemui orang tuaku,” jawab Frans.


Mendengar itu, Kara sontak menjadi gugup. Gadis itu bahkan tiba-tiba merasa tidak nyaman di tempat duduknya dan jantungnya berdebar-debar tak menentu. Memang betul dia mengharapkan hubungan yang serius dengan Frans. Tapi, kalau harus bertemu calon mertua, sepertinya Kara masih harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.


Frans yang menyadari rasa gugup yang dirasakan Kara lantas meraih tangan Kara dan menggenggamnya dengan tangannya yang tidak memegang kemudi.


“Frans, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan orang tuamu,” ungkap Kara dengan jujur.

__ADS_1


“Kau adalah kekasihku, Kara. Tetaplah menjadi wanita yang tegas, mandiri, dan berani seperti bagaimana aku mengenalmu sejak awal.”


Kara menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum. Selama perjalanan, gadis itu terus berusaha untuk mengendalikan perasaannya supaya tidak gugup.


Tak jauh di persimpangan jalan menuju ke kediaman Nielsen, mobil yang ditumpangi Aren dan Clara juga melaju. Mobil Aren dan Frans beriringan memasuki gerbang rumah Nielsen.


“Ada Aren dan Clara juga?” tanya Kara sebelum mereka turun dari mobil.


Frans mengangguk. “Aren ingin meminta restu untuk menikahi Clara. Jadi, sekalian saja aku akan memperkenalkanmu kepada orang tuaku,” jawab Frans.


Mereka berempat turun dari mobil lalu melangkahkan kaki menuju ke pintu utama kediaman Nielsen. Mereka tak perlu menunggu lama untuk pintu itu terbuka dan Lulla pun Jorgie menyambut kedatangan mereka.


“Frans? Aku tidak tahu kalau kau juga akan datang,” ucap Jorgie dengan grogi.


“Ya. Aku datang bersama kekasihku, Kara.” Frans menggenggam tangan Kara lalu kembali berkata, “Aren memintaku untuk mendampinginya jadi sekalian saja aku akan memperkenalkan kekasihku kepada kalian.”

__ADS_1


Lulla tersenyum kikuk. “Kalau begitu, ayo masuk,” ucapnya penuh rasa terpaksa.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Kara dan Clara dengan sopan memperkenalkan diri mereka kepada orang tua Aren dan Frans. Mereka pun memulai acara malam itu dengan makan malam bersama.


“Pa, kenapa semuanya jadi seperti ini? Kalau begini caranya, kita tidak akan bisa membuat pernikahan mereka batal,” bisik Lulla kepada Jorgie. Sebab posisi tempat duduk mereka agak berjauhan dari satu sama lain, Aren dan yang lain tidak akan bisa mendengar bisikan itu.


Jorgie menoleh ke arah sang istri. “Sudah, jangan membicarakan hal ini sekarang. Aku juga tidak tahu harus bagaimana saat ini,” tegur Jorgie.


Setelah acara makan malam selesai dan para pelayan sudah membereskan piring-piring kotor mereka, Aren mengambil kesempatan untuk mengutarakan keinginannya kepada orang tuanya.


“Dua Minggu dari sekarang, aku berencana untuk menikahi Clara,” ucap Aren dengan lantang.


Lulla menatap tajam ke arah Aren, memberikan kode kalau dia tidak setuju dengan rencana Aren. Namun, belum sempat Lulla berpendapat, Frans sudah mendahuluinya.


“Aku akan mendukung keputusanmu, Aren. Dan aku juga akan membantumu kalau kau memerlukan bantuan,” ucap Frans.

__ADS_1


“Aku juga akan membantu Clara kalau dia membutuhkan bantuan untuk persiapan pernikahannya,” sahut Kara sambil tersenyum ke arah Clara.


Mendengar itu semua, Lulla dan Jorgie hanya bisa terdiam sambil menahan rasa kesalnya.


__ADS_2