
“Pagi ini kita tidak langsung ke kantorku. Aku harus pergi ke kantor ayahku terlebih dahulu,” ucap Frans kepada sang sopir yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Sesuai janji Frans kepada Aren tadi malam, pagi ini juga dia akan menemui sang ayah untuk membicarakan tentang keinginan Aren untuk segera menikahi kekasihnya yang bernama Clara. Frans tidak mau menunda waktu lebih banyak lagi sebab dia tidak mau Aren kecewa padanya.
“Baik, Pak,” ucap sopir Frans. Setelah Frans masuk ke dalam mobil, dia menutup pintu mobil lalu mengitari mobil untuk masuk ke pintu kemudi.
Mobil yang ditumpangi Frans melaju dengan kecepatan sedang. Pagi ini, jalanan tak terlalu ramai sehingga mereka dapat sedikit bersantai. Jarak antara rumah Frans dengan perusahaan ayahnya lebih jauh dari jarak rumah Frans ke kantornya. Ia membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai di sana.
Begitu sampai, Frans turun dari mobil. Pria itu memandang ke arah gedung bertingkat yang berdiri kokoh di hadapannya sesaat, kemudian menghela napas. ‘Kalau bukan karena Aren, aku malas sekali pergi ke sini,’ gumam Frans dalam hati.
Frans berjalan menuju lobi kantor. Beberapa karyawan yang melihat kedatangan Frans menatapnya seolah Frans adalah objek aneh yang baru saja mendarat di permukaan Bumi. Tidak heran, sih. Sebab Frans hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan Jorgie semenjak dia memutuskan untuk pergi dari rumah beberapa tahun silam. Beberapa karyawan di perusahaan ini juga karyawan baru jadi mereka tidak tahu kalau Frans adalah putra pemilik perusahaan ini.
“Selamat pagi, Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis wanita, menyambut Frans.
“Apakah Pak Jorgie ada di ruangannya?” tanya Frans.
“Apakah Anda memiliki janji untuk bertemu dengan Pak Jorgie?” sang resepsionis balik bertanya seraya menelepon sekretaris Jorgie. “Siapa nama Anda, Pak?”
“Katakan saja padanya kalau Frans ingin bertemu. Dia pasti akan mengizinkanku masuk,” ujar Frans. “Jadi, di mana ruangannya?”
“Ruangan Pak Jorgie ada di lantai tiga puluh, Pak. Gunakan saja lift khusus yang berada di ujung kiri. Kata sekretarisnya, Pak Jorgie sudah menunggu Anda,” jelas petugas resepsionis.
“Terima kasih,” balas Frans sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Frans lantas pergi sesuai dengan arahan dari resepsionis. Lift khusus yang digunakan oleh Frans hanya memiliki tiga tombol yaitu untuk menuju ke lantai tiga puluh, lobi, dan basemen. Sepertinya yang menggunakan lift ini hanyalah petinggi perusahaan yang tidak perlu mondar-mandir ke lantai lain.
Sesampainya di lantai tiga puluh, Frans langsung pergi ke ruang kerja Jorgie. Tak perlu mengetuk pintu, Frans langsung masuk ke dalam.
Jorgie yang mendapati kehadiran Frans langsung berdiri dan menyambut sang putra. Jarang-jarang sekali Frans datang ke kantornya. Untuk itu pula dia merasa sangat senang dikunjungi oleh Frans.
“Frans, tumben sekali kau datang ke sini. Papa sangat senang karena kau akhirnya mau menginjakkan kaki di kantor ini,” sambut Jorgie kemudian mempersilakan Frans untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangannya untuk menyambut tamu.
“Pa, aku tidak ingin bertele-tele. Langsung saja pada intinya,” ucap Frans. Dia tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk berbincang-bincang tidak jelas dengan ayahnya. “Tujuanku datang ke sini karena aku ingin membicarakan tentang Aren.”
Jorgie mengerutkan dahinya samar. “Aren? Ada apa dengan saudaramu?” tanyanya bingung. Jorgie bertanya-tanya apakah ada hubungannya dengan kejadian tadi malam di mana Aren marah dengan Lulla yang menjelek-jelekkan Frans.
“Aren ingin menikah, Pa,” jawab Frans.
“Aren tidak pernah mengatakan apa-apa kepadaku. Apakah benar dia ingin menikah?” tanya Jorgie, masih ragu dengan ucapan Frans.
“Aren tidak pernah bercerita kepada Papa karena dia takut kalau Papa tidak akan merestui hubungannya dengan wanita yang dia cintai,” balas Frans sambil menaikkan sebelah alisnya.
Jorgie tertawa renyah. “Kau ini bicara apa, Frans? Papa mana mungkin tidak merestui hubungan Aren dengan kekasihnya. Yang terpenting wanita itu pantas untuk bersanding dengan Aren,” sanggah Jorgie.
“Itulah yang Aren takutkan, Pa. Aren takut kalau wanita itu tidak sesuai dengan ekspektasi Papa,” balas Frans.
Kekasih Aren yang bernama Clara itu bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Copenhagen. Pekerjaannya pun sudah tetap dan dia terbilang salah satu perawat yang diandalkan di rumah sakit. Namun, di mata Jorgie hal tersebut pasti belum cukup. Frans dan Aren sangat mengenal ayahnya. Mereka tahu kalau Jorgie pasti berharap kalau Aren akan menikah dengan salah satu anak konglomerat supaya tali bisnis mereka tak terputus.
__ADS_1
“Memangnya apa latar belakang wanita itu? Kalau dia berasal dari keluarga terpandang, Papa tentu akan langsung memberikan restu kepada mereka berdua,” ucap Jorgie.
“Dan kalau bukan?” tanya Frans dengan mata menyipit tajam.
“Aku butuh tahu latar belakang wanita itu terlebih dahulu sebelum memberikan restuku, Frans,” ucap Jorgie.
“Apakah latar belakang seseorang sangat penting untuk Papa?”
“Tentu saja, Frans. Aku tidak mau sampai salah langkah dan menikahkan putraku dengan wanita yang salah.”
“Pantas atau tidak itu subjektif, Pa. Apa yang Papa anggap pantas belum tentu pantas di mata orang lain, begitu pula sebaliknya,” ujar Frans. Dia mulai kesal karena ayahnya menanyakan tentang latar belakang kekasih Aren.
“Frans, kita ini dari keluarga terpandang. Jadi, wajar kalau Papa ingin tahu latar belakang wanita yang ingin dinikahi Aren,” balas Jorgie tak mau kalah.
“Jika latar belakang seseorang sangat penting untuk Papa. Lalu, kenapa Papa tidak melakukan hal yang sama terhadap diri Papa? Papa saja dulu menikahi istri kedua Papa tanpa mencari tahu latar belakangnya,” sindir Frans.
“Kenapa kau jadi membawa-bawa hubungan Papa dan istri kedua Papa?” tanya Jorgie kesal. Ucapan Frans menusuk Jorgie hingga ke ulu hatinya. Pria itu merasa tersinggung karena Frans membawa-bawa hubungannya dengan Lulla. Baginya, apa yang terjadi antara dia dan Lulla berbeda dengan apa yang terjadi kepada Aren.
“Karena Papa seharusnya melakukan seperti apa yang Papa katakan. Bukan malah menjadi pria hipokrit yang ingin menang sendiri,” ucap Frans lalu bangkit berdiri.
“Apa maksudmu, Frans?” Jorgie juga ikut berdiri. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Frans meskipun di dalam lubuk hatinya, dia merasa kalau ucapan Frans ada benarnya.
“Sekarang semuanya terserah padamu, Pa. Apa pun keputusanmu, selagi yang Aren inginkan tidak berbahaya maka aku akan selalu mendukungnya dan menghancurkan segala rintangan yang menghalanginya,” ujar Frans lalu pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya tanpa menunggu balasan dari sang ayah.
__ADS_1