Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Mendapat Dukungan Dari Frans


__ADS_3

“Aren, kau mau ke mana? Habiskan dulu makan malammu!” seru Lulla, namun Aren tidak mengindahkan ucapan ibunya sama sekali.


Dengan kesal Aren pergi ke kamarnya lalu mengunci diri di sana. Ia tahu kalau ibunya nanti pasti akan menyusul ke kamarnya, untuk itu pula dia memilih untuk menguncinya.


Meski hanya saudara tiri, Aren sangat menghargai Frans. Aren juga selalu menganggap Frans layaknya saudara kandungnya sendiri. Pria itu tidak pernah membenci Frans sepeti apa yang dilakukan oleh ibunya. Karena baginya, selama Frans tidak menyakitinya atau menyinggung perasaannya, tidak ada alasan untuk Aren membenci Frans.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Aren, buka pintunya!” ucap Lulla dengan lembut sembari mengetuk pintu kamar Aren. “Apakah kau marah karena ucapanku terhadap Frans?”


Seperti dugaan Aren, ibunya benar-benar menyusul ke kamarnya. Untung saja Aren sudah mengunci kamar sehingga Lulla tidak bisa sembarangan masuk seperti biasanya.


“Kenapa kau selalu membela anak kurang ajar itu, Aren?” tanya Lulla lirih. Dia tak ingin Jorgie mendengar ucapan negatif tentang Frans keluar dari bibirnya.


“Sudahlah, Ma. Aku mau istirahat. Sebaiknya Mama tidak usah menggangguku malam ini,” ucap Aren dengan tegas.


Mendengar perkataan putranya, dengan kesal Lulla pergi dari depan kamar Aren. Dengan langkah yang dientak-entakkan Lulla kembali ke ruang makan untuk melanjutkan makan malamnya dengan Jorgie. Lulla merasa kesal sekali sebab ini bukan pertama kalinya Aren membela Frans. Bahkan setiap kali Lulla mengatakan hal negatif tentang Frans maka Aren akan membela Frans.


“Bagaimana, Ma? Apakah Aren masih marah?” tanya Jorgie, menyambut kedatangan Lulla.


Lulla menghela napasnya. “Apakah aku sudah salah bicara, Pa?” tanya Lulla dengan wajah penuh sesal, meski sejujurnya dia mengatakan hal tersebut hanya untuk mencari muka di depan Jorgie.


“Ya, mungkin.” Jorgie mengedikkan bahunya. Pria itu memilih untuk bersikap netral dengan tidak berada di pihak Lulla atau pun Aren dan Frans. “Biarkan Aren menenangkan diri dulu. Besok pasti dia sudah tidak marah lagi,” ucapnya untuk menenangkan sang istri.


Lulla menghela napasnya. “Semoga saja, ya, Pa.”

__ADS_1


Di sisi lain, Aren membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke langit-langit kamarnya. Pria itu tidak habis pikir dengan sang ibu. Kenapa ibunya bisa sebegitu bencinya dengan Frans padahal Frans tidak pernah berbuat jahat kepada Lulla. Jika alasan Lulla karena harta kekayaan Jorgie, sepertinya Lulla tak perlu membenci Frans sekarang sebab Frans sudah hidup mandiri dan memiliki perusahaan sendiri. Tapi, setelah segalanya, kenapa Lulla masih saja membenci Frans?


Aren bangkit duduk, kemudian mengambil ponselnya yang terletak di nakas dekat tempat tidurnya. Pria itu lantas menghubungi Frans untuk mengadukan apa yang tadi terjadi di meja makan. Meski saudara tiri, bukan berarti Aren akan diam saat Frans dijelek-jelekkan seperti tadi.


“Halo, Aren? Ada apa?”


Frans yang baru saja sampai di rumah mengerutkan dahinya tatkala mendapati sebuah panggilan masuk dari saudara tirinya. Pria itu meregangkan dasinya, lalu berjalan perlahan meniti anak tangga menuju ke lantai dua rumah mewahnya.


“Frans, ibuku berkata kalau kau tidak sopan karena kemarin kau meninggalkan pesta tanpa pamit,” adu Aren kepada Frans. “Tapi, tentu saja aku tidak setuju dengan ucapan ibuku karena aku tahu kau tidak seperti apa yang ibuku katakan.”


Mendengar hal tersebut, Frans terkekeh kecil. “Aren, kau tidak perlu repot-repot membelaku di depan ibumu. Aku tidak ambil pusing dengan apa yang dia katakan, Aren,” ujar Frans.


Frans sudah terlalu terbiasa dengan sikap ibu tirinya yang tidak menyukainya. Jadi, hal-hal semacam ini bukan hal baru lagi bagi Frans. Bahkan Lulla pernah memperlakukannya jauh lebih buruk dari ini. Jadi, mendengar ucapan negatif Lulla tidak ada artinya bagi Frans.


“Aren, tidak perlu rendah diri. Kau juga memiliki potensi yang besar. Kau hanya perlu jam terbang yang lebih lama dan menambah banyak pengalaman baru supaya kau bisa semakin berkembang ke depannya,” balas Frans. “Apakah kau meneleponku hanya untuk mengadu?”


Di seberang telepon, Aren tertawa renyah. “Aku sudah tidak betah tinggal di rumah, Frans. Aku ingin menikah,” ucap Aren gamblang.


“Usiamu sudah cukup matang untuk menikah, Aren. Kalau kau memang sudah ingin menikah, lakukan saja,” ujar Frans.


Meskipun Frans tidak memiliki kenangan yang indah tentang pernikahan, bukan berarti dia akan menyarankan saudara tirinya supaya tidak menikah. Lagi pula, di luar sana banyak sekali orang-orang yang bahagia dengan pernikahannya. Hanya karena Frans tidak memiliki kenangan indah, bukan berarti hal yang sama akan terjadi dengan Aren.


“Tapi, aku masih ragu, Frans,” ucap Aren.


Frans membuka pintu kamarnya lalu duduk di tepi ranjang. “Apa yang membuatmu ragu, Aren?” tanyanya.

__ADS_1


“Kau tahu sendiri bagaimana kehidupan gadis yang ingin aku nikahi. Dia jauh dari kata kaya. Aku takut Mama dan Papa tidak memberikan restu mereka terhadap hubungan kami,” keluh Aren lalu menghembuskan napas lelah.


“Aren, dari mana kau tahu kalau Papa dan ibumu tidak akan merestui hubungan kalian? Apakah mereka pernah bertemu dengan kekasihmu sebelumnya?” tanya Frans. Pria itu menggulung lengan panjangnya hingga ke siku.


“Entahlah, Frans. Ini hanya firasatku saja. Aku banyak mendengar ucapan teman-teman ibuku tentang bibit, bebet, bobot, setiap kali aku tidak sengaja bertemu saat mereka sedang berkumpul. Aku takut ibuku juga memiliki pemikiran yang sama seperti mereka,” jelas Aren, menyampaikan rasa takutnya.


“Tapi, Papa tentu tidak akan berkata seperti itu, ‘kan?” tanya Frans.


“Papa pernah berkata padaku jika dia berharap aku bisa mendapatkan wanita yang pantas untukku,” jawab Aren.


“Pantas atau tidak pantas itu relatif. Tergantung dari bagaimana kita memandang sesuatu. Kenapa kau tidak mencoba untuk mengenalkan kekasihmu kepada Papa? Siapa tahu Papa mau merestuimu,” ucap Frans.


“Aku takut, Frans.” Aren menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas. “Aku takut Papa akan kecewa dengan gadis pilihanku. Tapi, di sisi lain aku juga sangat mencintainya. Aku tidak mau menikah dengan wanita lain.”


Frans menghela napasnya. “Baiklah, aku akan mencoba untuk membujuk Papa. Aku akan datang ke kantor untuk menemui Papa,” ucap Frans.


“Benarkah, Frans?” tanya Aren antusias.


“Tentu saja. Dan kalau saja Papa masih belum mau memberikan restunya kepada kalian, maka aku yang akan mewakili ayah untuk melamar gadis itu untukmu,” ucap Frans.


“Frans, kau tidak sedang bercanda, ‘kan?”


“Tentu saja tidak.”


“Kalau begitu kapan kau akan pergi menemui Papa?” tanya Aren tidak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2