
Kara perlahan berjalan mundur seiring dengan Aren yang mulai muncul dari tempat persembunyiannya sambil membawa kotak beludru yang berisikan cincin untuk melamar Clara.
“Aren ....”
Ucapan Clara terhenti ketika melihat Aren berlutut di depannya sambil membuka kotak beludru tadi dan menanyakan sebuah pertanyaan yang pastinya akan membuat gadis mana saja terbang ke langit ke tujuh.
“Clara, hari-hari setelah aku mengenalmu terasa sangat indah. Bahkan, aku merasa sangat bahagia setiap kali aku bersama dengan dirimu. Meski terkadang aku cukup menjengkelkan dan membuatmu kesal, tapi kau selalu saja berhasil untuk menenangkan aku. Aku benar-benar beruntung karena memiliki wanita seperti dirimu.” Aren menarik napas dalam-dalam. “Untuk itu, aku ingin menanyakan satu hal penting dan aku ingin kau menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Clara, will you marry me?”
Clara menutup tangannya dengan sebelah tangan, tak dapat berkata-kata lagi setelah mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aren. Gadis itu merasa sangat terkejut tapi juga bahagia karena dilamar oleh pria yang tak lain adalah kekasihnya tersebut. Dia tidak menyangka kalau alasan Aren menghilang dua hari belakangan adalah karena Aren ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya.
Tanpa ragu Clara pun menganggukkan kepala dengan antusias. Gadis itu lantas berkata, “Tentu saja aku mau, Aren. Aku mencintaimu,” ucap Clara.
Aren meraih tangan Clara, lalu memasangkan cincin di jari manis gadis itu. Setelahnya, Aren berdiri dan mencium Clara dengan lembut untuk mengutarakan kebahagiaannya.
“Yeay! Selamat, Aren, Clara!” seru Kara.
__ADS_1
Kara, beberapa teman Aren, dan Frans lantas mengucapkan selamat kepada Aren dan Clara. Sebagai saksi acara lamaran tersebut, mereka merasa senang melihat Clara dan Aren telah resmi bertunangan.
Meski berada di tempat yang sama, Kara sebetulnya dari tadi mencoba untuk mengabaikan eksistensi Frans di dana. Gadis itu bahkan tidak menyapa Frans sama sekali padahal beberapa hari yang lalu dia masih dengan cerianya menyapa Frans dan mengajak pria itu mengobrol. Oh, dan jangan lupakan kalau Clara sempat tak sengaja mencium pipi Frans.
Kara yang merasa tugasnya sudah selesai lantas pergi dari sana, meninggalkan Clara dan Aren yang saat ini sedang di ambang kebahagiaan. Sementara Frans yang menyadari sikap aneh Kara pun menyusul gadis itu dan mencegatnya saat Kara hendak menyetop taksi.
“Kara!” panggil Frans sembari menahan tangan Kara, membuat gadis tersebut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Frans.
“Ada apa, Frans?” tanya Kara, masih mencoba untuk mengontrol diri supaya tidak kembali tertarik kepada Frans sebab Kara merasa jika dirinya tidak akan pernah pantas bersanding dengan pria seperti Frans.
“Kenapa sikapmu sangat aneh malam ini?” tanya Frans kebingungan.
“Biasa saja, ah,” kilah Kara.
“Sikapmu aneh malam ini, Kara. Kau seperti sedang menghindar dariku.”
__ADS_1
“Tidak, Frans.” Kara menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara supaya dadanya tak terasa sesak saat dia harus mengingkari perasaannya terhadap Frans. “Tidak ada yang berbeda dengan sikapku. Lagi pula, ini semua bukan urusanmu, ‘kan? Di antara aku dan dirimu tidak ada hubungan apa-apa selain sebatas kenal saja. Jadi, untuk apa aku menghindar darimu?”
Mendengar jawaban Kara membuat Frans merasa semakin kesal. Frans berdecap pelan lalu menarik tengkuk Kara dan mencium gadis itu dengan lembut. Sudah berhari-hari Frans tidak berhenti memikirkan gadis itu, tapi Kara malah mengatakan hal yang membuatnya kesal.
Setelah puas mencium Kara, Frans lantas melepaskan ciumannya dan kembali menanyakan tentang sikap Kara.
“Semua tentang dirimu adalah urusanku, Kara. Kenapa kau menghindariku?”
“Kau ini kenapa, sih? Apakah kau gila?” tanya Kara kebingungan dengan sikap Frans.
“Ya, aku memang gila semenjak aku jatuh cinta kepadamu,” celetuk Frans, membuat Kara membulatkan matanya.
“Apa? Kau ....” Kara terbata, bingung untuk menyusun kata-kata setelah mendengar pernyataan Frans yang begitu mengejutkan. “Kau ... Menyukaiku?”
“Iya, Kara. Aku menyukaimu dan hal itulah yang membuatku seperti orang gila.” Frans meraih tangan Kara, lalu menggenggamnya. “Aku tahu kita baru saja mengenal satu sama lain. Tapi, aku benar-benar menyukaimu dari sejak pertama kali aku melihatmu.”
__ADS_1
“Frans ....”
“Apakah kau mau menjadi kekasihku, Kara?”