Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Kembali Membawa Buah Hati


__ADS_3

Waktu tidak pernah berjalan lebih cepat bagi Kara. Dua tahun yang berat telah berlalu di mana dia harus menjalani hidup yang penuh perjuangan dan pertahanan diri. Ya, dia menahan diri untuk tidak mengkhianati keputusannya sendiri dan berlari pulang menuju rumahnya, Frans. Tapi, logika memaksanya kembali. Dia yakin akan selalu ada waktu untuknya dan Frans untuk bersatu, dan yang perlu dia lakukan sebelum itu adalah menjaga buah hati mereka.


Saat ini, Kara berdiri di rumah yang dulu menjadi sarang cintanya bersama Frans sambil mendorong kereta bayi yang cukup besar. Di dalamnya ada dua anak kembar berusia tujuh belas bulan yang sedang bermain dengan mainan ramah anak yang Kara berikan. 



Wajah Kara memucat ketika melihat rumah hangat yang dulu dia tinggali kini berubah menjadi dingin dan tidak terurus setelah baru dua tahun dia tinggalkan. Halaman yang dulu penuh bunga dan tanaman hias kini kosong dan tandus. Sementara cat putih yang dulu berkilau sekarang tampak kusam dan berdebu, pertanda tidak ada yang mengurusnya. Tapi, melihat kaca jendela yang bersih, dia yakin masih ada yang tinggal di sini. 



Tak lama setelah Kara mengamati rumah lamanya, suara mesin yang akrab datang dari belakangnya, membuatnya menoleh. Kedua matanya berbinar ketika melihat mobil milik Frans memasuki halaman rumah. Dia ingin berlari menghampirinya, tapi, kembali mengingat ada kereta bayi yang harus dia jaga di sini. “Frans!” Dia hanya bisa memanggilnya dengan penuh kerinduan ketika melihat pria yang dicintainya akhirnya berada di hadapannya saat ini, bukannya hanya dalam mimpi sebagaimana tiap malam dia melihatnya selama dua tahun terakhir.



Frans membeku ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Itu adalah wanita yang dia cintai, wanita yang mengkhianatinya dan pergi meninggalkannya dua tahun lalu. Walaupun begitu, tidak pernah tidak sekali pun dia berhenti merindukannya. Tanpa sadar kakinya melangkah ke depan. “Kara.” Dia bisa melihat Kara juga melangkah ke depan. Saat mereka akhirnya berhadapan, Frans baru melihat ada sebuah kereta bayi di antara mereka. DIa mengerutkan kening.



Kara tidak bisa menahan senyumnya. Dia melihat Frans akhirnya sadar dengan kereta bayi di depannya. “Frans, ini anak kita. Mereka kembar!” ujarnya sambil menahan tangis. “Aku sudah bilang kutukan itu hanya omong kosong belaka, Frans!”



“Tidak,” gumam Frans, menatap Kara dengan sorot tidak percaya. Dia melangkah mundur dalam keterkejutan. Kedua matanya segera berubah penuh rasa sakit, terarah pada wanita yang dia cintai di hadapannya. “Mustahil keduanya adalah anakku! Aku tidak bisa punya anak! Kau benar-benar mengkhianatiku, Kara? Bagaimana kau bisa?” tanyanya dengan suara lirih dan sedih.



Kara melebarkan matanya, segera menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Tidak, Frans! Ini anak kita! Kau harus percaya! Aku tidak mungkin mengkhianatimu, Frans. Aku mencintaimu!” Dia tidak pernah menduga bahwa suatu hari Frans akan benar-benar mengiranya hamil dengan orang lain. Bagaimana bisa dia berpikir seburuk itu tentang dirinya?


__ADS_1


Frans tersenyum sinis. “Kau bisa meninggalkanku begitu saja tanpa kata dua tahun lalu. Bagaimana aku bisa percaya padamu?” Dia tidak pernah merasa seterpuruk ketika ditinggalkan oleh Kara dua tahun lalu. Dia melewati hari-harinya dengan rasa sakit dan kerinduan pada wanita yang meninggalkannya. Sungguh miris.



“Aku minta maaf karena pergi tanpa memberi tahumu! Aku takut tidak bisa melindungi anak kita, Frans! Aku pergi untuk melindungi buah hati kita dan untuk membuktikan bahwa kutukanmu itu tidak ada. Sekarang, lihat. Ini anak kita berdua, Frans! Aku mohon kau harus percaya padaku! Dua tahun terakhir juga berat untukku. Tidak pernah sehari pun aku tidak merindukanmu. Kumohon, Frans,” pinta Kara dengan tangisan yang menyayat hati. 


Bukan hal mudah untuk tinggal sendiri dan merawat dua anak kecil. Berkali-kali Kara ingin menyerah, tapi, dia menahannya hanya untuk melihat kebahagiaan Frans. Dia tidak pernah tahu kalau suaminya telah begitu salah paham selama dua tahun terakhir.


“Lebih baik kau pergi sekarang, Kara. Aku tidak ingin melihatmu,” ujar Frans memalingkan muka sebelum melangkah memasuki rumah tanpa menoleh. Mengabaikan tangisan Kara yang membuat hatinya bertambah sakit. Tapi, meski dia ingin meraih wanita tersebut dalam pelukannya, Frans hanya mengepalkan tinjunya dan terus melangkah ke depan.



Kara menatap nanar pada punggung Frans yang semakin menjauh kemudian menghilang dari pandangannya. Tanpa sadar dia mengingat fragmen memori di rumah Nenek, bagaimana dia telah merencanakan kepergiannya sejak saat itu.




“Ada apa, Kara? Katakan saja, jangan ragu-ragu, Sayang,” balas Nenek saat melihat cucu perempuannya tampak ragu untuk mengatakannya.



“Nek, aku berpikir kutukan Frans itu tidak ada. Aku yakin itu hanya omong kosong, Nek. Tapi, aku juga curiga bagaimana dua mantan istri Frans bisa mengalami keguguran adalah karena rencana jahat seseorang.” Kata membasahi bibir bawahnya. Perasaan di dadanya saat ini sangat campur aduk. 



“Jadi, maksudmu ada seseorang yang selalu ingin mencelakakan calon anak Frans untuk membuat kutukan itu nyata?” Nenek bertanya dengan keterkejutan yang tampak jelas di wajahnya. Dia tidak pernah berpikir aka nada manusia yang sekejam itu. Meskipun yang di dalam perut masih berupa janin, tetap saja itu adalah kehidupan manusia!


__ADS_1


“Ini masih dugaanku, Nek. Dan aku menduga jika yang melakukan itu adalah orang yang berada di dekat Frans.” Kara menggenggam tangan neneknya. Dia juga takut dengan tebakannya sendiri. Jika dugaannya benar, orang itu pasti sangat kejam dan menakutkan.



“Jika itu benar, sungguh kasihan Frans. Dia harus melewati rasa sakit berkali-kali kehilangan anaknya dan dianggap terkutuk oleh orang lain, bahkan keluarganya,” balas neneknya dengan mata berkaca-kaca. Kehidupan yang dijalani Frans memang sangat menyedihkan.



“Karena dugaanku itu, Nek. Aku merasa harus pergi sementara waktu hingga yakin bahwa buah hatiku dan Frans bisa hidup dengan sehat,” katanya dengan mata yang meyakinkan. “Aku ingin semua orang tahu jika kutukan itu tidak pernah nyata, Nek.”



Nenek balas menggenggam tangan Kara dengan erat. Dia tahu kehidupan orang terpandang tidak akan mudah, dia tidak pernah mengira cucu perempuannya akan menjalani kehidupan tersebut saat ini. Tapi, sebagai seorang nenek, dia hanya ingin kebahagiaan Kara dan mendukung setiap keputusannya. “Nenek mengerti. Jadi kau akan pergi?”



“Iya, Nek. Aku ingin Nenek tidak khawatir ketika aku tiba-tiba menghilang suatu hari nanti. Seperti kataku, aku akan pergi untuk menjaga buah hatiku dan Frans, serta membuktikan bahwa kutukan itu tidak pernah nyata.” Kara tersenyum, kedua matanya memancarkan harapan yang tidak tersembunyi. Dia memimpikan kebahagiaan yang sempurna bersama Frans dan anak mereka.



Nenek pun ikut tersenyum melihatnya. “Apa pun yang terjadi nenek akan mendukungmu, Kara. Tapi, kau harus berjanji untuk menjaga dan merawat dirimu sendiri di masa depan. Jika itu terlalu berat, kau bisa kembali ke rumah Nenek kapan saja.” Tangan keriputnya membelai rambut gelap cucu perempuannya, Kara.



“Terima kasih, Nenek,” balas Kara sambil memeluk neneknya.



Kembali ke kenyataan, Kara menatap rumah di hadapannya dengan senyum mencela diri sendiri. Dia menghapus air matanya sebelum berbalik pergi bersama kedua anaknya.

__ADS_1


__ADS_2