Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Ingin Menikah


__ADS_3

Suasana kediaman keluarga Nielsen kian memanas setelah Aren dan Frans pergi. Begitu dua mobil yang dikendarai oleh Aren dan Frans dengan masing-masing pasangan mereka melaju, Lulla tak berhenti mengomel dan mengumpat dengan kesal. Wanita paruh baya itu terus mengungkapkan rasa tidak sukanya kepada keputusan yang telah diambil oleh Aren untuk menikahi gadis pilihannya.


“Aku tidak habis pikir kenapa Aren sangat bersikeras untuk menikahi gadis itu? Selama ini aku selalu mencoba untuk mengenalkan Aren kepada putri rekan-rekan kerja kita. Tapi, tidak ada yang membuatnya tertarik sedikit pun,” gerutu Lulla sambil mengusap wajahnya dengan frustrasi.


Jorgie mengedikkan bahunya. “Ya, mau bagaimana lagi? Sepertinya kita tidak bisa membujuk Aren untuk membatalkan pernikahannya dengan gadis itu,” balas Jorgie asal.


Jorgie yang awalnya juga tidak setuju dengan pernikahan Aren entah kenapa sedikit berubah pikiran setelah dia melihat bagaimana Aren dan Clara menatap satu sama lain. Dia bahkan bisa melihat ada ketulusan cinta di antara mereka berdua. Sudah lama sekali Jorgie tidak melihat orang yang saling menatap dengan cara seperti itu. Bahkan dulu saat Frans menikah pun, dia bisa merasakan kalau Frans tidak benar-benar mencintai mantan istrinya. Tapi, dengan Aren? Dia bisa merasakan kalau Aren sangat mencintai Clara.


Lulla melirik ke arah Jorgie dengan tatapan tak suka. “Apakah kau sekarang ada di pihak mereka? Kau juga tadi tidak berkata apa-apa untuk melarang Aren menikahi gadis itu,” ucap Lulla, marah dengan sikap Jorgie.


“Lulla ....”


“Aku tidak rela kalau sampai Aren menikah dengan wanita biasa. Dia itu putraku, dia harus mendapatkan wanita yang sederajat dengan kita!”


Mendengar amarah Lulla, lama-lama Jorgie tidak tahan juga. Pria itu bangkit berdiri, lalu menatap Lulla dengan kesal.


“Lulla, cukup! Apakah kau tidak ingat kalau kau sebelum menikah denganku adalah wanita biasa yang terus-menerus merayuku supaya aku mau menikah denganmu?!” sentak Jorgie, membuat bibir Lulla otomatis terkatup rapat-rapat.


Tak mendapat balasan dari Lulla, Jorgie pun memilih untuk meninggalkan istrinya. Pria itu melangkahkan kakinya menuju ke kamar almarhumah ibu Frans. Meski terlihat dingin, sebetulnya Jorgie menyimpan penyesalan yang mendalam karena telah menyakiti ibu Frans sampai akhir hayat wanita itu. Dan meskipun waktu terus bergulir, Jorgie tahu kalau dia tidak akan pernah bisa menghilangkan perasaan itu.




Di sisi lain, Kara tampak lebih banyak diam dan cenderung melamun sepanjang perjalanan menuju ke kediamannya. Gadis itu bahkan tak terlalu menanggapi ucapan Frans dan terkadang tidak mendengarkannya.



“Kara, kau kenapa melamun?” tegur Frans, membuat Kara tersadar dari lamunannya.

__ADS_1



Gadis itu menoleh, lalu menggigit bibir bawahnya. Ragu apakah dia harus mengutarakan apa yang ada di kepalanya atau tidak.



“Ayo, ceritakan saja apa yang mengganggu pikiranmu,” ucap Frans lagi. “Aku tidak akan menggigitmu, Kara.”



“Aku hanya merasa iri kepada Clara,” jawab Kara sambil menundukkan kepalanya. Dia enggan untuk menatap Frans sebab dia tidak berani melihat reaksi Frans atas ucapannya.



“Memangnya kenapa?”




Frans menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi, karena hal itu kau melamun dari tadi?” tanya Frans, masih belum sepenuhnya menangkap makna tersirat dari ucapan Kara.



Kara menggigit bibir bawahnya lagi. Dia ingin sekali menanyakan tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka, namun di sisi lain Kara juga merasa kalau dia tidak ingin terlihat terburu-buru sebab mereka baru menjalin hubungan.



“Frans, apakah kau mencintaiku?” celetuk Kara tiba-tiba. Ucapan yang keluar dari bibirnya kali ini benar-benar di luar kendalinya. Bibirnya spontan saja mengatakan hal itu saat dia mendengar tanggapan Frans.

__ADS_1



Sementara Frans yang mendengar itu langsung menginjak rem dan menghentikan mobilnya di tepi jalan secara mendadak, membuat Kara terkejut dan memegangi dadanya.



“Pertanyaan macam apa itu, Kara? Sudah jelas kalau aku ini mencintaimu. Apakah kau tidak bisa merasakannya?” tanya Frans dengan kesal.



“Aku bisa merasakannya, Frans, sungguh. Tapi ...”



“Tapi, apa? Kau juga ingin menikah seperti Clara?”



Kara terkekeh pelan. “Memangnya di dunia ini ada wanita yang tidak mau menikah setelah dia menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai, Frans?” Gadis itu menoleh, lalu menoleh ke arah Frans. “Apakah kau memiliki niat untuk menikah denganku, Frans?”



Frans terdiam.



Tanpa mengatakan sepenggal kata pun, Frans kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, kesunyian menyelimuti mereka berdua. Bahkan hingga sampai ke tempat tujuan, Frans masih terdiam.


__ADS_1


Kara pun sama. Gadis itu keluar dari mobil tanpa mengatakan apa-apa. Kara masih menunggu Frans untuk memberinya jawaban. Akan tetapi, pria itu justru hanya diam dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan dirinya. Hal itu tentu saja membuat Kara merasa sangat kecewa.


__ADS_2