
Orang bilang kebahagiaan pernikahan sejati adalah ketika kedua pasangan dalam pernikahan saling mencintai satu sama lain dengan tulus. Saat ini kebahagiaan itu yang sedang dirasakan Frans dan Kara. Delapan bulan sudah mereka berstatus sebagai pasangan suami dan istri, tidak ada sehari pun berlalu tanpa kebahagiaan akan cinta mereka yang saling memiliki.
Namun, pada suatu pagi Kara mengetahui sesuatu yang mungkin akan mengubah kehidupan pernikahannya. Saat itu, setelah sarapan bersama, Frans pergi bekerja ke perusahaan. Sementara Kara sendirian di rumah dan mengeluarkan alat tes kehamilan. Selama ini dia selalu menghindari obat anti kehamilan dan melakukan tes kehamilan mandiri secara diam-diam. Dia berharap bisa meyakinkan Frans bahwa kutukan itu tidak ada lalu hidup bahagia bersama buah hati mereka.
Tes kehamilan yang biasanya menunjukkan hasil negatif, tiba-tiba hari itu menunjukkah hasil yang sebaliknya. Kara positif hamil. Dia tercengang di depan kaca kamar mandi sebelum kemudian tersenyum cerah. “Terima kasih, Tuhan!” ujarnya dengan air mata yang merembes di pipinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berusaha untuk meyakinkan Frans yang selalu defensive pada topik kehamilan setelah ini.
Frans kembali ke rumah ketika langit hampir gelap. Dia mengucapkan selamat tinggal pada sopirnya lalu melangkah memasuki rumah, sarang cintanya bersama Kara. Saat akan mengambil minum di dapur, dia terkejut ketika melihat ruang makan yang sudah dihias dengan lilin dan bunga yang indah, sangat romantis. Di atas meja juga sudah ada masakan-masakan dengan aroma lezat yang membuat perutnya semakin terasa lapar. Maklum saja, dia punya banyak pertemuan hari ini, menyebabkan jam makan siang dan porsi makanannya berkurang. Saat ini dia hanya menyadari seberapa kelaparan dirinya. “Ada apa ini Kara?” tanyanya sambil memeluk wanita yang masih sibuk menata peralatan makan di meja.
“Aku memasak makan malam kali ini! Cepat bersihkan dirimu lalu turun ke bawah untuk makan malam,” perintah Kara dengan senyum yang tidak hilang dari bibirnya. Dia tidak bisa memungkiri perasaan bahagia yang bertahan sejak mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Baginya, ini adalah kado terindah dari Tuhan setelah pertemuannya dengan Frans, pria yang saat ini sangat dicintainya.
“Baiklah. Tunggu aku. Aku akan cepat.” Frans bergegas menuju kamar tidur mereka. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Kara tampak sangat bahagia hari ini. Apa pun itu dia juga merasa bahagia untuknya. Jadi, dia harus bergegas dan merasakan masakan lezat Kara.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan yang nyaman, Frans segera turun ke bawah. Makan malam di antara keduanya berjalan dengan harmonis. Frans dan Kara mengobrolkan banyak hal dan tertawa bersama. Ketika berdua, Kara dan Frans seolah tidak akan kehabisan kata dan bisa mengobrolkan apa saja. Hal yang sederhana pun akan menjadi topik yang menyenangkan jika diobrolkan berdua. Mungkin karena mereka cocok atau karena perasaan cinta yang membuat keduanya terus merasa bahagia jika bersama.
Ketika makanan di kedua piring akan habis, Kara akhirnya berdehem, bersiap mengutarakan apa yang dia rencanakan sejak siang tadi. “Seorang teman sekolahku tadi bercerita padaku. Dia tiba-tiba hamil dengan pacarnya padahal sudah minum pil dan menggunakan pengaman.” Dia menatap suaminya yang masih fokus dengan piring tanpa memberi tanggapan.
“Bagaimana, bagaimana jika hal itu terjadi padaku, Frans? Aku hanya bertanya, tapi, bagaimana jika aku hamil?” tanyanya dengan sorot mata penuh antisipasi, menatap Frans. Dia takut tapi juga berharap Frans bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang berbeda dari sebelumnya. Dia harap suaminya tersebut akan berubah pikiran, meskipun mustahil berubah dalam satu malam. Dia hanya ingin mendapatkan sedikit harapan dari jawabannya.
Frans mengangkat pandangannya, balas menatap Kara yang duduk tepat di hadapannya. “Kita sudah pernah membicarakan ini, Kara. Sesuai dengan kesepakatan kita, kau harus menggugurkannya.” Dia membasahi bibir bawahnya, tampak kesusahan ketika melihat sorot mata istrinya yang tampak sedih. Dia ingin menggenggam tangan Kara tapi wanita itu dengan cepat menghindar. Helaan napas lolos dari bibir Frans.
“Baiklah,” jawab Kara dengan suara rendah. “Aku tidak enak badan. Aku akan kembali ke kamar dulu.” Dia bangkit dari kursi lalu pergi tanpa menatap Frans sama sekali. Tentu saja, dia akan mencoba meyakinkan suaminya tersebut lagi, tapi, untuk saat ini dia tidak bisa menahan kekecewaan yang melandanya. Dia butuh waktu sendiri.
Frans menatap punggung wanita yang dicintainya semakin jauh dan hanya bisa menghela napas dengan sedih. Dia tidak punya pilihan.
__ADS_1
Setelah itu beberapa kali Kara bertanya dan membujuk agar Frans mengubah keputusannya mengenai kehamilan yang mungkin datang tiba-tiba, tapi, pria tersebut sangat keras kepala. Biasanya suaminya tersebut kerap menoleransi dan menyetujui apa pun yang dia inginkan. Sayang sekali, hal itu tidak berlaku untuk masalah ini. Mau tak mau Kara takut jika Frans tahu dan memaksanya untuk menggugurkan kandungannya.
Satu-satunya tempat bagi Kara untuk menceritakan hal yang terjadi padanya adalah Nenek. Dia rutin mengunjungi neneknya sejak pernikahan mereka dengan Frans. Mereka tinggal terpisah sebab keengganan Nenek untuk mengganggu kehidupan rumah tangga mereka. Nenek juga lebih suka tinggal di rumahnya dengan damai. Kara sedih dan tidak rela tapi sebagai gantinya dia hanya bisa mengunjungi Nenek sering-sering, hampir setiap hari.
Kara menceritakan kehamilannya kepada Nenek. Seperti dirinya, Nenek juga sangat bahagia ketika tahu. Tapi, neneknya juga takut jika kutukan Frans akan terjadi dan menyuruh Kara untuk lebih berhati-hati. “Jangan berjalan-jalan atau bepergian sendiri. Kalau perlu kamu tidak perlu mengunjungi nenek sering-sering,” ucapnya tampak khawatir.
Kara tertawa ringan. “Kenapa Nenek berlebihan. Tidak akan ada yang terjadi Nek.” Dia percaya bahwa tidak ada yang Namanya kutukan pada diri Frans. Tapi, dia juga tahu Nenek hanya mengatakan itu karena terlalu mengkhawatirkannya, jadi, Kara tidak akan berdebat dengannya.
“Nenek juga berdoa untuk itu, Kara,” jawab wanita tua tersebut sambil menghela napasnya sedih. Menyesali kenapa harus ada masalah kutukan yang mengikuti cucu dan cucu mantunya. Padahal keduanya saling mencintai dan merupakan pasangan yang sempurna. Andai mereka benar-benar bisa memiliki buah hati, kebahagiaan mereka akan lebih lengkap.
Kara terdiam seolah memikirkan sesuatu. Dia menggigit bibir bawahnya ringan, tampak ragu. Menatap Nenek di hadapannya, dia pun membuka bibirnya dan mulai berbicara, “Nek, aku memiliki sesuatu penting yang harus kukatakan padamu.”
__ADS_1
Lesyana–neneknya terlihat begitu penasaran sata melihat wajah serius Kara, sebab tak biasanya Kara terlihat begitu serius seperti sekarang. "Katakan, ada apa?" tanyanya.