
‘Untuk apa aku merasa tidak suka? Aku bahkan tidak mengenal gadis itu,’ gumam Frans dalam hati kemudian menolehkan kepalanya ke depan.
“Kita pergi ke kantor sekarang,” ucapnya kepada sang sopir. Tak berselang lama kemudian, mobil yang dia tumpangi melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Copenhagen.
Frans menggeleng-gelengkan kepalanya, sadar akan tingkah konyolnya dan berusaha untuk melupakan Kara. Lagi pula, mereka hanya bertemu sekali dan kemungkinan mereka untuk bertemu kembali sangatlah kecil. Frans tidak mau memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Terlebih lagi, Frans juga telah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin berhubungan dengan seorang perempuan mengingat bagaimana kutukan yang telah menempel pada dirinya.
Sementara itu, di sisi lain Kara tersenyum kepada salah satu pegawai pria di kafe milik keluarganya. Ada tiga pegawai di sana. Satu wanita dan dua pria. Dua pria itu bekerja untuk melayani pelanggan, si wanita bertugas di dapur, sementara Kara bertugas di belakang meja kasir meski kadang kali Kara juga ikut turun tangan untuk bekerja di dapur dan melayani pengunjung kafe.
“Hai, bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kau sudah benar-benar sehat?” tanya Kara kepada salah satu pegawainya yang bernama Dave.
Pegawai yang saat ini mengobrol dengan Kara sudah dua hari tidak berangkat bekerja karena sakit. Maka dari itu Kara menyapanya dan memastikan keadaannya hari ini. Bagi Kara, kesehatan dan keselamatan pegawainya adalah hal yang utama. Jadi, dia tidak masalah kalau pegawainya tidak dapat datang bekerja karena sedang sakit.
“Kabarku baik. Dua hari tidak melakukan apa-apa di rumah membuatku rindu untuk bekerja,” balas Dave sambil tersenyum lebar.
Kara terkekeh geli. “Baiklah, kalau begitu selamat bekerja kembali, Dave. Tapi, ingat, kalau kau masih sakit kau bilang saja padaku,” ujar Kara sambil melipat tangan di depan dada.
“Siap, Bos!” seru Dave sambil mengangkat tangannya seolah sedang melakukan hormat.
Tanpa keduanya sadari, gesture akrab dari mereka berdua telah membuat seseorang yang berada di luar kafe berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih. Ya, orang itu tak lain dan tak bukan adalah Frans.
Dave pun kembali bekerja seperti biasanya. Sebab Dave sudah kembali bekerja, Kara bisa sedikit agak santai sebab dia kini hanya perlu bekerja di balik meja kasir.
Di sela-sela waktu luangnya, entah kenapa bayangan tentang apa yang terjadi tadi malam kembali menghantui Kara. Lagi dan lagi memori gadis itu memutar kejadian di mana seorang pria mau menolongnya. Kara tidak tahu siapa pria itu namun dia sama sekali tidak bisa melupakannya, seolah pria itu memiliki daya tarik tersendiri bagi Kara.
__ADS_1
“Kara, kenapa kau melamun?” tanya sang nenek yang barusan turun ke kafe dan mendapati cucunya tengah duduk sambil menatap kosong ke arah komputer.
Kara tersentak dari lamunannya lalu menoleh ke arah sang nenek. “Ah, aku tidak apa-apa, Nek. Aku hanya merasa sedikit mengantuk karena tadi malam pulang sangat larut,” kilah Kara, menyembunyikan apa yang sebetulnya ada di dalam pikirannya.
“Kalau kau memang masih lelah, biarkan Nenek saja yang bekerja hari ini,” ucap nenek Kara.
“Nenek, tidak usah. Aku hanya perlu minum kopi sedikit maka aku akan cepat segar lagi,” balas Kara sambil terkekeh kecil.
Neneknya memang kerap kali membantu pekerjaan di kafe. Namun, mengingat usia renta sang nenek, Kara tidak mau membiarkan neneknya bekerja seharian sampai kehabisan tenaga. Dia tak mau neneknya jatuh sakit akibat kecerobohannya. Terlebih lagi, hanya nenek yang Kara miliki di dunia ini.
“Ya sudah, kalau begitu Nenek akan meracik kopi spesial untukmu,” ucap sang nenek sambil berjalan menuju ke mesin pembuat kopi.
“Terima kasih, Nek,” balas Kara sambil tersenyum hangat.
Meskipun hidup hanya berdua, Kara merasa sangat bersyukur sebab memiliki nenek yang sangat perhatian dan pengertian. Gadis itu bahkan merasa tak perlu kesepian karena tidak adanya kehadiran orang tua sebab sang nenek selalu bisa menghibur hatinya. Karena hanya hidup berdua, mereka juga dapat belajar untuk saling menyayangi dan melindungi.
“Selamat pagi, Pak,” sapanya. “Anda memiliki tamu di depan ruangan Anda, Pak,” ucapnya untuk memberitahukan kepada Frans jika seseorang tengah menunggu Frans di ruang kerjanya.
“Tamu? Memangnya aku memiliki janji rapat pagi ini?” tanya Frans tidak mengerti karena seingatnya dia tidak memiliki janji dengan klien pagi-pagi begini.
“Tidak, Pak. Aku juga tidak tahu siapa dia tapi dia bersikeras jika dia mengenal Anda dan ingin bertemu Anda,” jelas sang karyawan.
“Baiklah kalau begitu aku akan memeriksanya sendiri,” ucap Frans lalu masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Lift yang ditumpangi Frans membawa Frans naik ke lantai tertinggi gedung bertingkat itu. Sebagai pemimpin perusahaan, banyak sekali karyawan yang menunduk hormat ketika mereka masuk ke dalam lift yang sama dengan Frans.
Begitu tiba di lantai paling atas di mana ruang kerjanya berada, tatapan Frans berubah kesal saat dia melihat siapa yang telah menunggunya. Pria itu dengan malas berjalan menghampiri wanita itu.
Wanita yang telah menunggu Frans adalah Claudia. Gadis yang semalam Frans ajak pergi ke pesta perusahaan ayahnya. Frans tidak tahu apa yang wanita itu lakukan di sini karena seingatnya perjanjian mereka sudah selesai. Tapi, kini dia justru mendapati wanita itu duduk di sofa ruang tunggu yang berada di depan ruang kerjanya. Konsep ruang tunggu itu melingkar dan terbuka dengan dua meja sekretarisnya di tiap sisinya.
“Hmm.”
Suara deheman Frans membuat wanita itu menoleh dan sontak berdiri saat melihat Frans sudah berdiri di depannya. “Frans,” sapanya.
“Apakah tadi malam asistenku lupa membayarmu?” tanya Frans tanpa basa-basi. Dia mengajak Claudia pergi ke pesta dengan imbalan. Dia hanya ingin memastikan jika Claudia sudah mendapatkan imbalan itu jadi dia tidak perlu berurusan dengan Claudia lagi.
“Ah, sudah. Aku sudah menerimanya,” jawab Claudia.
“Lalu, kenapa kau sekarang ada di sini?” tanya Frans dengan satu alis terangkat.
Frans yang merupakan tipe pria penyendiri dan tertutup tidak suka jika area pribadinya disentuh oleh sembarang orang, meski orang itu adalah mantan istrinya sekali pun.
“Semalam kau meninggalkanku begitu saja di pesta tanpa mengantarku pulang sama sekali,” ucap Claudia.
Frans mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. “Well, secara teknis aku meminta sopirku untuk mengantarmu pulang,” balas Frans.
“Apakah seperti itu sikap dari seorang gentleman?” sindir Claudia.
__ADS_1
“Aku tidak punya tanggung jawab untuk melakukan hal-hal yang kau tuntut dariku karena aku sudah membayarmu,” balas Frans. “Lagi pula aku punya urusan mendadak. Lebih baik kau pergi sekarang karena aku sibuk.”
Sebab Claudia terus mengomel dan protes dengan sikap Frans, Frans yang sudah tak tahan pun memanggil dua petugas keamanan yang sedang melintas untuk membawa Claudia keluar dari kantornya secara paksa.