Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Meminta Restu


__ADS_3

Semenjak kedatangan Aren, Peter, dan Sean di kantornya, Frans tak henti-henti memikirkan tentang ucapan mereka bertiga. Memiliki trauma masa lalu yang pahit membuat Frans sedikit banyak kehilangan rasa percaya dirinya. Tak heran jika Frans belum berani untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Kara. Kehilangan istri memang mungkin adalah hal yang berat. Namun, Frans juga berkali-kali kehilangan calon buah hatinya. Hal tersebut tentu tak akan pernah sembuh meski berkali-kali dia mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut lagi.


Setelah hampir satu Minggu tidak menemui Kara, akhirnya hari ini Frans kembali datang untuk menemui Kara. Saat itu, Kara hendak mengunci pintu kafe ketika dia mendapati Frans sudah berdiri di depan pintu kafenya. Dua perasaan kontradiksi langsung bergerilya di hati Kara, yaitu perasaan senang dan kesal. Kara merasa senang karena dia akhirnya bisa melihat wajah Frans kembali. Tapi, dia juga merasa kesal sebab Frans tidak memberinya kabar sama sekali.


“Frans ....”


“Kara, bisakah kita berbicara?” tanya Frans.


Kara menganggukkan kepalanya lalu mundur beberapa langkah supaya Frans bisa membuka pintu. Setelah Frans masuk, Kara mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku di kafe. Kebetulan sekali koki dan pelayan kafe Kara sudah pulang jadi dia tidak akan ada yang bisa menguping pembicaraan mereka nantinya.


“Ke mana saja kau beberapa hari terakhir ini?” tanya Kara, enggan menatap mata Frans.


“Beberapa hari ini aku sedang berpikir.”

__ADS_1


“Berpikir tentang apa? Tentang apakah kau akan melanjutkan hubungan ini atau tidak setelah pertanyaan konyolku tempo hari?” tanya Kara lagi, meluapkan kekesalannya.


Frans menghela napasnya, kemudian meraih tangan Kara dan menggenggamnya. Hal tersebut sontak membuat Kara menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.


“Aku datang ke sini untuk menjelaskan semuanya.” Frans menatap lurus ke arah dua iris mata Kara. “Sebenarnya, ada sesuatu hal yang membuatku diam malam itu. Bukan karena aku tidak mau menikah denganmu. Aku ingin, ingin sekali. Namun, aku justru takut kalau kau akan meninggalkanku setelah kita menikah.”


“Frans, aku tidak mengerti. Apa maksudmu?” tanya Kara seraya menaikkan sebelah alisnya.


“Kau tahu, saat aku kecil dulu, ada seorang peramal yang berkata jika aku mendapat kutukan yang membuatku tidak akan bisa memiliki keturunan,” ujar Frans, memulai ceritanya. “Istri pertamaku meninggal dunia saat dia tengah mengandung anak kami. Aku awalnya berpikir jika itu semua tidak ada hubungannya dengan kutukan itu. Tapi, apa yang terjadi dengan istri keduaku membuatku berpikir.”


“Istri keduaku mengalami keguguran saat mengandung anakku. Dan karena dia tahu tentang kutukan itu, dia akhirnya marah besar dan memilih untuk bercerai denganku,” jelas Frans.


Kara menutup mulut dengan sebelah tangannya, tidak menyangka jika alasan Frans berpisah dengan mantan-mantan istrinya karena hal itu. Awalnya, Kata pikir Frans dan mantan istrinya bercerai karena memang tidak menemukan kecocokan dan kebahagiaan setelah menjalani sebuah bahtera rumah tangga. Tapi, ternyata Kara salah.

__ADS_1


Tanpa sadar satu tetes air mata Kara jatuh membasahi pipinya ketika dia mendengar cerita Frans. Kini, dia mengerti tentang trauma yang mungkin saja ditanggung oleh Frans.


“Saat kau bertanya apakah aku ingin menikahimu, tentu saja aku ingin berkata iya. Namun, kutukanku membuatku berpikir. Aku takut kalau kau meninggalkanku setelah kau tahu tentang kutukan ini,” terang Frans.


“Oh, Frans ....” Kara menarik Frans ke dalam pelukannya dan menangis sambil memeluk Frans. Dia tidak menyangka hal seburuk itu bisa terjadi kepada Frans. Seharusnya kau tahu kalau aku tidak mungkin meninggalkanmu. Detik di mana aku memilih untuk menjadi milikmu, aku akan menerima kekurangan dan kelebihanmu.”


“Apakah kau mau berjanji untuk tidak meninggalkan aku?”


Kara meregangkan pelukan mereka lalu mengangguk. “Aku janji, Frans.”


Frans kini dapat bernapas lega. “Apakah nenek sudah tidur? Aku ingin bicara dengan nenek juga.”


Kara pun mengajak Frans ke lantai dua untuk menemui neneknya. Di sana, Frans dan Kara menceritakan tentang apa yang tadi diceritakan oleh Frans. Lesyana mengangguk paham dengan ketakutan yang dirasakan oleh Frans.

__ADS_1


“Nek, aku ingin meminta restu nenek untuk menikah dengan Kara. Apakah nenek bersedia memberikan restu kepada kami?”


Lesyana tersenyum lebar. “Ya, tentu saja nenek akan memberikan restu kepada kalian,” jawabnya.


__ADS_2