Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Menikah


__ADS_3

Satu bulan dari pernikahan Aren dan Clara, akhirnya pernikahan Frans dan Kara digelar. Mereka sama sekali tidak menunda-nunda waktu sebab dua-duanya sudah siap untuk membangun sebuah rumah tangga bersama. Restu Lesyana sudah berada di tangan mereka. Untuk orang tua Frans, Frans tidak peduli. Yang penting dia sudah mengirim undangan agar mereka datang. Itu sudah lebih dari cukup bagi Frans sebab dia malas kalau harus beradu pendapat dengan ibu tirinya.


Upacara dan pesta pernikahan Frans dan Kara diadakan di Byoasen. Frans sengaja memilih tempat itu sebab Kara berkata jika dia ingin memiliki pernikahan outdoor dengan banyak bunga yang mendekorasi tempat tersebut. Jadilah Frans memilih Byoasen yang memiliki taman luas dengan bunga warna-warni di sana.


Pesta pernikahan Frans dan Kara diadakan secara meriah dengan tamu yang hampir mencapai lima ratus orang. Semua orang turut bahagia tak terkecuali dengan Jorgie yang diam-diam tersenyum bangga saat Frans sedang melakukan upacara pernikahan.


Di satu sisi, Lulla yang juga hadir di acara pernikahan Frans justru malah memanas-manasi Clara supaya Clara bisa segera mendapatkan momongan. Dia tidak ingin Aren kalah dari Frans tentang masalah ini juga.


“Clara, kau dan Aren tidak sedang menunda untuk memiliki anak, bukan?” tanya Lulla kepada Clara.


Clara menggeleng. “Tidak, Ma. Aku dan Aren memang memiliki rencana untuk memiliki anak setelah kami menikah,” jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Bagus.” Lulla tersenyum miring, lalu merebut segelas sampanye dari tangan Clara. “Jika kau ingin segera hamil, kau tidak boleh sering-sering minum. Pokoknya kau harus segera hamil,” ucapnya.


Clara menyipitkan mata, sedikit curiga dengan ibu mertuanya yang akhir-akhir ini selalu mendesak Clara untuk segera hamil. Padahal, dari awal Lulla tidak pernah merestui hubungan Aren dan Clara. Tapi, tiba-tiba saja setelah ia mendengar kalau Frans akan segera menikah, dia langsung mendekati Clara dan menyuruh Clara untuk segera hamil.


Sementara itu, Kara dan Frans kini berdiri di depan dan bersiap untuk melemparkan bunga. Orang-orang dengan semangat berdiri di belakang mereka, bersiap untuk menangkap buket bunga. Dan ... Hop! Bunga itu mendarat tepat di tangan Peter padahal Peter saja tidak berusaha untuk berebut.


Sorak sorai terdengar riang sebab mereka tahu kalau Peter pasti akan menggerutu setelah mendapatkan buket bunga tersebut. Diiringi dengan kembang api yang meletup ke udara, Frans dan Kara berlari keluar dari venue kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah siap untuk menjemput mereka berdua.


Frans terkekeh. “Tenang saja, setelah ini kau bisa beristirahat.”


Setelah mobil melaju sekitar lima belas menit, mereka berhenti di sebuah tempat di mana helikopter pribadi Frans sudah menunggu. Frans dan Kara lantas naik ke dalam helikopter yang akan membawa mereka ke tempat bulan madu.

__ADS_1


Karena akan menempuh perjalanan yang sangat jauh dari Kopenhagen ke Fiji. Kebetulan sekali Frans memiliki pulau pribadi di Fiji jadi dia memilih Fiji sebagai destinasi bulan madu mereka. Frans ingin bukan madunya dengan Kara menjadi momen yang spesial, sakral, dan intim. Frans tidak mau ada orang asing yang mengganggu kenyamanan bulan madu mereka nanti.


Setelah berjam-jam mengudara dan sempat melakukan transit, mereka akhirnya tiba di pulau pribadi Frans. Kini mereka sedang dalam perjalanan dari tempat pendaratan ke rumah mewah Frans yang berada di dekat pantai.


Sepanjang perjalanan, Kara benar-benar terpana dengan pemandangan di sekelilingnya. Sejauh mata memandang, Kara bisa melihat pepohonan dan siluet biru laut. Langit biru pulau tropis pun tak mau kalah untuk menyambut kedatangan Kara dan Frans.


“Pulau ini indah sekali. Tapi, kenapa sangat sepi?” tanya Kara.


“Pulau ini memang pulau pribadiku. Aku tidak ingin wisatawan asing masuk ke sini. Jadi, yang tinggal di sini hanyalah penduduk asli pulau ini saja supaya keindahan pulau ini tetap terjaga,” jelas Frans.


Kara mengedipkan matanya berkali-kali, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia lantas bertanya untuk memastikan, “Pulau ini adalah milikmu?”

__ADS_1


“Well, sekarang menjadi milik kita karena milikku adalah milikmu juga,” jawab Frans, membuat rona merah terlukis di pipi Kara.


__ADS_2